Saturday, 22 February 2020
halomalang.com

Wayang Krucil Tunggu Pewaris

14-Jun-2014 [01:00]

Meski sarat nilai-nilai budaya yang tinggi, tak banyak orang yang peduli. Wayang Krucil kini hampir punah.

Kesenian Wayang Krucil memang tak sepopuler Wayang Kulit ataupun Wayang Golek yang sering dipentaskan masyarakat. Di wilayah Malang, seni tradisi ini pernah mengalami masa keemasan di tahun 60'an Ngalamers. Setara dengan Topeng Malangan (dari Pakisaji) dan Wayang Kulit (Purwa).

Wayang Krucil tak sekadar benda pementasan seni, namun juga mempunyai nilai-nilai budaya yang tinggi. Sekaligus berperan sebagai media hiburan rakyat yang sarat dengan muatan sejarah, aspek moral dan etika.

Pada puncak kejayaannya, Wayang Krucil tersebar hampir di seluruh daerah. Bermula dari Kabupaten Nganjuk, lalu ke Kabupaten Kediri, dan menyebar hingga kawasan Kabupaten Malang. Kini posisinya semakin tergusur semakin membanjirnya kebudayaan modern. Bahkan pementasannya-pun sulit dijumpai, Ngalamers. Kecuali, dalam acara-acara ritual yang terkait dengan bersih desa dan nadar.

Seperti ditelan jaman. Saat ini Wayang Krucil hanya tersisa beberapa saja. Salah satunya, Wayang Krucil milik Paguyuban Mardi Laras di Desa Garu, Kecamatan Baron, sekitar 15 kilometer sebelah timur Kabupaten Nganjuk. Lainnya, Wayang Krucil milik Mbah Yem/Pak Jain di Dukuh Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Wayang Krucil yang ada di Desa Gondowangi menjadi satu-satunya wayang krucil yang paling lengkap (utuh) berjumlah 75 buah, meski yang 3 buah dalam kondisi rusak. Sedangkan di desa Garu Kabupaten Nganjuk, kondisinya tidak lengkap namun gamelan aslinya masih terawat. Sedangkan di desa lainnya, Wayang Krucil sudah punah dan tak memiliki pewaris lagi.

Pelaku seni tradisi atau Dalang Wayang Krucil asal Desa Gondowangi kini tinggal satu orang, yaitu Bapak Jain, putra kandung dari Bapak Karlin, Seniman Wayang Krucil yang sudah wafat. Sedangkan di desa Garu, Nganjuk tinggal seorang saja, yaitu Ki Sudiono, yang merupakan dalang Wayang Krucil turun-temurun.

Khususnya di desa Gondowangi, Wayang Krucil dianggap sebagai bagian dari keberadaan desa, perawatannya berlangsung turun-temurun. Keberadaannya sudah sebagai benda pusaka yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Pementasan dalam upacara Syawalan (setiap minggu awal bulan Syawal) setahun sekali adalah hal wajib. Kesakralannya terwujud dalam upacara pagelaran yang harus disertai sesajen khusus, dan dibacakan mantra oleh Mbah Yem, selaku pemilik turun temurun.

Wayang Krucil dibuat dari Kayu Pule atau Mentaos berbentuk pipih. “Kayu pule atau Mentaos memiliki serat halus, kalau dibuat wayang hasilnya bagus. Namun, kayu ini sekarang susah didapat,” ujar Pak Arbai, tokoh masyarakat Dukuh Wiloso, Gondowangi yang peduli terhadap pelestarian Wayang Krucil.

Dari segi fisik, Wayang Krucil yang memiliki ketebalan 2-3 centimeter, bentuknya mengarah tiga dimensi. Hal itulah yang membuat karakter tokoh-tokoh pada Wayang Krucil terkesan lebih bernyawa dibanding Wayang Kulit. ”Saya sendiri heran, setelah jadi wayang kok jadi hidup. Sama-sama tokoh raja, pada Wayang Krucil terlihat kokoh dan bernyawa,” tutur Pak Arbai keheranan.

Perbedaan lainnya Ngalamers, jika pada Wayang Kulit (purwa) satu wayang mewakili satu tokoh atau satu karakter dan juga memiliki satu nama. Pada Wayang Krucil 'Panji Asmorobangun' ini satu wayang bisa bergantian memerankan beberapa tokoh dan karakter. Tokoh Baladewa misalnya, digunakan ketika sang dalang mengambil sumber cerita Mahabarata. Tetapi, ketika mengangkat cerita Menak, tokoh ini digunakan sebagai figur Prabu Rusmantono, Raja Sindukaas. Sedang Bima (Bratasena) menjadi tokoh Raja Lamdaur Alam dari Kerajaan Srandil. Seperangkat gamelan 'Mardi Laras' selalu mengiringi pementasan kesenian Wayang Krucil ini. Dengan 10-an pemusik (penabuh) dan 2 pesinden (penyanyi).

Dari sisi cerita,  Wayang Krucil mengambil beberapa sumber, diantaranya cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri. Seperti kisah Panji Semirang Panji Asmara Bangun, Candra Kirana, atau 'sempala'n seperti Lakon Lembu Amiluhur Krido. Cerita rakyat tentang perlawanan kepada Belanda juga diangkat. Atau, cerita lain seputar Walisongo dan pendirian Kerajaan Islam Demak. Bahkan ada juga cerita dari Serat Menak yang diadaptasi dari Persia yang berkaitan dengan perkembangan agama Islam. Namun, untuk penamaan tokohnya sudah diadaptasi. Sang Dalang juga bisa mengambil sumber cerita sendiri yang dikenal sebagai Lakon Carangan.

Wayang Krucil di Desa Gondowangi kini dalam kondisi yang memprihatinkan Ngalamers. Tak banyak yang peduli, hanya segelintir seniman saja. Yang lebih disayangkan, pemerintah daerah setempat-pun tak banyak berbuat. Inilah yang menjadi kekhawatiran seorang seniman lokal, Bapak Sugondo. Menghidupkan kembali kejayaan Wayang Krucil, dan tetap melestarikan kesenian ini sudah menjadi tekadnya.

Menurut pengamatan pak Sugondo, setiap tahun rata-rata Wayang Krucil hanya bisa tampil 2-3 kali. Biasanya, untuk memeriahkan kegiatan bersih desa, hari ulang tahun Kabupaten Malang, atau pementasan rutin di even tahunan seperti “Malang Tempo Doeloe”. Di tengah himpitan budaya modern yang tak terbendung, sudah saatnya kesenian tradisi menemukan pewarisnya di rumah sendiri, Ngalamers.

Sumber: gondowangi.desa
Foto: facebook.com/DesaGondowangi



BACA JUGA