Saturday, 07 December 2019
halomalang.com

Inilah Sosok Sederhana Yang Mengenalkan Kota Batu Sebagai Kota Apel

Pendirian Hotel Kusuma Agrowisata ini pula yang menjadi jalan masuknya listrik ke kawasan di lereng Gunung Panderman tersebut. Saat listrik menyala, warga mulai datang dan mau menempati daerah yang sudah berubah dari lahan marjinal menjadi lahan ekonomis tersebut.


Apel dan Kota Batu adalah dua hal yang tak terpisahkan, setidaknya dari benak para wisatawan yang pernah berkunjung ke kota berhawa sejuk ini. Namun tahukah Ngalamers sejak kapan Kota Batu populer dengan sebutan Kota Apel? atau siapa yang membuatnya populer?

Dialah Edy Antoro (56). Sosoknya begitu kalem dan sederhana, tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah salah seorang yang paling berperan mengenalkan Kota Batu, Jawa Timur, sebagai Kota Apel. Saat ini Edy adalah Direktur Utama Kusuma Agrowisata Group, perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis wisata terkemuka di Kota Batu.

Siapa tidak kenal dengan wisata petik apel, jeruk, stroberi, dan berbagai tanaman hortikultura lain di Kota Batu?

Petik hortikultura itu dikenalkan oleh Kusuma Agrowisata Group untuk pertama kalinya di Jawa Timur. Wisata petik apel sudah menjadi ruh kota ini. Bukan saja karena banyaknya peminat petik apel yang datang, melainkan juga karena banyaknya pekerja yang terlibat di dalamnya. Setidaknya ada 3.000-an pekerja di seluruh divisi Kusuma Agrowisata Group, dan 90 persennya adalah warga Kota Batu dan sekitarnya.

Ada lima divisi di Kusuma Agrowisata Group, yaitu agrobisnis, hotel, estate, agroindustri, dan Sindu Kusuma Edupark di Sleman, Yogyakarta. Total lahan yang dimiliki Kusuma Agrowisata Group di Kota Batu adalah 90 hektar, dengan pertumbuhan ekonomi usahanya mencapai 35 persen setiap tahun.

Namun, siapa sangka, kesuksesan Kusuma Agrowisata Group lahir dari tetes air mata dan keringat Edy Antoro yang mencangkul sejengkal demi sejengkal tanah di hadapannya selama tiga tahun berturut-turut sebelum akhirnya mendapatkan hasil. Bukan semudah mencangkul tanah sawah yang subur, tetapi tanah tandus berbatu yang dihadapi Edy bersama beberapa anak buahnya.

Tandus

Bermula di tahun 1988, Edy diminta mengelola lahan milik mertuanya seluas 2,5 hektar di kawasan tandus di sisi selatan Kota Batu. Saking tandusnya, tanaman jagung pun tidak bisa tumbuh tinggi. Biasanya di lahan tersebut orang datang untuk mencari batu.

Saat itu harga tanah di sana masih Rp 5.500 per meter persegi.

Sebagai mantan sinder kopi di perkebunan Jember, Edy sempat berpikir ingin menanami lahan tersebut dengan Kopi Arabika. Namun, melihat para petani di sisi utara Kota Batu sukses membudidayakan apel, ia pun tergerak untuk ikut menanam apel.

”Namun, hampir semua orang mencibir saat saya mulai menanam apel. Mereka pesimistis di lahan tandus ini bisa ditanami apel. Mereka berpikir saya hanya buang-buang uang dan energi,” ujar Edy beberapa waktu lalu.

Namun Edy tetap dengan keyakinannya untuk menanam apel di lahan tandus tersebut. Setelah diolah selama setahun, lahan itu mulai ditanami apel pada tahun 1989.

Meski di lahan tandus, jauh dari perkampungan penduduk, tanpa listrik dan minim pengairan, Edy yakin akan berhasil. Bahkan merelakan air PDAM menjadi sumber pengairan utama di lahannya, Edy terus menggarap kebun apelnya dengan dibantu 60 pekerja.

