Saturday, 22 February 2020
halomalang.com

Kesurupan Dalam Permainan Bantengan

16-May-2014 [08:50]

Ngalamers yang berada di kawasan lereng Gunung Welirang maupun Arjuno pasti akrab mengenal kesenian Bantengan. Pertunjukan budaya tradisi ini menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa magis.

Permainannya cukup unik, Ngalamers. Diperankan oleh dua orang yang berfungsi sebagai kaki depan sekaligus pemegang kepala Bantengan dan pengontrol tarinya, serta kaki belakang sebagai ekor Bantengan. Kostum yang dipakai biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu, serta tanduk Banteng asli.

Sebuah sumber menyatakan, cikal bakal kesenian ini berkembang sejak jaman Kerajaan Singhasari. Situs Candi Jago – Tumpang sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat, meski pada waktu tersebut bentuk kesenian Bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk Topeng Kepala Bantengan yang menari.

Perkembangan kesenian ini mayoritas berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur tepatnya Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro (Malang Raya, Jombang, Mojokerto). Serta beberapa kelompok kecil yang membawanya ke beberapa daerah di Indonesia.

Meski berkembang dari kalangan perguruan Pencak Silat, saat ini Seni Bantengan telah berdiri sendiri sebagai bagian seni tradisi, sehingga tidak keseluruhan perguruan Pencak Silat di Indonesia mempunyai Grup Bantengan dan begitu juga sebaliknya Ngalamers. Tiap grupnya minimal mempunyai 2 Bantengan, seperti halnya satu pasangan yaitu Bantengan jantan dan betina.

Pelaku Bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan/kerasukan arwah leluhur Banteng yang sering disebut Dhanyangan.

Bagian uniknya Ngalamers, ketika pemain depan kesurupan, pemain di posisi tubuh belakang pasti akan mengikuti gerakan kepalanya. Terkadang orang di bagian belakang kesurupan, bagian depannya tidak, tapi ini sangat jarang terjadi.

Bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang memakai pakaian serba merah yang biasa disebut 'Abangan' dan kaos hitam yang biasanya di sebut 'Irengan'. Suasana mistis semakin terasa ketika aroma bakar kemenyan dan cambuk dilecutkan, sambil diiringi sekelompok orang yang memainkan gong, kendang, dan beberapa alat musik lainnya.

Kesurupan dalam Permainan Bantengan.

Masyarakat tradisional yang masih terpengaruh budaya Animisme dan Dinamisme, pemberian sesaji sebelum mengadakan suatu upacara, pesta, dan pertunjukan senantiasa dilakukan, termasuk sebelum pertunjukan Seni Bantengan.

Pemberian sesaji ini bermaksud agar para arwah leluhur ikut hadir dalam pesta tersebut, ini merupakan ‘jamuan makan’ bagi mereka. Jadi Ngalamers, ritual ini bukan bentuk ‘suap’ agar para mahluk halus tidak mengganggu permainan tersebut.

Pengalaman kesurupan ketika memainkan Bantengan dirasa berbeda antara kesurupan dengan seni yang lain. Penjiwaan akan tokoh Banteng sepenuhnya akan memberi nuansa tersendiri dalam melakukan atraksi ini.

Jika Ngalamers pernah melihat Bantengan diiringi atraksi 'spektakuler', seperti pemain dicambuk tanpa menimbulkan rasa sakit dan luka, hal itu karena ada teknik tertentu yang harus dikuasai. Tentu saja hal tersebut tak bisa disebutkan di sini, terlalu berbahaya dan perlu latihan khusus.

Pertunjukan Seni Bantengan juga selalu diiringi oleh Macanan (Karakter menyerupai Harimau). Kostum Macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oranye), yang dipakai oleh seorang lelaki. Macanan ini biasanya membantu Bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. Namun tak jarang macanan juga kesurupan.

Bantengan yang kesurupan biasanya sensitif atau semakin 'liar' jika mendengar suara siulan dari penonton, jadi jangan mencoba-coba di dekatnya ya, Ngalamers.

Sumber & Foto : soloraya, kompasiana, liputan6



BACA JUGA