Minggu, 25 Juni 2017

BE PART OF US!

Melihat Koleksi Pohon Langka di Titik Nol Sungai Brantas [1]

Dipublish pada: Selasa, 03 Januari 2017

Tak hanya sebagai wilayah konservasi dan perlindungan mata air di hulu Sungai Brantas, sesuai namanya, Arboretum Sumber Brantas juga menjadi rumah dari berbagai pohon yang ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan ilmiah.

Di kawasan yang disebut sebagai titik nol Sungai Brantas, sungai terpenting di Jawa Timur ini Ngalamers bisa menambah wawasan, dan terutama melihat secara langsung puluhan jenis tanaman. Beberapa di antaranya terbilang sulit ditemui di alam liar.

Pertengahan Februari 2015 lalu, kami berkesempatan mengunjungi lokasi yang berada di Ds. Tulungrejo, Kec. Bumiaji, Kota Batu ini Ngalamers. Turut menemani halomalang, Viari Djajasinga, Kepala Sub Divisi Jasa ASA III/2 Perum Jasa Tirta I.

Berikut beberapa pohon/tanaman langka yang ada di Arboretum Sumber Brantas :

1. Kayu Manis (Cinnanonum Burmani)

Spesies tanaman yang bisa tumbuh hingga 15 meter ini berasal Indonesia dan wilayah Asia Tenggara. Bagian batang dan kulit Kayu Manis bisa dijadikan sebagai obat. Tak hanya itu Ngalamers, memiliki aroma khas, tanaman ini juga cukup terkenal sebagai bahan rempah-rempah untuk makanan maupun obat. Dalam istilah Jawa, Kayu Manis dikenal dengan sebutan Keningar.

2. Pinus Parana (Araucaria Angustifolia/Pinheiro-do-Paraná/Candelabra Tree)

Tiga Pinus Parana yang menjulang kokoh di depan bangunan utama Arboretum dibawa langsung dari Brazil sebagai buah tangan keikutsertaan Indonesia pada konferensi Bumi pada Juni 1992 di Rio De Janeiro. Ditanam oleh Roedjito Dwidjomestopo, pimpinan Proyek Brantas pada saat itu, Ngalamers.

Tanaman ini merupakan genus Konifer (sejenis damar) yang memiliki cone/runjung sebagai organ pembawa biji. Menyukai udara sejuk, Pinus Parana banyak ditemui di Brazil Selatan, Argentina maupun Australia Timur. Memiliki batang besar dan berdiri tegak serta kulit pohon yang kasar, tanaman berdaun mirip jarum ini bisa tumbuh hingga lebih dari 30 meter. IUCN Red List memasukkan Pinus Parana sebagai tanaman yang terancam punah.

3. Kina (Cinchona Ledgeriana /Quinine)

Quina atau Kina dikenal sebagai tanaman obat untuk Malaria. Mampu tumbuh hingga 15 meter, tanaman tropis ini menghasilkan bunga berwarna putih, merah muda atau kuning. Memliki daun bulat telur dengan panjang berkisar 10 - 35 Cm dan lebar 9 - 25 Cm. Obat untuk sakit malaria diambil dari kulit pohon Kina. Habitat aslinya dari sekitar dataran tinggi Andes (1500 - 3000 Mdpl) di Amerika Latin sebelum akhirnya dibawa seorang Charles Ledger untuk ditanam di India dan Jawa di Indonesia.

4. Puspa (Schimawallichii)

Tanaman asli Indonesia ini terkenal sebagai bahan bangunan rumah yang berkualitas dan memiliki tekstur yang halus. Masuk dalam kelas awet III, Puspa cukup tahan terhadap serangan Rayap kering namun kurang tahan terhadap jamur pelapuk. Dalam istilah Jawa disebut pohon Seru, atau Madang Gatal (Kalimantan). Disebut madang gatal karena memiliki semacam miang yang berhamburan ketika digergaji, dan menimbulkan rasa gatal di kulit. Ngalamers,

Puspa juga mampu hidup di berbagai kondisi habitat dan iklim. Pohon yang selallu hijau memiliki ukuran sedang hingga besar, mampu tumbuh hingga 40 Meter lebih.

5. Taksus (Taxus Sumatrana)

Udara segar dan sejuk akan menghampiri Ngalamers ketika melalui 'lorong pohon' yang menaungi jalan menuju mata air Sumber Brantas di Arboretum. Bukan hanya karena jumlah pohonnya, namun karena sebagian besar dihasilkan pohon yang menjadi lorong tersebut. Ya, pohon Taksus yang memiliki batang menjuntai dalam beberapa tingkatan ini mampu menghasilkan oksigen selama 24 jam meski daunnya hanya berdiameter 2 - 2,5 mm dan panjang 1,2 - 2,7 cm.

Taksus sering disebut sebagai Cemara Semak, dan banyak ditemukan di beberapa negara seperi Afghanistan, Vietnam, Taiwan maupun China. Taman Nasional Taroko di Taiwan memasukkan spesies ini dalam kategori dilindungi.

Sumber: wikipedia , rain-tree

[WA]

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT    
11:30  12:00  14:30  15:00  20:00  20:30    


KOMENTAR

PARTNERS