Saturday, 19 October 2019
halomalang.com

Halomalang on Vacation: Ranu Kumbolo

11-Sep-2014 [08:00]

Awal September, ketika bentuk bulan mendekati sempurna adalah waktu yang tepat untuk merasakan suhu di bawah 0 di Ranu Kumbolo. Ketika fajar menyingsing, kabut-kabut mulai ditiup, dan pintu tenda mulai dibuka, alam memulai pertunjukannya.

Kamera, sosial media, film dan bentuk kemajuan teknologi lainnya telah merekam ribuan, bahkan jutaan foto Gunung Semeru dan danau nya yang penuh magis, Ranu Kumbolo (2400 mdpl). Banyak hal telah sering diceritakan, mulai dari sunrise di tepi danau yang berkabut, mendaki tanjakan cinta, persahabatan sesama pemanggul carier, hingga 'pemulung' gunung.

Minggu (07/9), Halomalang akhirnya berkesempatan merasakan sendiri magis Ranu Kumbolo nya Semeru. Plus cuaca dingin -0,5 derajat celcius yang menusuk tulang, dan tentunya bonus kristal es yang membungkus rerumputan Ranu Kumbolo di pagi hari, bagi kami ini pemandangan yang unik. Memang beberapa hari sebelumnya, rekan pendaki juga mengabarkan cuaca dingin hingga -4 derajat celcius di danau yang terkenal akan suasana sunrise nya ini.

Halomalang Headquarters - Tumpang - Poncokusumo - Coban Pelangi - Coban Trisula - Pos Jemplang - Senduro adalah jalur yang kami lalui sebelum memulai pendakian dari Pos Perijinan Pendakian Semeru Resort Ranu Pani, Kab. Lumajang. Ini adalah jalur terdekat yang bisa kami tempuh, Ngalamers.

15.30 WIB. Pendakian dimulai dari gerbang selamat datang di samping perkebunan warga - Landengan Dowo (2300 mdpl), 3km dari Ranu Pani - Pos 1 - Pos 2 Watu Rejeng (2350 mdpl) 3km dari Landengan Dowo - Pos 3 - Pos 4 (4,5 km dari Watu Rejeng) tepat di atas Ranu Kumbolo. Tepat di bawah bukit tanjakan cinta kami mendirikan tenda bersama ratusan pengunjung lainnya.

Selanjutnya biarlah foto yang menjelaskan, Ngalamers:

14.30 WIB. Pos Jemplang/Simpang Jemplang (Atas). Sekitar 2 Km dari Kec. Ngadas, di sini terdapat persimpangan menuju Gn.Bromo (arah kiri turun) atau lurus ke arah Ranu Pane. Posisinya cukup vital karena menjadi satu-satunya akses menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari arah Ngadas, Malang.

15.20 WIB. Pos Perijinan Pendakian Gn.Semeru yang dikelola BBTNBTS Resort Ranu Pane. Berada di Desa Ranu Pane/Pani Kec. Senduro - Lumajang. Seluruh aktivitas pendakian resmi harus mendaftar di pos ini. Di akhir pekan tarif masuknya Rp.22.500/orang, yang perlu diingat adalah hitungannya pertanggal masuk, bukan per-jam hingga turun.

15.40 WIB. Pendakian ke Semeru dimulai setelah melewati pintu masuk di samping perkebunan penduduk. Dari sini jalanan masih cukup landai hingga kawasan Pos 1 Landengan Dowo (2300 mdpl) yang berjarak 3 Km dari Ranu Pane.

Bulan mengintip di kejuhan. Menuju pos 1, jalanan berpaving yang dikelilingi belukar tinggi masih akan menemani pendaki bersama turunnya kabut sore.

17.20 WIB. Suhu dingin mulai terasa begitu tiba di Pos 1. Sambil menikmati bekal, kami beristiraha sejenak sekaligus bersiap menyambut gelap. Rute 3 Km berikutnya menuju Watu Rejeng masih cukup bersahabat bagi pendaki yang memanggul carier.

18.30 WIB. Pos 2 Watu Rejeng (2350 mdpl). Jika perjalanan dilakukan di siang hari dan tidak berkabut, pendaki akan melihat pemandangan cantik tebing-tebing tinggi yang berhias pohon cemara dan pinus di sisi kiri arah menuju Pos 3. (Foto diambil 08/09 siang). Selain Watu Rejeng, sebenarnya ada jalur lain melalui Ayak-ayak yang cukup curam. Namun saat ini masih ditutup oleh petugas TNBTS. Ranu Kumbolo masih 4,5 Km lagi.

 20:40 WIB. Pos 3. Siapkan masker setelah tiba di pos ini, karena sebuah tanjakan berdebu sudah menanti tepat di samping kanan pos. Perjalanan kami di malam hari sangat menguntungkan, karena lalu lintas sedang sepi. Selanjutnya, tampak di kejauhan puncak Semeru mengepulkan asap, cantik. (Foto diambil 08/9, siang hari). Pos 4 tepat berada di atas Ranu Kumbolo, kawasan tepi danau mirip perkampungan ketika kami datang. Siluet bulan tampak tepat di atas danau menerangi para pendaki yang sebagian sudah terlelap.

04.40 WIB. Surya menggeliat di antara celah bukit. Venus di ufuk timur nampak bagai sebuah titik yang perlahan menghilang. Uap dingin berputar di atas permukaan Ranu Kumbolo yang keemasan. Pintu-pintu tenda mulai dibuka, meski cuaca sedikit membeku, tak ada yang melewatkan momen ini, Ngalamers.

Cahaya keemasan tampak membelah permukaan danau. Di sisi bawah bukit 'Tanjakan Cinta' adalah spot terbaik, termasuk untuk mendirikan tenda.

Ranu (Danau) Kumbolo (Berkumpul). Ratusan pengunjung, termasuk yang baru datang dari pos 4 ikut memadati tepian danau yang berkabut. Brrrr!

Cuaca dingin tak menghalangi kami untuk sedikit berbagi pose & senyuman :)

Musim dingin adalah salah satu waktu yang terbaik untuk singgah di Ranu Kumbolo. Jarang sekali di Indonesia bisa melihat kristal es membungkus permukaan rumput.

 

Ada sebuah mitos "Mendaki Tanjakan Cinta (2400 mdpl) hingga puncak tanpa menoleh, jika ia sedang jatuh cinta, maka akan berakhir bahagia,". Ngalamers?

Di balik bukit Tanjakan Cinta, terhampar savana luas yang ditumbuhi alang-alang yang kini mengering, Oro-oro Ombo. Di kejauhan tampak puncak Mahameru dengan kepulan asapnya mengintip di balik puncak kembaran yang ditumbuhi banyak cemara.

09.00 WIB. Matahari kian terik, namun belum cukup menghilangkan dingin di sekitar Ranu Kumbolo.

 

Kami bergegas untuk packing perbekalan dan tenda, termasuk sampah yang telah dikumpulkan. Banyak pendaki melanjutkan perjalanan hingga Puncak Mahameru, sebagian lainnya termasuk kami memutuskan untuk turun kembali ke Ranu Pane. Ada juga yang baru datang dan singgah. Ranu Kumbolo tak pernah sepi.

Perjalanan masih jauh, Ngalamers. Masih ada hal yang harus dituntaskan, turun dengan selamat. Semoga di lain kesempatan, kami bisa kembali berkunjung ke Ranu Kumbolo, dan tentunya puncak Mahameru yang menanti.



BACA JUGA