Friday, 21 February 2020
halomalang.com

'Bukan Gunung, Tapi Tempat Wisata'

20-Jul-2015 [14:03]
"Saya pernah melihat cewek naik Semeru pakai sepatu high heels. Ini terjadi riil."

 

Padat. Tepian Ranu Kumbolo pada 07 September 2014 lalu.

"Ketika kita berkegiatan di alam bebas, kita jangan membuang sampah. Minimal itu aja. Nggak usah kita ngomong sampahnya orang lain. Tapi sampah kita sendiri." kata Andi Iskandar, pegiat lingkungan dari JICA (Japan International Cooperation Agency).

Hal ini disampaikan pria yang akrab disapa Andi Gondrong ini di Talkshow 'Pengembangan Pengetahuan Dalam Berkegiatan di Alam Bebas Yang Aman dan Nyaman' di Kafe Pustaka Univ. Negeri Malang, Rabu (24/06/2015). Acara ini diselenggarakan oleh Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam YEPE.

Di tengah kian ngetrennya aktivitas pendakian gunung yang dengan segala motivasi para pelakunya, disiplin dari diri sendiri menjadi penekanan Andi. Karena hampir setiap hari bertugas di satu-satunya pintu masuk pendakian Semeru (Ranu Pane), ia menceritakan pengalamannya. Terutama terkait keselamatan pribadi dan lingkungan, termasuk sampah.

Dari kiri. Pradata 'Data Pela' Guntoro (YEPE), Andi Gondrong (JICA), Asmujiono (Pendaki Indonesia pertama ke puncak Everest) di Kafe Pustaka, UM. Rabu (24/06/2015).

"Sampah sekecil apapun." tegasnya. "Mau puntung rokok, bungkus permen. Itu bisa nggak kita mengendalikan itu?." Menurutnya keteledoran inilah yang sering terjadi, dan para pendaki sering lupa. Tapi, tidak membuang sampah saja belum cukup Ngalamers.

"Saya pernah melihat cewek naik Semeru pakai sepatu high heels. Ini terjadi riil." terang Andi sambil tertawa. "Ada juga yang naik gunung pakai celana jeans, bahkan dirobek-robek." Kedua hal ini merupakan hal yang terlihat sepele, namun mengabaikan keselamatan diri mereka sendiri. Artinya pengetahuan mereka tentang keselamatan diri sangat minim.

Apalagi saat ini suhu di kawasan Ranu Kumbolo sudah mencapai (-5) hingga (-7) Derajat Celsius, di Ranu Pane (-3) Derajat Celsius. Hal ini tak boleh dianggap sepele Ngalamers. Seringkali, Andi dan rekan-rekannya berbantahan dengan para pendaki atau wisatawan yang nekad naik tanpa membawa Sleeping Bag (kantong tidur hangat). "Loh kita itu sudah bayar." ucap Andi menirukan salah satu pendaki ngeyel tersebut.

Pria yang aktif di Japan International Cooperation System (JICS) hingga periode 2020 ini menyebut kawasan Semeru sekarang adalah tempat wisata, bukan 'gunung'. "Karena semua orang sudah mengakses ke sana." Aktivitas yang ia sebut sebagai tren. Dan ini bisa berbahaya jika dilakukan tanpa pengetahuan dan persiapan yang memadai.

Terkait batas pendakian Semeru hingga Kalimati, hal itu merupakan rekomendasi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Karena memang di atas cuaca seringkali berubah, Ngalamers. Pemanasan global, Andi sebut berpengaruh terhadap kondisi ini. Sebagai contoh, 14 - 23 Agustus 2013 di Ranu Pane suhu udara mencapai (-7,9) Derajat Celcius. Ketebalan es di permukaan Ranu Regulo lebih dari 1 Cm, sebuah hal yang belum pernah dirasakan para tetua adat di wilayah tersebut.

Beku. Bunga es yang membungkus rumput di kawasan Ranu Kumbolo, Semeru pada 07 September 2014.

"Saya mengamati suhu tiga kali sehari, jam 5 pagi, 2 siang, dan jam 9 malam. Itu selalu berubah." Ini menjadi patokan penting ketika mendaki ke Semeru, ketika di siang hari suhu mencapai 28 - 30 Derajat Celsius, lalu sore menurun ke 8 - 9 Derajat Celsius, Andi memastikan di pagi hari suhu akan minus lebih dari 2 Derajat Celsius.

Suhu dingin ini biasanya memicu pengunjung untuk membuat api unggun, padahal ini sudah dilarang BB TNBTS (Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) selaku pengelola. Hal lain yang sering dikesampingkan adalah sampah pribadi (BAB) pengunjung. Kawasan di sekitar Ranu Kumbolo adalah wilayah yang paling parah jadi 'jamban umum'. Diakui Andi karena memang keterbatasan penyediaan toilet oleh pengelola.

Hal ini berdampak pada kenyamanan pengunjung sendiri, apalagi ketika 'peak season'. Ratusan tenda berjajar di tepi Ranu Kumbolo. Beberapa kali juga terjadi kecelakaan saat antrian menuju puncak Mahameru, ini karena pendaki itu sendiri. Mindset dan penguasaan ego yang harus diperbaiki. "Kenapa saya harus berkunjung ketika musim puncak pendakian?." 'Kenapa saya harus naik ke puncak Semeru padahal itu dilarang." tegas Andi.

Hitungan kuota masuk hanya 500 pendaki per hari, itu merupakan daya dukung kawasan. Seperti di Ranu Kumbolo, dengan area yang luas namun memiliki camping ground yang terbatas. Jika kuota masuk dilebihi akan merusak ekosistem di sekitarnya, Ngalamers.

"Sebenarnya, waktu yang kita butuhkan untuk memulihkan ekosistem itu tidak cukup sepuluh tahun. Tidak cukup dengan tiket yang anda bayar. Untuk merestore hutan, per hektar-nya dibutuhkan dana sekitar Rp.25 Juta. Dan itu bisa kita lakukan selama 5 tahun." pungkas Andi.

[WA]



BACA JUGA