halomalang.com

Ngadas, Desa Adat Tengger Dalam Bingkai FOCUS

"Pulang sekolah, makan siang, juga di ladang bersama keluarganya. Itu mungkin salah satu alasan banyak anak-anak di sana bercita-cita jadi petani. Seperti orang tuanya,"

Pameran Pasca Hunting Besar 'Jelajah Desa Ngadas' Anggota Muda 23 FOCUS UMM di Galeri Raos. Selasa 10/06/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Mengenal desa Adat Tengger berarti banyak hal: Sarung yang dipakai menutup bagian atas, masuk ke rumah lewat pintu belakang, upacara Tugel Gombak untuk potong rambut, hingga kebiasaan mengenalkan anak dengan ladang (ada yang sejak usia satu bulan). Dan masih banyak hal lain yang tergali.

Pengalaman tersebut dirasakan sekitar 24 anggota muda Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi FOCUS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama 4 hari hunting besar di Ngadas-satu-satunya Desa Adat Tengger di Kabupaten Malang- belum lama ini.

Ngadas berada di Kec. Poncokusumo, masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan wisata Gunung Bromo-nya yang terkenal. Perjalanan 1,5 jam setelah masuk wilayah Kabupaten. Tak heran, desa yang dihuni sekitar 1315 penduduk ini selalu diliputi suhu rata-rata 18 Derajat Celsius. Inilah kenapa sarung begitu melekat bagi masyarakat Tengger.

Potret dapur sebagai 'pusat' rumah dalam budaya warga Tengger di Desa Ngadas. Salah satunya Karya Robiatul Qomariyah (paling kanan) Selasa 10/06/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Banyak budaya yang belum diketahui kebanyakan (awam). Dapur, tak hanya sebagai tempat memasak, tapi juga tempat untuk kumpul keluarga, menerima tamu," kata Ferdila Sifa, Ketua Panitia Pameran 'Jelajah Desa Ngadas' Anggota Muda 23 FOCUS, Selasa (10/06/2016).

Dila bercerita pengalaman ketika tim FOCUS bertamu ke salah satu rumah warga. "Kami belum tahu, ketika lewat depan kok nggak ada jawaban. Ternyata keluarga berkumpul di dapur. Jadi tamu juga lewat belakang," ujarnya kepada halomalang. "Pawonan (tungku api) di dapur berfungsi untuk menghangatkan tubuh,"

Miko (12) bersiap pergi ke ladang bersama Mayor, anjing peliharaannya. Karya Dyastri. Selasa 10/06/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Cerita Dila jelas terekam dalam karya nomor 5 (Fotografer: Robiatul Qomariyah). 'Ibu Juarni (45) menggendong cucunya bersantap siang bersama anggota keluarga lain di dapur,'. Ada 58 karya foto dari 24 aggota muda FOCUS yang dipajang di Galeri Raos Batu. Disusun dengan alur, semuanya mengambarkan kehidupan pedesaan dan ladang warga Ngadas.

Namun tak serta merta lensa diangkat. Hari pertama datang adalah survey tempat, kemudian pendekatan ke warga di hari berikutnya. "Ada warga yang tidak mau difoto, ya tidak kami foto. Di FOCUS kami selalu menekankan kepada anggota untuk meminta ijin kepada subyek, dengan pendekatan," ujar mahasiswi Psikologi UMM semester IV ini.

'Cita-citaku'. Foto karya Rafikah Andini ini mengungkapkan banyak anak-anak kelas 1 di SDN Ngadas 01 yang ingin jadi petani: seperti orang tuanya. Selasa 10/06/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Pendekatan berarti juga mengetahui kebiasaan mengajak anak-anak ke ladang, sumber penghidupan warga Ngadas. "Pulang sekolah, makan siang, juga di ladang bersama keluarganya. Itu mungkin salah satu alasan banyak anak-anak di sana bercita-cita jadi petani. Seperti orang tuanya," jelas Dila.

Potret 8 anak berbaju pramuka dengan pipi kemerahan karya Rafikah Andini cukup menjelaskan. Dari situ cerita lain mengalir, anak-anak cowok yang memakai anting berarti mereka lahir di pasaran Wage (kalender Jawa). Kedekatan warga dengan binatang peliharaan (anjing, bebek, ayam ,kuda, babi, dll), pondokan di ladang yang juga berfungsi untuk kandang, hingga kerukunan warga meski berbeda keyakinan.

Ngalamers, ada tiga agama yang mayoritas dianut warga Ngadas, yakni Buddha (50%), Hindu, dan Islam. "Mereka sangat menghormati agama lain. Ada yang satu rumah ayahnya Buddha, istrinya Hindu, anaknya memeluk Islam. Mereka menjalani biasa aja. Menurut mereka, tujuannya sama, hanya jalannya aja yang beda," ujar Dila bersemangat. Sebuah proses bermasyarakat yang begitu arif.

Foto karya Ovilya Putri (paling kiri) dengan potret keluarga yang memeluk Agama Islam. Islam merupakan salah satu dari 3 agama (Buddha, Hindu, Islam) yang dianut warga Ngadas. Mereka hidup rukun saling membahu. Selasa 10/06/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Pengunjung pameran juga tampak antusias menikmati. "Foto anak kecil yang meyuapi adiknya di ladang cukup menarik. Tanpa melihat teksnya, gambarnya cukup bercerita," kata Cindy Wulandari, Mahasiswi semester VI Administrasi Bisnis Polinema.

Selama empat hari pameran (07 - 10 Mei 2016) FOCUS juga menggelar sarasehan, dan presentasi karya. Selanjutnya bingkai - bingkai menarik ini akan menghiasi sekretariat mereka di kampus.

[WA]



BACA JUGA