Benar saja, beberapa kali tanam, Edy mendapati usahanya gagal total. Tingkat kematian tanaman apelnya hingga 40 persen. Namun hal tersebut tidak membuatnya putus asa. Tiga tahun sejak pertama kali tanam, tanaman apel miliknya mulai membuahkan hasil. Ia mulai bisa panen apel setelah mencari bibit apel terbaik hingga ke luar Jawa.

”Saya ingat waktu itu langsung bisa kredit mobil untuk mengangkut hasil panen apel ke Surabaya,” ujar suami dari Susana tersebut.

Namun kegembiraan ini tidak lama Ngalamers. Saat membawa 8 kuintal apel segar ke pembeli di Surabaya, apel Edy hanya dihargai Rp 1.500 per kilogram. Padahal, harga di tingkat tengkulak di Kota Batu saja masih Rp 1.900 per kilogram dan harga di pasaran Surabaya bisa mencapai Rp 5.500 per kilogram. Alasan pembeli waktu itu, kualitas apel milik Edy tidak baik. Padahal, saat ditimbang, apel reject milik Edy hanya 2 kilogram dari total 8 kuintal yang dijual.

”Sejak saat itu saya merasa sakit hati. Saya bertekad ingin membuat supermarket di tengah kebun agar harga buahnya tidak diombang-ambingkan pembeli dan tengkulak yang tidak menghargai kerja petani,” ujar Edy mengingat-ingat masa lalunya.

Supermarket

Keinginan itu pun akhirnya diwujudkan tahun 1992. Konsepnya, orang bisa memetik apel langsung di kebun dan bisa membawa pulang. Harga karcis masuk ke kebun waktu itu Rp 5.000, sama dengan harga 1 kilogram apel di pasar. Edy mempromosikan sendiri wisata petik apel itu dari hotel ke hotel, dari lokasi wisata ke lokasi wisata lain.

Dan, rupanya ide petik apel langsung di kebun ini pun semakin dikenal di kalangan wisatawan.

Untuk menunjang kesehatan apel produksinya, Edy mulai menggunakan pupuk organik yang dibeli dari warga sekitar. Banyak petani pun mendapat keuntungan dari menjual olahan kotoran ternak mereka. Usaha ini terus maju karena ia juga membuat hotel di sekitar kebun apelnya. Tujuannya, agar semakin banyak wisatawan bisa menikmati kebun apelnya tanpa harus terburu-buru pulang.

Pendirian Hotel Kusuma Agrowisata ini pula yang menjadi jalan masuknya listrik ke kawasan di lereng Gunung Panderman tersebut. Saat listrik menyala, warga mulai datang dan mau menempati daerah yang sudah berubah dari lahan marjinal menjadi lahan ekonomis tersebut.

Berangsur-angsur, kawasan di lereng Panderman mulai ramai bukan saja untuk rumah tinggal, melainkan juga untuk tempat wisata dan usaha. Jalanan sempit makadam yang dulu menjadi satu-satunya akses di sana kini berubah menjadi jalan aspal mulus dengan dua jalur.

Kini, harga tanah di sisi selatan Kota Batu tersebut lebih dari Rp 3 juta per meter persegi.

Tidak berhenti di situ saja, Edy juga mulai membuat minuman Sari Apel, Dodol Apel, hingga beragam oleh-oleh dari Apel dan hortikultura lain. Warga yang semula belajar membuat aneka makanan olahan apel itu kini mulai membuat usaha sendiri. Tidak sedikit di antara mereka turut menanam apel seperti Edy. Warga pun turut berkembang bersama kemajuan usaha Edy.

”Bagi saya tidak masalah banyak orang bisa berusaha karena saya. Saya pun bisa karena ada mereka yang membantu saya. Mungkin dengan doa mereka pula saya bisa seperti ini. Jadi mengalir seperti air saja,” ujar ayah tiga anak tersebut.

Edy mengajarkan bahwa sesulit apa pun itu, kalau diusahakan dengan sungguh-sungguh, akan membawa hasil suatu ketika. Dan itu terbukti Ngalamers, Edy mampu menyulap bebatuan di tanahnya menjadi apel ranum dan segar yang diburu orang.

Sumber : nationalgeographic



BACA JUGA