halomalang.com

Kaya Potensi, Ingin Wujudkan Kampung Wisata Budaya Jambangan

07-Jul-2016 [10:00]

Atraksi seni Bantengan yang digelar paguyuban seni Kampung Jambangan, Pandanwangi dalam menyambut bulan puasa. Juga tampil Pencak Silat dari Padepokan Naga Kresna. Sabtu, 21/05/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Tak jauh ketika halomalang memasuki sebuah gang di kawasan Kelurahan Pandanwangi, terlihat 4 titik berwarna kemerahan. Di antara temaram nyala obor tersebut, tampak sosok binatang seperti Banteng-Hitam, bergulung, melompat, membuyarkan kerumunan kecil warga yang memenuhi tiap sudut jalan. Kebetulan juga bulan sedang purnama. Sesekali terdengar teriak anak-anak yang takut-takut-penasaran. Bukannya pergi, kerumunan warga ini kemudian berbaris di belakang karakter Banteng ini, mengiringnya hingga ke depan panggung di ujung jalan. Para pawang was-was mengamati jikalau ada Banteng kalap kembali 'menyerang' penonton. Tapi tenang saja, hal itu tak akan terjadi.

Ngalamers, pertunjukan ini adalah bagian dari kegiatan rutin warga Kampung Jambangan, Kel. Pandanwangi, Kec. Blimbing, Kota Malang dalam menyambut bulan puasa. Pertunjukan Kesenian Bantengan dan Pencak Silat yang ternyata sudah turun temurun dilakukan sejak puluhan tahun silam. Di antara deru kemajuan dan perkembangan kota besar seperti Malang, ternyata masih bertahan sebuah kearifan lokal: budaya tradisi.

"Sejak bapak saya belum ada, kesenian ini sudah ada. Ini turun-temurun. Ada Bantengan, Pencak Silat, Kuda Lumping. Yang biasa digelar rutin tiap tahun ada tiga kali," ujar Sisman, Ketua RW.04 Jambangan kepada Halomalang, Sabtu (21/05/2016).

Kapan terakhir Ngalamers melihat Pencak Silat di tengah kota?. Salah satu pendekar dari Garuda Putih tampil di depan warga RW 4. Jambangan. Sabtu, 21/05/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Tiga kegiatan yang dimaksud tokoh seniman Jambangan ini adalah Barikan, Tumpengan, dan Grebek menjelang puasa Ramadhan. "Barikan digelar ketika seusai panen raya, warga sekampung membuat serabi, ada juga pentas seni. Lalu tumpengan ketika masa panen yang kedua, dan ini wajib," ujarnya bersemangat. Nah acara pada Sabtu malam adalah grebek menjelang puasa, Ngalamers.

Ketika Barikan, kata Sisman, seluruh warga baik tua-muda, semuanya keluar rumah untuk merayakan. Bersyukur atas hasil panen raya yang melimpah. Untuk diketahui, meski dikepung beberapa kawasan perumahan, tokoh-tokoh masyarakat Jambangan masih menerapkan aturan yang ketat kepada para pengembang, agar tidak mengganggu keberadaan sawah warga maupun elemen penyangganya seperti badan sungai. "Kami petani juga masih ingin hidup," tegasnya. Masih banyak petani di Jambangan. Bahkan, Halomalang ikut menikmati aneka suguhan umbi-umbian, pisang, dan hasil sawah lain seperti kacang maupun nasi jagung ketika bertamu ke rumah Sisman.

Dan ternyata, warga di Kampung jambangan masih memanfaatkan 'belik' (sumber air) untuk mandi, maupun ritual ketika malam-malam tertentu. "Bayi-bayi yang baru dilahirkan, setelah umur selapan (1 bulan) dibawa ke sana untuk dimandikan," imbuh Sisman. Sebuah kearifan lokal yang masih terjaga, Ngalamers.

Warga berkumpul di antara salah satu Bantengan, seusai diarak keliling kampung. Sabtu, 21/05/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Di kawasan RW.4 Jambangan yang tak begitu luas, terdapat beberapa kelompok seni seperti: Sholawatan, Bantengan, Pencak Silat, maupun Seni Terbangan. "Anak-anak SD di sini mulai kelas 3 sudah kami biasakan berlatih, sesuai minat mereka, untuk melestarikan warisan leluhur kami. Dan yang lebih penting juga biar mereka jauh dari narkoba," tuturnya. Cara lain untuk mengikat generasi muda setempat adalah dengan mengajak mereka berorganisasi, dan contoh bertutur yang baik dari para orang tua. Itulah sekelumit cerita dari tokoh pembina Pencak Silat, Bantengan Kampung Jambangan.

"Dari potensi yang ada di Jambangan ini, kita bersama LPMK ingin mengemas menjadi sebuah wisata budaya. Jika di Teluk Grajakan ada wisata religi tiap Minggu, di sini budayanya," ujar Drs. Redy Susanto, Lurah Pandanwangi kepada Halomalang.

Menurut Redy, geliat budaya yang berlangsung sejak tahun 60-an ini harus tetap dihidupkan, salah satunya dengan cara menampilkan kesenian warga di event-event tingkat kelurahan, kecamatan, hingga Kota. "Kami dari kelurahan mensupport penuh. Ada wacana juga nanti akan dikemas semacam festival. Kita promosikan ke luar, nanti barangkali ada wisatawan yang ingin menikmati sajian budaya di Malang, bisa kita arahkan ke sini," pungkasnya.

Pencak silat adalah salah satu tradisi turun-temurun di Kampung Jambangan. Bersama potensi lain, kekayaan inilah yang akan diangkat menjadi sajian Kampung Wisata Budaya di Kota Malang. Sabtu, 21/05/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Selain upaya pelestarian budaya, adalah potensi ekonomi warga yang akan diangkat dalam rencana Kampung Wisata Budaya ini Ngalamers. Farid Alfazari, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Pandanwangi meminta warga jika ada event-event semacam ini agar mereka berjualan, baik makanan tempo dulu maupun kuliner masa kini.

"Jambangan memiliki kebudayaan yang bisa diunggulkan, tapi juga harus disertai ekonomi kreatifnya,"

Menurut Farid kegiatan bazar dimaksudkan agar warga tak hanya jadi penonton, tapi juga menikmati hasil ekonominya. "Dan yang terpenting adalah, kapanpun, warga di sini selalu siap," pungkas Farid.

[WA]



BACA JUGA