Saturday, 19 October 2019
halomalang.com

Dimulai! Langkah Tarpin Pecahkan Rekor Dunia Jalan Mundur Malang - Bromo - Semeru

25-Oct-2016 [19:00]

Tarpin memulai perjalanan mundurnya ke Bromo - Semeru - Malang untuk pecahkan rekor dunia sekaligus kampanye bersih gunung. Ia ditemani sahabat setianya, Apen (topi krem) saat melewati Jl. Sulfat, Purwantoro. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Iswahyudi (52) atau yang lebih dikenal sebagai Cak Tarpin tengah memulai usahanya memecahkan rekor dunia jalan mundur ke puncak Gunung Semeru pada hari ini, Selasa (25/10/2016).

Start dimulai di halaman sanggar Kridha Budaya Kampung Celaket Kota Malang. Tarpin yang terkenal sebagai Atlit Gimbal Alas Indonesia ini harus menjalani ritual ruwatan terlebih dahulu oleh tokoh Tengger, Ki Baryo dan dibantu oleh seniman serba bisa Sujiwo Tedjo yang juga hadir di event International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) 2016.

Selanjutnya Saufullah Yusuf, Wakil Gubernur Jatim secara langsung melepas keberangkatan Tarpin.

Wagub Jatim Saifullah Yusuf dan Seniman Sujiwo Tedjo mendampingi Tarpin selama prosesi ruwatan. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Selamat jalan untuk teman-teman semua. Ini adalah bagian yang dimiliki bangsa ini, mari kita jaga bersama. Saya senang semua (tua muda) hadir semuanya di sini," ujarnya. Gus Ipul juga mengapresiasi gelaran ICCCF yang telah memasuki tahun ke-5. "Kita tidak akan menemukan Jaranan di Malaysia, apalagi Eropa. Tugas kita untuk menjaganya,"

Selnjutnya Tarpin yang ditemani sekitar 30 kru Gimbal Alas sebagai tim pemandu memulai perjalanan sejauh 198 Km dengan rute: Kota Malang - Tumpang - Jarak Ijo - Bromo - Ngadas - Ranupani -Puncak Semeru - (kembali) - Gubuk Klakah - Pendopo Kab. Malang.

Perjalanan ini rencananya ditempuh dalam rentang 8 hari Ngalamers (finish 01 November 2016).

Rekan rekan Tarpin di Gimbal Alas Indonesia yang setia mendampingi. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Hanya spion dan trash bag yang saya bawa," ujarnya singkat ketika ditemui halomalang. Tak hanya pemecahan rekor dunia jalan mundur, Cak Tarpin menambahkan ada misi lingkungan yang diusung dalam setiap langkahnya. Berbarengan dengan event ini dilakukan bersih sungai, tanam pohon, dan bersih gunung dengan pungut sampah.

"Persiapan fisik satu bulan. Yaa hanya lari-lari saja tiap hari (tertawa)," sambungnya. Jauhnya rute yang ditempuh, tim telah menyiapkan beberapa spot untuk istirahat, di antaranya di Tumpang, Bromo, Ranupani, dan Kalimati. "Kebanyakan jalan di siang hari. Vegetasi menuju puncak (Mahameru) yang paling berat,"

Gus Ipul menuangkan kendi untuk Tarpin di akhir prosesi. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Selain kampanye bersih gunung, pria yang sehari-hari bertugas di Tumpang Camp Adventure ini menjelaskan, "Supaya temen-temen yang naik gunung, sampahnya harus dibawa pulang," pungkas Tarpin.

Sebelumnya Ngalamers, pada tahun 2013, Tarpin pernah melakukan jalan mundur ke puncak Semeru. Namun kala itu rute start diawali dari Pos Ranu Pani. Kemudian pada 2014, ia kembali melakukan hal sama di Gunung Rinjani. Semuanya juga disertai aksi pungut sampah. Dari kesekian aksinya, Tarpin selalu ditemani sahabat setianya di Gimbal Alas, Apen.

"Saya kernet-nya Cak Tarpin," kata Apen memperkenalkan diri. "Jalan mundur kali ini juga untuk mengangkat pariwisatanya Malang Raya. Kedua untuk kepedulian lingkungan. Kita bersihkan sampah, tanam pohon dan pelepasan ikan di sungai di wilayah Tumpang,"

Atraksi Jaranan dari Padepokan Cahyo Budoyo, Petung Sewu, Tumpang di ICCCF 2016. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Kegiatan ini menurut Apen mendapat dukungan dari Tumpang Camp, Saver, SAR Semeru dan seluruh organisasi pecinta alam di Malang. Tak hanya operasi SAR, pegiat alam bebas Gimbal Alas Indonesia juga melakukan kegiatan berbasis sosial - lingkungan secara berkala dan tak hanya di wilayah Malang Raya. Anggotanya tak hanya para pendaki, mulai dari porter, jeep driver, pegiat lingkungan, akademisi hingga dokter.

"Kita maju, lihatlah yang belakang. Mundurnya Tarpin bukan berarti mundurnya perjuangan," pungkas Apen.

Sekitar 30 orang tim dari Gimbal Alas Indonesia akan memandu perjalanan tarpin. Selasa, 25/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Selain para pejabat daerah, dan para pelaku seni, momen ini dihadiri langsung oleh Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (LEPRID) yang akan mencatat raihan dari Tarpin. LEPRID akan melakukan pengamatan penuh selama perjalanan ini Ngalamers.

[WA]



BACA JUGA