Rabu, 22 Februari 2017

BE PART OF US!

Menatap Hamparan Milky Way di Atas Ranu Kumbolo

Dipublish pada: Sabtu, 15 Oktober 2016

Pohon pinus dengan latar belakang hamparan bintang. Pemandangan dari Pos 3. Sabtu, 04/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Terakhir kami berkunjung adalah dua tahun lalu. Awal September. Ketika itu musim kemarau. Pukul 11 malam kami mulai mendirikan tenda, dalam bayangan bulan dan suhu -1 Derajat Celsius. Ketika pagi hamparan bunga es tampak berkilauan terpapar cahaya matahari terbit di Ranu Kumbolo yang ikonik: muncul di antara dua bukit.

Baca: Halomalang on Vacation: Ranu Kumbolo

Briefing dari Tim Saver. Pendaki yang akan naik ke Semeru harus mengikutinya terlebih dahulu. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Meski bisa diprediksi, alam selalu memberikan kejutan bagi penjelajahnya. Bahkan ketika berangkat dari Malang, kami sudah disambut hujan. Cuaca mulai bersahabat ketika sampai di Desa Ngadas, Poncokusumo. Pos Njemplang dengan latar jauh Bukit Teletubbies-nya yang cantik ketika sore pun bahkan kami lewati. Dengan satu tujuan agar tidak telat untuk mendaftar naik di Pos Ranupane.

Dan benar Ngalamers, 1 slot briefing terakhir oleh Tim Saver masih kami dapatkan. Cukup beruntung. Kami ber-6 mendaki ketika lanskap mulai gelap.

Menjelang dini hari, kabut mulai turun menutupi muka Ranu Kumbolo. Langit begitu cerah, pemandangan ini didapat dari Pos 4, tepat di atas danau. Sabtu, 04/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Rupanya hujan di sore hari telah membersihkan awan di atas Semeru. Di langit hanya terlihat gugusan bintang-yang semakin malam- semakin membentang. Siluet pohon Pinus semakin menambah dramatis pemandangan, suasana tenang, dan rasa takjub akan ciptaan Tuhan. "Wah...cantik banget. Nyesel aku nggak dari dulu ikut ke gunung," celetuk rekan kami yang baru pertama kali ke Semeru. Ternyata ini adalah perjalanan pertamanya 'mendaki' ke sebuah gunung.

Galaksi Bima Sakti membentang di atas kami, tepat di antara celah Tanjakan Cinta. Tepat 1 hari menjelang Ramadhan 1437H. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Sepertinya yang sedang kami lihat adalah Galaksi Bima Sakti a.k.a Milky Way. Di antara cahaya lampu kota dan polusinya, pemandangan ini tak mungkin bisa terlihat. Beberapa kali melintas ekor bintang.  Pertunjukan alam yang indah. Tepat tengah malam kami tiba di Pos 4 Ranu Kumbolo.

Cahaya warna-warni dari tenda di ujung bawah tak terlihat, kabut tebal meliputi total bagian danau. Hanya menyisakan bayangan gelap bukit di sekitarnya. Seperti di atas awan, Ngalamers.

Tenda kami (dua paling kiri), dengan latar belakang Tanjakan Cinta yang populer. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Suasana menjelang pagi, tapi langit masih tampak bagus. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ranu Kumbolo. Salah satu lokasi melihat matahari terbit paling terkenal. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Sinar hangat, kabut tipis, & beberapa pohon Pinus tumbang di tepian ranu. Pagi yang cantik. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Bersama ratusan pendaki lain. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Tanjakan Cinta di kejauhan. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Mitosnya, kalau naik Tanjakan Cinta jangan nengok ke belakang. Sanggup? Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Sampai di atas juga akhirnya, di depan; Oro-oro Ombo menghampar ungu Verbena Brasiliensis Vell, tanaman invasif yang sering dikira Levender. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Dari atas Tanjakan Cinta, saatnya turun. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

'Terbang bersama angin. Melinang bersama air, dikawani kabut-kabut,' bunyi kalimat salah satu plakat in memoriam beberapa pendaki yang 'menyatu' di Gunung Semeru. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Kabut tipis di atas permukaan danau. TNBTS selaku pengelola melarang siapapun untuk mandi atau menceburkan diri ke Ranu Kumbolo. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Foto dulu gaes... :D. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Foto lagi sebelum pulang. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Tak hanya di Oro-oro Ombo, Verbena Brasiliensis Vell juga tumbuh di sekitar bukit di sisi Ranu Kumbolo. Boleh dipetik Ngalamers, tapi hati hati: jangan sampai bijinya tercecer di tempat lain. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Si Ungu Verbena-yang sering dikira Lavender- dari dekat. Di balik keindahannya, tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini memiliki ancaman ekologis, cepat menyerap air dan invasif terhadap tanaman asli area TNBTS. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Tujuan utama bukanlah ke puncak. Melainkan kembali ke rumah dengan sehat dan selamat," begitu yang selalu diingatkan oleh tim Saver. Minggu, 05/06/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

[WA]

comments powered by Disqus

BIOSKOP
DIENG

JOHN WICK: CHAPTER 2    
13:15  15:45  18:15  20:45
    
SPLIT    
12:00  14:25  16:50  19:15  21:40 


KOMENTAR

PARTNERS