Wednesday, 27 March 2019
halomalang.com

Hidupkan Kisah Tokoh Pers Indonesia: Dari Tulisan ke Pertunjukan Seni

05-May-2017 [09:00]

Bejo Sandy dari Teater Celoteh dalam monolognya di malam apresiasi SADA JIWA untuk mengenang 9 tokoh pers Indonesia di Galeri Raos Batu. Sabtu, 08/04/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Perampok berbaju putih itu berjalan layaknya orang bingung, mondar mandir berceloteh tentang media masa. "Matikan saaja tv ituu. Isinya cuma iklan...," begitu cara Bejo Sandy menarik perhatian seisi Galeri Raos pada Sabtu (08/04/2017) malam.

Bahasa tubuhnya menunjuk satu kerumunan penonton di kegelapan. Ia bangga dengan radio tuanya yang diputar keras-yang suaranya bercampur petikan gitar Mukti, Seyhan yang memukul Celempung, dan gema rinding dari mulut Kristine.

"Kalian tahu, mesin ketik ini hasil saya membegal di Selatan Kota. Anggota? Tidak, saya tak peduli. Kalau aparat saya pasti peduli..lalu ia mengeluarkan apa? Bukan SIM, apalagi BPKB..'Saya Wartawan!' Ahh saya tak peduli kamu wartawan apa wartawati..," sambung sesi awal monolognya. Dari situlah cerita dimulai. Perampok - mesin ketik - radio tua - kamera foto- dirangkai apik oleh Teater Celoteh menjadi mesin waktu. Membawa para penonton 'SADA JIWA' mengenal kembali 9 tokoh pers tanah air: Adinegoro, Mochtar Lubis, Agus Salim, P.K. Ojong, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Goenawan Muhammad, H. Misbach, dan Tirto Adhi Soerjo.

Teater Celoteh saat perform di event SADA JIWA di Galeri Raos, Batu. Sabtu, 08/04/2017. Dari kiri: Mukti, Seyhan, Kristine, Bejo. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Celoteh lebih dikenal sebagai kelompok olah seni tubuh (performing art) yang kerap membawakan sajak/puisi metafora kritik sosial. Satu yang khas dari penampilan mereka adalah penggunaan lak ban. Tapi penampilan kali ini entah kenapa properti itu tak dimunculkan. "Kami tengah giat memopulerkan alat musik tradisi dari bambu, rinding ini misalnya yang dari Jatim, agar kembali dikenal luas," ujar Bejo kepada halomalang seusai pertunjukan di event SADA JIWA.

SADA JIWA adalah ekesebisi dan apresiasi untuk tokoh pers nasional yang digagas mahasiswa Ilkom FISIP Universitas Brawijaya (08 - 11 April 2017) di Galeri Raos Kota Batu. Para mahasiswa ini mengenalkan 'Performance Research', sebuah konsep pendekatan baru dalam dunia akademis 'yang tidak monoton'. Singkatnya, performance research adalah alih wahana tulisan menjadi sebuah karya ataupun performance. Dalam hal ini, panitia mengubah tulisan akademis menjadi bentuk pusisi, teater, dan art exhibition (lukisan).

Penonton SADA JIWA mengamati lukisan berjudul 'Terlupakan' karya Yawara dan Roudlo. Karya ini menggambarkan Tirto Adhi Soerjo dalam memperjuangkan pers Indonesia melalui surat kabar yang ia dirikan: Medan Prijaji, Soeloh Keadilan adalah dua di antaranya. Sabtu, 08/04/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Perkawinan sisi akademis dengan kesenian, menjaga rantai ilmu terus bertransformasi dalam bentuk lain: agar hidup selamanya. Tentu saja merujuk pada semangat kejuangan pers di Indonesia yang diwakili 9 tokoh yang beberapa masih berkarya hingga sekarang.

"Teater dipilih untuk menampilkan sebuah pertunjukan yang dapat menggambarkan sebuah kisah-kisah dari para tokoh pers.Teater ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran, simpati para pengunjung tentang pentingnya perjuangan tokoh pers. Teater juga bisa dapat membangun nuansa yang damai," ujar Rizki Akbar, ketua pelaksana SADA JIWA dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Celoteh tak hanya mengulik sembilan tokoh tadi Ngalamers. Kehidupan para pewarta/juru foto yang dikejar target, bagaimana perusahaan pers menghidupi mereka, hingga kemajuan teknologi yang memunculkan banyak jenis media, hingga sosial media sebagai sumber informasi khalayak-begitu padat disampaikan Bejo dalam kurun 45 menit.

"Banyak realitanya. Beberapa ide berasal dari pengalaman pribadi, dulu waktu ikut ospek jurnalistik ada pengalaman berharga di lapangan. Dari situlah salah satunya," terang Bejo.

[WA]



BACA JUGA