Sunday, 15 September 2019
halomalang.com

'Ken Dedes, Cukup Alasan Dijadikan Ikon Malang'

17-Nov-2016 [14:00]
Tak hanya menurunkan raja-raja Tumapel (Singhasari), dari rahimnya menurun para raja di kemaharajaan Majapahit) ini memiliki sebutan Widya Dewi atau Dewi Ilmu.

Arca potret Ken Dedes sebagai Prajnaparamita (Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi) di Balearjosari, Blimbing. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Selain usulan untuk menjadikan taman-taman kota menjadi lebih bermakna dengan gelaran dialog maupun kegiatan seni budaya, muncul gagasan tentang menjadikan sosok Ken Dedes sebagai ikon di Malang.

"Ken Dedes, cukup alasan dijadikan ikon Malang Raya dari masa lampau. Masa Hindu - Buddha," kata Dwi Cahyono, Arkeolog dan Dosen Universitas Negeri Malang dalam sesi dialog budaya Ajar Pusaka Budaya IV: Ken Dedes Strinareswari Perempuan Dalam Derap Sejarah, Minggu (24/04/2016) di Taman Ken Dedes.

Acara ini diinisiasi oleh Patembayan Citralekha. Juga hadir Kepada Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni, Budayawan serta Seniman Kota/Kabupaten Malang.

Masyarakat Malang, khususnya Kota, lebih mengenal monumen Tugu (Alun-alun Bundar) Balai Kota, atau Jalan Besar Ijen sebagai bangunan fisik yang cukup ikonik bagi warga lokal maupun manca untuk mengenal Kota Malang. "Keduanya merupakan ikon dari jaman kolonial Belanda. Dan itu sah-sah saja. Tiap masa memiliki ikonnya masing-masing," imbuh Dwi.

Heritage Talk Show dan Performance Art. Dari kiri, Dwi Cahyono (Arkeolog), Ida Ayu Made Wahyuni (Kadisbudpar Kota Malang), Kristanto Budiprabowo (Budayawan) dan Winarto (Kampung Celaket). Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Lantas kenapa Ken Dedes?

Dwi Cahyono menyebut tiga poin utama dalam penjelasannya:

1. Kesesuaian dengan sebutan Malang Kota Pendidikan.

Penceritaan Ken Dedes sebagai 'Wanita Utama' (Strinareswari) mungkin tidak lebih dikenal daripada konflik antara Ken Arok dan Tunggul Ametung. Tapi tahukah Ngalamers, jika ibu para raja-raja besar nusantara (tak hanya menurunkan raja-raja Tumapel (Singhasari), dari rahimnya menurun para raja di kemaharajaan Majapahit) ini memiliki sebutan Widya Dewi atau Dewi Ilmu.

Patung/arca potretnya yang berada di gerbang masuk Kota Malang ini digambarkan sebagai 'Prajnaparamita' Dewi Kebijaksanaan yang duduk sempurna di atas Padmasana (tempat duduk teratai). Dwi Cahyono menyebutnya 'Dewi Pengetahuan Tertinggi' dari masa klasik Hindu-Buddha. "Juga terdapat teratai yang di atasnya terdapat sebuah pustaka, pustaka merupakan simbol ilmu," ujarnya.

Performance art dari Celoteh (Bejo Sandy & Seyhan Zuleha) dengan tema Emasipasi. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Susastra Pararaton menggambarkan Ken Dedes sebagai seseorang yang tercerahkan, matang dalam ilmu (Karma Amamadangi). Bisa dimaklumi, mengingat bahwa mPu Purwa (sang ayah) adalah seorang rokhaniawan Mahayana Buddhisme di Mandala Buddhis Panawijyan. Panawijyan kini lebih dikenal sebagai Polowijen, sebuah kelurahan di Kec. Blimbing, Kota Malang. Nama Dedes juga berarti 'Harum'

2. Beautiful City.

Ekspresi kencantikan secara luas, kejiwaan dan kepribadian. Ken Dedes disebut dalam Pararaton 'kecantikannya melebihi rembulan'. Tapi tak hanya gambaran cantik secara ragawi (bisa dilihat dari ikonografis arcanya), Ken Dedes memiliki kepribadian yang baik.

"Sosoknya cantik fisik, dan juga dari dalam. Juga berperilaku baik, beretika dalam pergaulan. Bahkan ia adalah sosok ibu yang baik bagi keluarga," kata Ida Ayu Made Wahyuni Kepala Disbudpar Kota Malang. "Ia adalah wanita utama (Strinareswari)."

Saking cantiknya, ia juga dikenal sebagai Bunga Desa Dari Timur Gunung Kawi - Tumapel. Tak heran ia kemudia 'dibawa lari' Tunggul Ametung, suami terdahulunya hingga lalu memikat Ken Arok.

