Minggu, 26 Maret 2017

BE PART OF US!

Merayakan Malam Purnama ala Kampung Dhamar

Dipublish pada: Kamis, 09 Maret 2017

Meski hujan, Festival Padhang Mbulan #2 tetap digelar di gubuk baca. Bersama puluhan anak Kampung Anyar, seniman dan para pegiat di GBLN. Sabtu, 14/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Jika sesuai skenario, seharusnya ini adalah akhir pekan yang seru bagi Dimas, Bokir, Rama, Iman, dan puluhan rekan seusianya (SD) di Gubuk Baca Kampung Dhamar, Jabung.

Sabtu, (14/01/2017) kemarin adalah waktunya Festival Padhang Mbulan kedua. Artinya: di bawah cahaya bulan dan ratusan dhamar (lampu) warna-warni, mereka bermain slodoran, engklek, bek thor, krupuk' an, egrang di jalanan berpaving yang tak begitu luas.

"Ya tapi mau bagaimana lagi, hujan. Daripada dimarahi ibunya, anak-anak kami ajak kesini. Monggo merapat, seadanya," sambut Rudin mempersilakan halomalang yang datang bersama beberapa seniman Malang dan pegiat Gubuk Baca Gang Tatto untuk bergabung dengan puluhan anak-anak Dusun Kampung Anyar, Sukolilo.

Sejumlah seniman Malang dan Nawak Gang Tatto GBLN berkolaborasi musik dengan anak-anak Kampung Dhamar. Sabtu, 14/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Rudin adalah salah satu pegiat di Gubuk Baca Kampung Dhamar. Di sebuah bilik sederhana berukuran 4x3 meter di samping rumahnya, mereka berbagi kehangatan dengan menyanyikan lagu. Beberapa bermain dakon. Ketika kami datang, bait terakhir lagu Indonesia Tanah Air Beta telah mereka selesaikan.

"Selamat malam adik-adik, masih semangat kan? Ini ada om-om yang mau nyanyi. Siapa yang mau bantu?," tanya Bejo Sandy, salah satu seniman performing art yang hadir malam itu. Dengan sigap, salah satu anak meraih alat musik dari bambu. Tak mau kalah, Rama mulai menaruh sebilah Karinding di mulutnya. Seolah sebagai komposer, Mukti, yang datang bersama Nawak Gang Tatto (Reyza, Lucas, Kampret, dkk) membuka giliran mereka. Dari 'Ujung Aspal Pondok Gede' Iwan Fals, lagu 'Padhang Mbulan', hingga 'Kabar Damai'-nya Anto Baret. Kolaborasi apik, gitar, harmonika dan Karinding ala Jabung.

Tak lama kemudian, sekelompok muda-mudi lain dari TPQ yang tak jauh dari Gubuk Baca Kampung Dhamar bergabung. Kopi, dan aneka snack disuguhkan tetangga dengan gratis. Tapi, empat nama yang disebut di awal tulisan ini beringsut pergi: bermain egrang, meski hujan belum ada tanda-tanda reda. Ya itulah anak-anak.

Ilustrasi bulan purnama. (Foto: Halomalang)

"Festival Padhang Mbulan, biar kita nggak ngumpul aja mas. Digelar tiap tanggal 15 (purnama) bulan Jawa. Anak-anak diajak main dolanan tradisi. Hiburan sekaligus melestarikan," ujar David Prasetyo, pegiat di Kampung Dhamar lain menemani Dimas dkk bermain egrang. Sekadar catatan, properti yang dipakai di Festival Padhang Mbulan adalah kreasi anak-anak Kampung Dhamar, termasuk lampion berwarna kuning yang menerangi gubuk malam itu. "Tapi lampu-lampu hiasnya pijam dari Pak Irul (GBLN)," terangnya.

Menurutnya, di lingkungan Dusun Kampung Anyar, Sukolilo - Jabung memiliki banyak anak muda, dan sangat aktif. Kegiatan di gubuk baca yang didirikan pada Desember 2016 lalu ini mendapat dukungan positif dari masyarakat. "Orang tua mereka nggak bingung lagi, kalau anaknya nggak di rumah, ya pasti di gubuk," imbuhnya.

Ada sekitar 30an anak yang bergabung di gubuk baca yang tergabung dalam Gubuk Baca Lentera Negeri (GBLN) ini Ngalamers. Berawal dari nongkrong, dan rasa empati melihat semangat anak-anak seusia SD di Kampung Anyar untuk belajar adalah awal mulanya.

Iman, Rama, Bokir, Dimas tetap bersemangat meski hujan. Mereka ditemani David Prasetyo (kanan) untuk bermain egrang. Sabtu, 14/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Kita dulu ngemper, pindah-pindah belajarnya sekitar satu bulanan. Lalu ada usulan bikin gubuk. Biayanya swadaya. Semuanya belajarnya juga sama Pak Irul," jelas pemuda yang piawai membuat lampion ini.

Setiap ide, harus disertai tanggung jawab. Dijalankan. Itulah yang menjadi kekuatan dalam komunitas ini kata David. Setiap hari, seusai pulang sekolah hingga waktu ashar (mengaji), mereka belajar di gubuk. Meski dengan kondisi yang dibilang 'seadanya' tersebut, apa yang diajarkan, dan siapa pengajarnya sudah terjadwal dengan baik.

Gubuk Baca Kampung Dhamar juga menerima donasi buku bacaan jenis apapun dan alat permainan tradisional, Ngalamers.

"Anak-anaknya belajar keterampilan bikin egrang, bakiak dan lain-lain. Untuk yang agak dewasa tiap Senin berlatih musik. Selasa sholawatan. Rabu diskusi tentang cara menghargai perbedaan," pungkas Rudin.

Gubuk Baca Kampung Dhamar berada di Jl. Raya Sukolilo,Dsn. Kampung Anyar, RT 05/ RW 01, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

[WA]

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

BEAUTY AND THE BEAST    
12:30  15:05  17:40  20:15
    
POWER RANGERS    
13:00  15:35  18:10  20:45    


KOMENTAR

PARTNERS