Selasa, 27 Juni 2017

BE PART OF US!

Mercon Bumbung dan Rencana Kampung Jam Bermain Anak

Dipublish pada: Senin, 19 Juni 2017

Meski bertambah usia, cowok tetap butuh waktu bermain :D. Ngabumbungrit di halaman Balai Kota Among Tani, Batu. Jumat, 14/06/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Halaman Balai Kota Among Tani begitu riuh dari biasanya kala Jumat sore, (16/06/2017). Dua area besarnya penuh aktivitas. Musisi reggae mengisi ngabuburit di area taman catur, sementara di depan Gedung Pancasila terdapat bazaar Ramadhan dan puluhan meriam mini dari bambu yang dinyalakan menjelang maghrib.

Dentumannya memantul, mengisi ruang-ruang kosong di Alun alun kedua Kota Batu ini. Dan tentu saja, 'kekosongan' semenjak gawai canggih mengisi kegiatan anak-anak muda Batu.

"Event merconan ini kali pertama. Ini adalah kampanye kita di Dolang (Dolanan Malangan) untuk melestarikan mercon bumbung, permainan tradisional yang kian ditinggalkan," terang Ilham Adillia Uya, ketua pelaksana NgaBumbungRit, parade mercon bumbung kepada halomalang.

Aman. Ibu-ibu ini juga bermain mercon bumbung, menemani sang buah hati. Jumat, 14/06/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Ada puluhan partisipan, dari usia SD hingga bapak-bapak. Semuanya asyik mengikuti tahapan proses, mulai dari workshop membuatnya hingga menyalakan bumbung ini. "Ada bambu petung, apus, juga Jawa. Apus seratnya cukup bagus, tidak terlalu tebal," sambung Uya.

Dari segi keamanan, menurutnya cukup aman karena menggunakan bahan bakar minyak tanah, bukan karbit yang bisa membuat bambu cepat pecah. "Menunggu panas, ditiup, lalu disumet (dinyalakan) dengan api. Beberapa mungkin 3-4 kali percobaan baru berhasil. Ujian ramadhan," Uya berseloroh.

Tak hanya mencari suara terkuat atau sekadar ngabuburit, bagi Uya dan beberapa peserta Mercon Bumbung berarti nostalgia. Usia kebanyakan di atas 25 - 40an. "Dulu sebelum 1995-1996, ketika Ramadhan, anak-anak (di Batu/Malang) pasti bermain mercon. Entah siang, sore atau malam tidak mengenal waktu," ingatnya detail.

Uji nyali! Lihat ekspresi bapak ini..,. Jumat, 14/06/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Waktu siang di kala itu, artinya 'nylimur' atau mengalihkan fokus anak-anak ketika berpuasa dengan kegiatan lain. Waktu sore untuk menunggu adzan maghrib. Sedangkan malam untuk bersenang-senang. Semuanya berangsur berubah ketika mercon/petasan dengan bahan serbuk kimia kian digandrungi. Ledakannya bisa lebih keras, tapi dampak buruknya juga menghantui: sampah kertas, korban ledakan. "Akhirnya dilaranglah oleh aparat keamanan (petasan dengan serbuk kimia), hal ini berimbas pada mercon bumbung. Padahal tidak terkait sama sekali," Uya menyayangkan. "Anak-anak banyak yang takut ditangkap, ya mereduplah,"

Tapi pukulan telak sebenarnya ada di era 5 tahun belakangan. Era smartphone, era sosial media. Generasi Z. "Hampir tidak ada anak-anak yang tidak bisa main smartphone. Games, sosial media, itulah jamannya sekarang. Aksesnya begitu mudah, tidak membutuhkan proses seperti membuat mercon bumbung,"

Uya juga menjelaskan filosofi apa di balik Mercon Bumbung ini Ngalamers. "Di jaman Belanda ini sebagai media perjuangan. Untuk mengelabui penjajah, khususnya di daerah Jawa,"

Menjelang adzan Magrib, seluruh mercon peserta NgaBumbungrit dinyalakan bersamaan. Salah satu pesertanya adalah Jojo Omar, bocah keturunan Belanda tinggal di Desa Sumberjo, Kecamatan Batu. Jumat, 14/06/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Di kawasan Batu (Lereng Arjuno) dan Malang Kabupaten (Pujon) yang mayoritas agraris, sebagian penduduknya hingga sekarang masih menggunakan mercon bumbung untuk mengusir hama, seperti Monyet, Burung atau Babi Hutan. Tak harus membunuh/melukai, tapi efektif mengusir.

Komunitas Dolanan Malangan aktif semenjak satu tahun terakhir. Anggotanya tak hanya dari Batu, tapi juga dari wilayah Malang. Mercon Bumbung ini hanya salah satu permainan tradisional yang kembali mereka 'hidupkan'. Engklek, Egrang, omah-omahan dan banyak lagi juga menjadi bahan.

Sains dan praktik. Dua hal yang disebut Uya tengah dilakukan Dolang. Para anggota/sukarelawan melakukan pengamatan dan pengumpulan database permainan tradisional Malangan yang sudah hilang, atau yang menuju ke arah itu.

Alun alun ke-2 Kota Batu. Karena cukup 'terbuka', Balai Kota Among Tani jadi ruang publik favorit masyarakat Batu untuk menggelar beragam event, atau sekadar menikmati suasana. Jumat, 14/06/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

"Ini ada temen Komunitas Pemain Cadangan, mereka driver wisata sekaligus pelestari permainan tradisional di kampung mereka, databasenya masuk ke Dolang, lalu kita praktikkan,"

Dalam waktu dekat, Dolang berencana membuat Kampung Jam Bermain Anak di wilayah Kota Batu. Uya tak menyebutkan detail lokasinya, namun pihaknya terbuka bagi siapapun yang ingin berpartisipasi untuk mewujudkan rencana ini. "Ini pilot project di salah satu kampung, planning masih dimatangkan. Pasca lebaran kita akan fokus di situ," pungkasnya.

[WA]

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT    
11:30  12:00  14:30  15:00  20:00  20:30    


KOMENTAR

PARTNERS