Friday, 18 January 2019
halomalang.com

[Press Release] Memaknai Ramadhan di Lembah Manah

26-Jul-2014 [11:20]

Bulan puasa bukan hanya diwajibkan bagi umat muslim untuk berpuasa selama sebulan penuh. Namun esensi sesungguhnya adalah bagaimana dapat menginternalisasi proses selama puasa. Ada tiga tingkatan orang dalam berpuasa: (1) hanya sekadar menjaga dari haus dan lapar; (2) menjaga dari segala hawa nafsu serta menghayati setiap makna yang tersirat; dan (3) pengaplikasian makna untuk kebermanfaatan orang lain serta alam. Tingkatan nomer 3 yang coba diterapkan oleh kelompok Kelompok KKN 02 UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) dengan melakukan kegiatan sosial di Posyandu.

(2/7) Kelompok KKN 02 UMM melakukannya di Posyandu Lembah Manah Dusun Jabon Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang mulai dari pukul 08.00-11.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan berupa: membantu menimbang, mengukur tinggi badan, administrasi, hingga melakukan observasi berkenaan dengan taman posyandu. Peserta posyandu adalah balita hingga anak berumur 5 tahun.

Posyandu sendiri merupakan tempat bagi para ibu untuk mengetahui perkembangan anak-anaknya setiap periodik. Kemudian mendapatkan informasi-informasi peningkatan kualitas: kesehatan dan tumbuh kembang. Eksistensinya sangat dibutuhkan di suatu daerah untuk mengontrol serta memberi panduan pada ibu dan bayi. Di Posyandu Lembah Manah terdapat 3 ruangan: (1) pengukuran berat badan, pengukuran tinggi badan, dan administrasi; (2) PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dan taman posyandu; dan (3) imunisasi. 

Melalui kegiatan ini, banyak manfaat yang didapatkan bagi tim KKN 02 UMM. Pertama perjuangan seorang ibu untuk mendampingi perkembangan sang anak. Banyak cara yang dilakukan sang ibu agar anaknya mau untuk sekadar menimbang berat dan mengukur tinggi badan. Seperti yang kami lihat, ada beberapa anak yang mereka kelihatan ketakutan untuk sekadar lepas dari genggaman sang ibu. Tangisan, teriakan, serta gerak tubuh membuat sang ibu iba. Akhirnya ada yang tidak jadi menimbang, ada juga yang hanya sekadarnya saja. Sang ibu tetap dengan kelembutan, cinta, serta kasih sayangnya. Maka peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kejadian ini adalah, “Cinta ibu sepanjang masa.” Kedua kepuasan batin yang didapat dengan membantu orang lain, begitu mendamaikan. Senyuman manis terpancar dari ibu pada sang anak serta kami (tim KKN).

Selain itu, ternyata ada hal menarik lainnya yaitu taman posyandu. Taman yang di dalamnya terdapat beberapa ruang yang disesuaikan dengan umur anak: 0-1, 1-2, 2-3, 3-4, dan 4-5 tahun. Tujuannya untuk merangsang dan meningkatkan kecerdasan anak melalui berbagai permainan/informasi baru yang disesuaikan dengan umurnya. Kemudian meningkatkan interaksi antara ibu dan anak. Orang tua akan mendapatkan KKA (Kartu Kembang Anak) untuk dapat memonitor perkembangan anak. Program ini di bawah pengawasan (BKB) Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang.

Hasil observasi tim KKN di lapangan, terdapat beberapa kekurangan yang perlu perbaikan-perbaikan agar taman posyandu kegunaannya sesuai dengan tujuan BKB: (1) Taman posyandu belum representatif. Artinya kondisi tempat belum sesuai dengan fungsinya sebagai peningkatan kecakapan dan kecerdasan anak. Hingga saat ini tempat yang digunakan tidak sesuai dan jauh dari kata layak sebagai “taman posyandu.” (2) Interior belum sesuai dengan fungsinya sebagai taman posyandu. Tidak terdapat poster yang berisi informasi berhubungan dengan perkembangan anak. Permainan hanya terdapat pada ruangan untuk anak umur: 2-3, 3-4, dan 4-5 tahun. (3) Rendahnya kesadaran ibu untuk mengajak anaknya bermain di taman posyandu. (4) Kurangnya personil tim posyandu sehingga tidak semua ruangan terdapat pendamping. Padahal seharusnya setiap ruangan dari anak umur 0-1 sampai dengan 4-5 tahun terdapat pendampingan dari posyandu.

Melihat kondisi tersebut perlu kesadaran semua pihak untuk bersama-sama melakukan perbaikan-perbaikan. Terutama sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, kabupaten hingga pusat. Bulan ramadhan merupakan momen yang pas, untuk saling mengerti, memahami, dan menyeimbangkan antara kewajiban dan hak sebagai pemimpin/wakil rakyat. Turun ke rakyat, mendengar, melihat, dan merasakan keadaan mereka. Kemudian melakukan tindakan nyata, merupakan upaya yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Semoga dengan berkahnya bulan Ramadhan, memberikan kesadaran bagi para pemimpin akan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Hak sudah diterima, sudah semestinya kewajiban dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Sandi Iswahyudi. Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang.
< [email protected]>



BACA JUGA