Saturday, 22 February 2020
halomalang.com

Kopiah Hitam, Identitas dan Kerukunan Umat Beragama di Desa Peniwen

12-Jul-2014 [02:30]

Kopiah hitam, atau banyak orang menyebutnya peci hitam, sebuah penutup kepala yang lazimnya dipakai umat muslim untuk menghadiri acara keagamaan atau untuk sholat. Namun di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan yang menjadi pusatnya agama Kristen di Kabupaten Malang, kopiah hitam adalah identitas seluruh warga di sana yang sudah dewasa apapun keyakinannya.

Ngalamers akan salah jika mengira pemakai kopiah di desa yang lokasinya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kepanjen tersebut adalah selalu warga muslim. Maklum, di desa ini, dari total jumlah penduduknya yang 3.618 jiwa, hanya sembilan orang yang beragama Islam.

Kepala Desa Peniwen, Sih Utama yang juga seorang Kristiani taat mengenakan kopiah hitam dan batik mengatakan, kopiah hitam memang sudah dipakai warga Peniwen sejak lama. Terutama ketika dilangsungkan acara desa atau momen-momen penting, tokoh agama dan pejabat desa setempat mayoritas menggunakan kopiah hitam.

Saat acara Bersih Desa pada 30 Juni lalu, sejumlah pria di desa Peniwen mengenakan kopiah. Mereka berperan sebagai penerima tamu atau pejabat desa. Nah ternyata, kebiasaan ini sudah berjalan bertahun-tahun Ngalamers. Bahkan, ketika desa ini didirikan pada abad ke 18, warga setempat sudah menggunakan kopiah sebagai identitas.

"Tidak ada syarat untuk bisa memakai kopiah hitam. Tapi kopiah ini menunjukkan bahwa orang yang sudah dewasa memakai kopiah ini," imbuh Sih sambil menunjuk ke arah kopiahnya.

Anggapan kopiah hitam selalu identik dengan umat muslim dianggap Sih tidak tepat. Menurutnya, kopiah hitam bisa dipakai oleh siapapun, terutama dalam acara-acara resmi. ”Ini kopiah umum. Semua orang dari berbagai agama bisa memakainya,” katanya.

Meski demikian Ngalamers, hubungan antarpemeluk agama di desa Peniwen terjaga cukup harmonis selama ini. Umat muslim yang minoritas pun kerasan tinggal di Peniwen. Salah satu contohnya, ketika warga pendatang mendirikan Panti Asuhan Ar Rahman untuk umat muslim, warga Kristiani yang mayoritas tetap bisa hidup berdampingan. Bahkan, warga Peniwen juga mengijinkan panti asuhan tersebut mendirikan sebuah masjid untuk tempat ibadah.

Perkampungan yang awalnya hutan belantara tersebut didirikan oleh Pendeta Sangkius Kasanawi beserta 19 orang temannya pada 1880. Oleh karena itu Agama Kristen berkembang cukup pesat di Peniwen. Sih mengatakan bahwa semua agama boleh bebas berkembang di Desa Peniwen. "Meskipun untuk agama lain, hingga saat ini masih belum banyak pengikutnya," tambahnya.

Di desa Peniwen, Ngalamers juga bisa melihat potret sejarah berupa Monumen Palang Merah Remaja (PMR). Digambarkan dalam dua patung yang tegak berdiri, monumen ini dibangun untuk mengenang sepuluh relawan PMR yang gugur saat melawan agresi Belanda pada 1949. Selain itu, juga terdapat makam dari keseluruhan relawan PMR tersebut.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla pernah mengunjungi monumen ini di tahun 2012. Sih Utama mengklaim monumen ini adalah satu-satunya monumen PMR di Indonesia. "Monumen ini juga salah satu kebanggaan kami," sambungnya.

Peniwen termasuk salah satu desa di Kabupaten Malang yang dikenal memegang teguh adat mereka Ngalamers. Tak hanya menghormati sesepuh mereka dengan kopiah, ada tiga acara adat yang selalu dirayakan warganya secara besar-besaran, yakni adat Bersih Desa yang dilakukan setiap 30 Juni, Malam Tirakatan untuk mengenang para leluhur desa yang dilaksanakan setiap malam 17 Agustus, ditambah Adat Kelaman yang dihelat setiap 30 Oktober. Adat yang terakhir ini bertujuan agar Tuhan senantiasa memberikan air hujan di Peniwen. "Kalau tanggal segitu sudah musim hujan, kita minta hujan yang cukup," jelasnya.

Karena mayoritas warganya beragama kristiani, dari ketiga adat tersebut selalu disertakan doa-doa Kristen. "Seperti adat desa, jadi perangkat desa dan pendeta gereja diarak dari gereja ke balai desa, lalu kita berdoa bersama," pungkas Sih.

Potret keharmonisan antar warga di Desa Peniwen adalah sebuah contoh kerukunan umat yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman.

Sumber: radarmalang
Foto: arekpeniwen.blogspot



BACA JUGA