Senin, 27 Maret 2017

BE PART OF US!

BBM Naik, Sopir Angkot Menjerit

Dipublish pada: Rabu, 05 November 2014

Rencana pemerintahan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, meresahkan pengusaha, terutama dari Organda serta anggota PHRI Kota Malang. Meski BBM belum naik, restoran sudah merasakan dampak kenaikan bahan makanan. Yang paling merasakan dampaknya nanti adalah usaha transportasi publik. Pasalnya, bila kenaikkan harga BBM benar-benar dilakukan, otomatis membuat tarif angkutan masal ikut naik, Ngalamers.

Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Malang Raya, Rudy H Soesamto mengatakan, "bila tarif angkutan masal naik, harga angkutan masal ikut naik, penumpang nanti justru berkurang," ujarnya. Prediksi sementara, presentase kenaikan tarif angkutan masal sama dengan presentase kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 3.000 atau sekitar 46 persen. Artinya, harga BBM bersubsidi akan meningkat dari Rp 6.500 menjadi Rp 9.500. Sementara tarif normal mikrolet di Kota Malang sampai saat ini, sebesar Rp 3.000.

Dengan kata lain, kenaikan tarif mikrolet di Kota Malang bila BBM naik diprediksi mencapai Rp 4.380."Tapi belum tentu, kenaikkan tarif mikrolet nanti akan dibahas sendiri bersama Pemkot dan beberapa pihak terkait," tandas Rudy. Menurutnya, pelaku usaha angkutan masal tidak akan semudah itu menaikkan tarifnya. Pertimbangannya, bila tarif angkutan masal dinaikkan, akan berdampak ke jumlah penumpang.

Rudy melanjutkan, terlebih pada mikrolet dengan kualitas fisik yang buruk, rata-rata mikrolet di Kota Malang menggunakan kendaraan yang berusia di atas dua puluh tahun. "Sudah kualitas tidak baik, harga mahal, siapa nanti yang mau naik mikrolet. Akibatnya, jumlah pengguna kendaraan pribadi meningkat dan rawan macet," tegasnya.

Selain mikrolet, dampak kenaikan tarif juga dirasakan oleh pelaku usaha bus dan taksi. Di Kota Malang sendiri, tarif taksi premium sekali buka pintu Rp 7.000 dan 4.700 per kilometer. Sedangkan taksi regular Rp 5.000 sekali buka pintu dan Rp 3.600 per kilometer. Kalau bus, ditentukan oleh PO masing-masing.

Bagi Dirut PT Citra Perdana Kendedes ini, pemerintah lebih baik mengalokasikan BBM bersubsidi ke angkutan masal. Selain itu, peremajaan transportasi masal juga perlu digiatkan. Dengan begitu, masyarakat bisa beralih ke transportasi publik dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. "Manfaatnya, kemacetan di jalan bisa berkurang seiring berkurangnya jumlah kendaraan pribadi di jalanan," pungkasnya.

Sementara itu Dinas Perhubungan Kota Malang memastikan tarif angkutan umum ikut naik seiring kenaikan harga BBM. Hanya saja sampai kemarin siang belum ditentukan jumlah  kenaikan tarif angkutan umum. “Biasanya Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Jatim mengirim surat sebagai pedoman kenaikan. Setelah itu kita akan membahas. Tapi sampai sekarang belum mendapat pemberitahuannya,” jelas Kepala Dinas Perhubungan Kota MAlang, Wahyu Setianto.

Wahyu mengatakan, penentuan tarif pasca kenaikan harga BBM yang ditentukan Pemkot Malang yakni tarif angkot dan taksi. Sedangkan tarif bus ditetapkan oleh pemprov. Kendati belum menentukan kenaikan tarif, Wahyu mengatakan para pengemudi angkutan mulai bertanya kepada pihaknya. Hal itu terungkap dalam dialog rutin  antara Dinas Perhubungan dengan perwakilan pengemudi dan pemilik  bus, angkot dan  taksi. “Mereka sudah tanyakan tentang kenaikan tarif. Tapi kita masih menunggu kepastian kenaikan harga BBM dan pemberitahuan dari pemerintah pusat mau pun pemprov,” tandas Wahyu

Sumber : malang-post

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

BEAUTY AND THE BEAST    
12:30  15:05  17:40  20:15
    
POWER RANGERS    
13:00  15:35  18:10  20:45    


KOMENTAR

PARTNERS