Saturday, 15 December 2018
halomalang.com

Ada MusicStation, Menunggu Kereta di Stasiun Malang Kini Semakin Asyik

Sang inisiator menyebut jika siapapun bisa bergabung. "Asalkan serius. Mainnya juga ok, dan juga asyik. Musisi harus asyik lho. Kan di sini dilihat banyak orang,"

Hiburan menunggu keberangkatan kereta. MusicStation di Stasiun Malang Kota Baru. Senin, 30/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Seneng nunggu di sini. Ada hiburan. Musiknya juga nggak asal-asalan," kata Muhammad Rifki. Sesaat sebelumnya, sembari duduk di ruang tunggu-ia tampak menirukan lirik lagu yang dimainkan 4 orang di sudut dekat pintu keluar Stasiun Malang Kotabaru. Dengan peralatan elektronik sederhana.

Kereta api menjadi andalan mahasiswa Akuntansi Polinema asal Jakarta ini untuk bepergian ke luar kota, termasuk saat mudik. "Baru tahu hari ini. Yang sering-sering aja diadain, keren sih. Di stasiun-stasiun lain belum pernah liat, juga di Jakarta," imbuhnya kepada halomalang, Senin (30/01/2017). Tak lama berselang, KA Matarmaja yang ditunggunya datang. Ia lalu bergegas menuju gerbong. Hujan mulai turun.

Sore tersebut adalah tepat ke-32 kalinya MusicStation dimainkan. Ada puluhan musisi Malang yang terlibat. Wahyu GV Arema Voice, sang inisiator menyebut jika siapapun bisa bergabung. "Asalkan serius. Mainnya juga ok, dan juga asyik. Musisi harus asyik lho. Kan di sini dilihat banyak orang," terangnya saat ditemui halomalang di sebuah kedai di samping mereka bermusik.

Menurutnya, ide bermusik seperti ini sudah cukup lama terpendam. "Kebetulan saya di sini dikasih ruang. Memang dari dulu saya kepengen punya ruang sendiri yang bisa terus berlanjut. Dan bersambut, pihak Stasiun Malang mendatangi saya,"

Tempat 24 jam penuh, kebutuhan listrik, dan penitipan alat. Tak butuh waktu lama untuk menerima tawaran tersebut. Tapi di sisi lain tak ada persiapan sama sekali. "Termasuk sound system segala. Akhirnya ya saya manfaatkan alat sederhana. Sound keyboard biasa 5 channel. Dan hingga sekarang, banyak musisi support ingin main di sini," sambungnya.

Loket pembelian tiket KA di Stasiun Malang Kota Baru. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Di luar, tampak seorang guru PNS bergabung dengan band performer. Rupanya ia seorang gitaris. Empat dari personil band tersebut adalah dadakan Ngalamers. Baru hari tersebut kenal. Diawali dari nimbrung dan langsung nge-klik. Hasilnya, 'I Live My Life For You' Firehouse meraka mainkan dengan apik, berlanjut beberapa lagu kemudian.

Tujuan Wahyoe dengan MusicStation ini adalah menghibur penumpang, dan menyajikan musik yang bagus.

"Anak-anak (yang gabung) di sini kebanyakan idealis. Rata-rata dari indie. Main dari cafe ke cafe. Karena main di stasiun mainnya harus pelan. Musisi di sini harus belajar menekan egonya. Juga informatif. Intinya belajar menjadi seorang entertainer,"

Yang ia maksudkan adalah membantu pihak stasiun memberi informasi kepada penumpang terkait jadwal kereta, menjaga kebersihan, hingga lokasi-lokasi wisata di Malang Raya jika ada yang bertanya. "Tak hanya wisata alam atau buatan, wisata musik juga ada di Ngalam,"

Musik, Bahasa Pertemanan.

Ada banyak hal baru yang dirasakan musisi yang terkenal dengan lagu bertemakan Arema ini. Ia mengaku bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, termasuk para musisi muda berbakat Malang yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Cara mengemas alat sederhana, namun hasilnya tetap berkualitas juga baru ia pelajari.

