Friday, 21 February 2020
halomalang.com

Festival Dawai Nusantara 2016: 'Dawai Sebagai Destinasi Bunyi'

23-Jul-2016 [11:00]

Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB), di FDN 2015. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Program Festival Dawai Nusantara ke 2 tahun 2016 kembali akan digelar, pada tanggal 12 - 14 Agustus 2016 dengan bertempat di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.

Dalam FDN#2 kali ini akan diikuti oleh sekitar kurang lebih 100 penggiat dawai nusantara, yang datang dari provinsi di Indonesia serta beberapa negara tetangga. Untuk tema yang diusung dalam gelaran program Festival Dawai Nusantara 2016 adalah 'Dawai Sebagai Destinasi Bunyi' Menurut Direktur Festival ini Redy Eko Prastyo, bahwa animo para penggiat/partisipan serta para apresiator Dawai Nusantara tahun ini luar biasa, terbukti ketika form aplikasi pengisi untuk partisipan kita publish, para penggiat dawai ingin dan sangat antusias untuk bersinergi di program ini.

Mengapa demikian? Karena bagi para penggiat dawai nusantara ini, moment spesial ini bak hari raya dawai, berkumpulnya para penggiat dawai, apresiator, dawai, serta para Instrument Builder dawai. Mereka saling berjejaring, saling silahturahmi, sehingga dari program ini, tercipta ruang bertemu yang besar secara kemanfaatannya selain interaksi dari media online. Menurut Redy, ajang ini lebih menitik-beratkan saling silang bunyi serta potensi yang dimiliki dari kebendaan instrument dawai nusantara itu sendiri serta para penggiat/pembunyi dari dawai nusantara.  

Sehingga dalam hal ini kita akan tahu bahwa Indonesia yang memiliki aneka ragam instrument bebunyian yang luar biasa, di antaranya dalam instrument dawai ini, yang ada pada setiap wilayah dari Sabang sampai Merauke. Dari jenis instrument Dawai Nusantara yang terdata atau dikenal secara popular di Indonesia sekitar 15 jenis, padahal dawai-dawai nusantara yang lain masih banyak dimainkan oleh masyarakat nusantara ini. Karena dalam hal ini biasanya instrument dawai, selain sebagai instrument/media untuk bunyi spiritual juga berfungsi sebagai media penghibur dalam berinteraksi dengan dimensi sosial masyarakat nusantara.  

Yang menarik di Festival dawai nusantara tahun ke 2 kali ini, Malang sebagai tempat diselenggarakannya program ini juga ternyata memiliki dawai, terbukti dari ditemukannya panel Candi Jajaghu (Candi Jago) di Kec. Tumpang, Kab. Malang.

Catatan Dwi Cahyono (Sejarawan/Arkeolog Universitas Negeri Malang):

Detail relief menggambarkan Pemain Wina. Menilik bentuknya, Waditra ini merupakan perkembangan dari bin asal India Utara. Pada viasualisasi ini para dewi hanya diwakili oleh seseorang pengidung, sedangkan Waditra pengiringnya diperluas dari dua buah menjadi empat buah.

Panel relief di Candi Jajaghu di Kec. Tumpang, Kab. Malang yang menggambarkan Pemain Wina.

Waditra berdawai yang di dalam susastra hanya dinyatakan sebuah, yakni wina, dalam relief cerita ini diperkaya menjadi tiga buah, dengan rician:

(a) Dua jenis Wina.

(b) Sebuah Celempung.

Sebuah Wina bentuknya menyerupai perkembangan bar-zither. Menilik konstruksinya dan adanya sebuah resonator tambahan yang bentuknya menyerupai separoh buah labu di ujung tangkainya, mengigatkan kepada tuila di India (Deva, 1979:87).

Adapun sebuah Wina lainnya adalah perkembangan dari bin asal India Utara, yakni Waditra berdawai jenis Wina dengan resonator tambahan yang bentuknya menyerupai buah labu dengan posisi mengarah ke samping atas sebelah kiri kepala Wina dan pada samping kanan pinggang Wina. Waditra berdawai ini juga merupakan perkembangan lebih dari Bar-zither Panil relief selanjutnya menggambarkan iringin-iringan para pelaku seni tersebut, manakala mereka pulang pasca menyemarakkan ritus Dewapuja di Boddhicita.

Para musisi membawa Waditra yang telah dimainkan masing-masing, yaitu seluring (bangsi) vertikal, dua macam Wina dan Celempung. Cara membawa Waditra-waditra ini perlihatkan keserupaan dengan cara membawamya pada masa sekarang. Khususnya mengenai cara membawa Celempung, yang dipanggulkan pada pundak kirinya. Hal ini mengingatkan kita pada cara membawa Kecapi (Siter) oleh pengamen Kecapi berkeliling (Ambarang).

Ini beberapa partisipan yang akan mengisi program FDN 2016 ini diantaranya:

  • Mustafa Daood (USA)
  • Caravan of Praise (Malaysia)
  • Syech Razie Ali Maulana Dawilah (Selangor, Malaysia)
  • Brevin Tarigan dan De Tradisi (Medan, Sumatra Utara , Indonesia)
  • ESA (Bekasi, Jawa Barat, Indonesia)
  • Indra Arifin (Padang Panjang, Sumbar, Indonesia)
  • Kelompok TOPA (Kutai Kertanegara , Kalimantan Timur, Indonesia)
  • Puguh Kribo (D.K.I Jakarta, Indonesia)
  • Tingang Tatu (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Derawan’s Panorama (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Rintik Puisi & Beastree (Sigi, Sulawesi Tengah, Indonesia)
  • Yoyok Harness (Kuta Selatan, Badung, Bali, Indonesia)
  • Joko Porong & Komunitas Sawunggaling (Surabaya, Jawa Timur, Indonesia)
  • Daniel Nuhan | Art Music Project (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Et Labora Foni (Subang, Jawa Barat, Indonesia)
  • Saung Swara (Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia)
  • NoS (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Malang Youth Orchestra (Malang, Jawa Timur, Indonesia)
  • Matazai (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Ranah Project (Padang, Sumatra Barat, Indonesia)
  • Ganzer lana , Nusa Tuak dan Dawai NTT  NTT, Indonesia)
  • Asrie Trisnadi (D.I Yogyakarta, Indonesia)
  • Unen - Unen Regel (Tuban, Indonesia)
  • Jamaloge dan Petikan Dawai (Kalimantn Timur, Indonesia)
  • Arie Moreno (Bandung, Indonesia)

<Mooi Indie Communication>



BACA JUGA