Saturday, 22 February 2020
halomalang.com

Gerbong Maut: Sebuah Kisah yang Memilukan

20-May-2014 [10:20]

Kota Malang memang sarat dengan peninggalan masa penjajahan Belanda. Mulai dari bangunan kuno nan ikonik, jalanan yang tertata, hingga benda-benda peninggalan perang di masa kolonialisme mereka. Sebagian diantaranya masih bisa kita jumpai saat ini, Ngalamers.

Salah satu yang cukup dikenang adalah sebuah gerbong tua di halaman belakang Museum Brawijaya. Populer dengan sebutan 'Gerbong Maut'. Bukan sekadar sebutan penarik minat para pengunjung museum, namun ada kisah kelam kekejaman militer Belanda di balik penamaannya.

Dari tampilan luarnya, gerbong berwarna hitam, abu-abu, dan putih tersebut tampak terawat. Catnya masih utuh, pun keseluruhan rangka yang terbuat dari besi. Sekilas, gerbong tersebut tak terkesan usang.

"Gerbong ini digunakan militer Belanda untuk membawa tawanan, orang-orang Indonesia, dari Penjara Bondowoso ke Penjara Bubutan di tahun 1947," cerita Suryo, petugas Museum Brawijaya.

Saat itu ada tiga gerbong yang digunakan untuk mengangkut para pejuang Indonesia yang menjadi tawanan. Penjara Bondowoso berada di Kabupaten Bondowoso sementara Penjara Bubutan berada di Surabaya. Kereta berangkat pada 23 November 1947 di jam sekitar jam lima pagi dari Stasiun Bondowoso dan sampai di Stasiun Wonokromo, Surabaya, sekitar jam delapan malam.

Perjalanan 16 jam yang mungkin saja perjalanan terpanjang dalam hidup mereka (para tawanan) Ngalamers. Mengantarkan para pelawan penjajah tersebut kepada maut.

Ngalamers mungkin pernah merasakan rasanya berada di dalam mobil tertutup tanpa pendingin udara di siang hari bolong. Tentu tak sekedar gerah, namun juga menyesakkan. Saat itu, kondisi di dalam gerbong maut tersebut berkali-kali lipat mengenaskan.

Konstruksi gerbong terbuat dari baja rapat tanpa ventilasi udara. Ketika pintu ditutup dan dikunci, tak ada udara yang masuk, maupun keluar. Ditambah perjalanan yang ditempuh sebagian besar dilakukan di siang hari. Hasilnya, adalah ibarat sebuah oven.

"Bahkan saking panas dan pengap, kulit-kulit orang di dalamnya saling menempel dan terkelupas. Sepanjang perjalanan mereka berteriak minta air, minta makan, minta udara, tapi tidak diberikan oleh orang Belanda," kata Suryo.

Dari tiga gerbong yang dibawa, gerbong maut yang berada di Museum Brawijaya merupakan yang paling banyak memakan nyawa. Dua gerbong lainnya terdapat lubang kecil, para tawanan bergantian menghirup udara melalui ventilasi tersebut.

"Sedangkan gerbong maut yang di sini, benar-benar rapat, tidak ada lubang. Total ada 100 orang, 46 orang meninggal, 11 orang sakit payah, 31 sakit, dan yang sehat hanya 12 orang," kisah Suryo.

Gerbong maut yang tersimpan di Museum Brawijaya merupakan gerbong 'terbaru' dibanding 2 lainnya. Di gerbong berseri GR 10152 itulah para tawanan lebih banyak ditempatkan karena kondisinya yang lebih panjang. Seluruh tawanan di gerbong ini meninggal, Ngalamers.

Ketika para tawanan berteriak minta air, makan, dan udara, pihak militer Belanda malah mengharapkan mereka tewas saja daripada sampai di Surabaya dalam keadaan hidup. Kengerian tersebut dikisahkan Suryo dari cerita seorang korban yang selamat bernama Singgih.

Di Museum Brawijaya, hanya ada satu dari tiga gerbong maut yang disimpan. Museum ini terletak di Jalan Ijen Nomor 25, tepat berada di sisi barat gedung Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang.

Terdiri dari dua ruangan utama, di ruangan pertama Ngalamers bisa melihat sejarah perjuangan Indonesia di era paska kemerdekaan 1945-1949. Ruangan satu lagi menggambarkan era tahun 1950 sampai 1976, masa perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Sumber : nationalgeographic
Foto : jelajah-nesia.blogspot



BACA JUGA