Rabu, 18 Januari 2017

BE PART OF US!

A Day To Walk: Uklam-uklam Sore Menikmati Kota Malang

Dipublish pada: Kamis, 05 Januari 2017

Jalan-jalan Sore di Tengah Kota.

Kapan terakhir Ngalamers berjalan kaki? Yah setidaknya 30 menit... sambil haha hihi dengan karib, berbagi wawasan. Menikmati suasana kota.

Secara geografis, kota ini cukup strategis sebagai kota untuk tinggal. Berada di dataran tinggi, menjadi salah satu pusat pendidikan di Indonesia, serta dikelilingi banyak tempat wisata di wilayah Kabupaten dan Kota Batu, Kota Malang memperoleh keuntungan ekonomi yang besar dari hal tersebut.

Keran investasi dibuka. Hotel, cafe, perumahan, dan pusat-pusat perbelanjaan baru dibangun. Ekonomi bergeliat. Namun ada sekelompok anak muda yang gelisah, Ngalamers.

Spot familiar. Gereja Kayutangan di sore hari.

"Kami sebenarnya ingin kembali mengenalkan tempat-tempat wisata yang ada di Kota Malang. Karena tidak ada obyek wisata alami, ya gedung atau bangunan-bagunan tuanya." kata Sindyasta, pegiat Uklam Tahes (Mlaku Sehat) A Day to Walk, Sabtu (11/03/2015).

A Day To Walk, menurut Sindy bukanlah sebuah komunitas, namun hanya gerakan spontanitas untuk mengenal lebih dalam Kota Malang. Apalagi kalau bukan dengan jalan kaki. Meski hanya via Twitter, peserta A Day To Walk datang dari berbagai elemen, seperti mahasiswa dan berbagai komunitas di Malang. Hari itu halomalang bersama Sindy, Gaharu, Yahya, Nisa, Melati, Novi dan temen-temen lain akan menyusuri kawasan Kota. Start dari Taman Sriwijaya - Jl. Tumapel - Splendid - Ex-Bioskop Merdeka - Kayutangan - Jl. Semeru - Jl. Welirang - Jl. Bromo - Jl. Semeru - Jl. Kahuripan. Tak lupa bekal berbuka kami siapkan.

"Kota Malang, sejak jaman Belanda memang sudah memiliki tata kota yang bagus." terangnya. Menurut gadis berkacamata ini, bangunan untuk perkantoran, rumah pejabat, pertokoan dan yang lain sudah ditata sedemikian rupa. Termasuk dalam saluran air.

Flash back. Melihat sekilas Kayutangan, dulu dan sekarang.

Kawasan Kajoetangan/Kayutangan yang kini di area pertokoan Jl. Basuki Rahmat, banyak didapati bangunan - bagunan tua. Beberapa di antaranya Cagar Budaya, seperti di empat bangunan di sudut perempatan Rajab Ali (Gedung BCA, Toko Lido, Commonwealth Bank & Rumah Makan Padang). Namun kini yang tetap mempertahankan unsur klasiknya (dengan menara) adalah gedung yang digunakan Commonwealth Bank.

Eks bioskop Merdeka yang kini jadi reruntuhan dan tetap dibiarkan sekian lama adalah salah satu potret: bahkan bagunan Cagar Budaya pun bisa diratakan. Peserta Uklam-uklam sore berhenti cukup lama di sini, mengambil gambar, bernostalgia. Dalam kesempatan sebelumnya (A Day To Walk: Menelusuri Kejayaan Eks Bioskop di Kota Malang) Sindy menuturkan. "Dulu saya biasa main ding-dong di sini. Sebelum film diputar."

Tinggal Puing. Eks Bioskop Merdeka di sudut Kayutangan.

Gaharu, mahasiswa yang asli Kota Malang berkata, "Saat ini aktivitas jalan kaki sudah ditinggalkan oleh banyak orang. Padahal ini salah satu cara mengenal lingkungan sekitar dengan baik." Dengan penuh kegelisahan ia menjelaskan bagaimana banyak anak muda seusianya mulai meninggalkan budaya Malangan dan memilih budaya baru yang lagi ngetren.

"Kami tengah menyusun kegiatan dengan rekan-rekan penggemar fotografi analog untuk merekam dan mengadakan pameran foto bangunan-bangunan kuno. Yang kini jadi ruko, siapa tahu ada yang paham dulu ada bangunan apa sebelumnya. Biar sejarahnya tidak hilang." pungkas Gaharu.

Berikut foto-foto Uklam Tahes kali ini, Ngalamers.

Melintasi Balai Kota Malang.

Pasar Burung Splendid.

Eks Bioskop Merdeka.

Pertokoan Kayutangan, Jl. Basuki Rachmat.

Kayutangan, sisi yang berbeda.

Perumahan dan kanal air di Jl. Semeru.

Telepon umum. Kini jadi 'barang' langka.

Urat nadi. Brantas di Tengah, Perkampungan, RSU, & Taman Rekreasi Senaputra.

A Day To Walk

[WA]

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

ARRIVAL    
12:00  14:20
    
THE GREAT WALL    
16:40  18:50
    
LIVE BY NIGHT    
21:00
    
PATRIOTS DAY    
12:45  15:25  18:05  20:45    


KOMENTAR

PARTNERS