Ken Arok dan Ken Dedes dari Bawarasa Surya Aji. Peran Ken Arok yang diperankan penari asal Bulgaria Georgi Panayotov. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Tidak benar jika ia adalah wanita yang tidak setia. Atau tidak bersedih, ketika mengetahui Tunggul Ametung dibunuh Ken Arok. Kenapa ia tidak ikut bunuh diri jika 'sehidup semati'? Itu karena ia sedang hamil Anusapati," kata Dwi. Pada masa tersebut, siapapun istri dari raja yang kalah adalah menjadi istri jarahan raja yang menang, dalam hal ini Ken Arok. "Ini adalah konsekuensi politik, ia tetap menerima meski berat hati," lanjut Dwi.

Bunga Teratai yang menjadi singgasananya menyimbolkan kebersihan dan kesucian. Predikat Kota Bunga bagi Kota Malang juga relevan dengan wujud ikonik Ken Dedes.

3. Teladan.

Ikon yang memberi inspirasi, semangat bagi generasi baru. "Ada banyak 'versi' Ken Dedes pada masa sekarang. Wanita yang memberikan contoh baik bagi lingkungan sekitarnya," kata Ida Ayu.

Bukan kebetulan, Ajar Pusaka Budaya IV ini masih berdekatan dengan momen Hari Kartini. Penghargaan kepada semangat-semangat keteladanan dari sosok perempuan. Tak hanya Kartini yang ada di Jawa, Nusantara memiliki banyak pejuang emansipasi di tiap jamannya.

"Kebetulan arca Ken Dedes ini berdekatan dengan situs Polowijen. Taman ini memiliki makna lebih dari sekadar ekologis maupun Edukatif," jelas Dwi.

Puisi Prajnaparamita oleh Eka Mulya Astuti. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Menurut Budayawan Malang, Kristanto Budiprabowo, ada yang penting dari pemahaman sosok Ken Dedes. Tak hanya ukuran kecantikan, kepribadian, atau kepintaran. "Bagaimanapun juga, Ken Dedes adalah manusia biasa. Manusia biasa yang bisa keluar dari 'Box'-nya,"

Apa yang dimaksud adalah keberanian kita untuk melihat diri dan orang lain sebagai manusia biasa. "Memanusiakan sosok Dewi. Manusia lain, kita semua adalah sama. Ketika di daerah lain misalnya ada Cut Nyak Dien, Kartini, atau siapapun, kita Arema jangan sampai minder. Kita punya Ken Dedes," pungkas Kristanto.

Warna Putih yang 'Dipersoalkan'

Ngalamers, revitalisasi beberapa taman kota di Malang, juga dilakukan di Taman Ken Dedes. Dilakukan pengaturan tanaman, penambahan patung topeng besar di sisi kiri dan kanan arca Ken Dedes, tapi yang menarik perhatian beberapa khalayak adalah warna putih di arca Ken Dedes-nya.

Arca Ken Dedes dicat putih sejak akhir 2015 lalu, bersamaan dengan revitalisasi area taman. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Saya sering lewat sini (A. Yani Utara), ketika noleh ke Patung Ken Dedes, mohon maaf, kalau malam hari kayak pocong," ujar Hari, warga Polehan meyampaikan keprihatinannya. "Saya prihatin dan nangis, arca yang sangat-sangat indah, tapi dadine kok koyok ngene," ujarnya.

Pendapat Hari direspon pengunjung serta budayawan yang hadir dengan senyum dan tawa kecil, menyiratkan bermacam hal.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni menyampaikan, "Silakan bapak menyampaikan usulan ke DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Kota. Karena ini wilayah kewenangan mereka. Pasti akan mendapat tanggapan. Atau yang terkait dengan Kota Malang bisa ke Abah Anton langsung, beliau orangnya terbuka," kata Ida.

Suasana Taman Ken Dedes ketika malam hari. Minggu, 24/04/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Menurut Dwi Cahyono, setidaknya 3 kali dilakukan perubahan warna pada arca Ken Dedes di Balearjosari ini. Hitam Keabuan, Perunggu dan terakhir Putih (hanya di bagian arcanya).

"Seperti di beberapa artefak di halaman Candi Singosari yang berwarna cokelat keputihan, karena berbahan 'Limestone' (batu kapur yang keras). Bukan bebatuan andesit. Mungkin idenya dari situ, tapi putihnya ya nggak memplak begini," terang Dosen UM ini.

Terkait revitalisasi yang terkait sejarah maupun bangunan cagar budaya, menurut Dwi Cahyono, DKP kurang konsultatif kepada para ahli. "Saya sangat keras tehadap hal-hal semacam ini. Contohnya pembangunan vergola hijau di atas jembatan Celaket. Itu akan menghilangkan nilai heritagenya, itu jembatan bersejarah," pungkas Dwi.

[WA]



BACA JUGA