"Saya jadi belajar. Ternyata musik itu bahasa pertemanan, pergaulan. Pemusik itu harus luwes. Semua bisa jadi teman. Dari cleaning service, kru, kepala stasiun, hingga pejabat KAI Jatim pernah bergabung di sini,"

Setiap hari MusicStation berada di spot yang sama. Menurut Wahyoe, terkadang sejak pagi hingga pukul 20.00 WIB. Ia terbuka bagi siapapun yang ingin berpartisipasi.

Spontanitas tapi tetap ok. Salah satu anggota band dadakan ini adalah seorang Guru. Senin, 30/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Kita memang sediakan kotak apresiasi. Tapi, saweran dari pengunjung bukan tujuan utama. Anak-anak luar biasa, mereka juga bisa jualan album. Dan laku. Itu yang saya harapkan. Di tengah lesunya industri musik yang seperti ini, kita sudah memulai langkah kecil,"

Lokasi stasiun dipilihnya bukan tanpa alasan. Sehari ribuan penumpang dari berbagai kota datang dan pergi. Ini adalah lokasi strategis untuk mengenalkan Malang dengan segala potensinya, termasuk musik.

"Ibaratnya panggung, musisi di sini juga berbenah. Meski tak ada ikatan, tetap tidak boleh main-main. Saya nggak ingin ada yang main tapi pake sendal," ujarnya tertawa. "Ini juga gengsi kita. Menyampaikan apapun juga dengan baik,"

Banyak musisi luar kota yang ingin bergabung, karena setahu Wahyoe memang belum ada model apresiasi seperti MusicStation ini. Namun, menjalankannya setiap hari tetaplah tidak mudah. Terkadang ramai kolaborator, terkadang sepi. Tak jarang ia harus menyiapkan sendiri alat-alatnya sejak pagi.

"Mental terutama. Kadang suara saya tiba-tiba 'ilang', ternyata nggak mudah di panggung seperti ini. Selama 35 tahun lebih bermusik di sinilah saya merasakan hal spesial. Di sini merdeka. Ini yang bisa saya lakukan untuk Kota saya,"

Membangun kepercayaan di antara musisi dan juga pihak stasiun tidaklah mudah. Transparansi manajemen dan komunikasi yang bagus adalah kuncinya, kata Wahyoe.

Berikutnya ia berencana akan mensetting panggung sederhana untuk MusicStation, agar lebih menarik. Termasuk bekerjasama untuk ruang display aneka souvenir, atau album bagi para musisi. Ia bahkan memiliki impian besar, membuat seperti MusicStation di Bandara Abdulrachman Saleh Malang.

Minimnya Ruang-ruang Apresiasi.

Kota Malang memang tak pernah kekurangan musisi-musisi bertalenta hingga sekarang. Meski 'bagaimana cara menjual album' masih menjadi masalah klasik kebanyakan, Wahyoe juga menyoroti minimnya peran serta pemerintah untuk memajukan industri ini.

Wahyoe GV (paling kanan) bersama sejumlah musisi dan calon penumpang di Stasiun Malang. Senin, 30/01/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Tidak usah rencana membangun gedung pertunjukan yang megah, toh nanti yang bisa main ya band-band 'besar' Ibu Kota. Utamakan talenta sendiri. Gedung yang sudah ada saja cukup, tinggal direnovasi untuk kebutuhan show,"

Ia lalu mencontohkan Gedung Kesenian Gajayana. Termasuk taman-taman kota di Malang sudah bisa menjadi tempat apresiasi. "Tak perlu mewah. Amphiteater di beberapa taman sudah ada. Katakanlah di Alun-alun (Kotak) khusus musik religi, lalu di tempat lain ada untuk keroncong, jazz, atau rock. Orang tahu harus menuju ke mana, kan asyik wisata musik. Tinggal dikomunikasikan dan manage yang baiklah,"

Keseriusan bisa dimulai dari hal-hal kecil. "Saya juga menyoroti apresiasi terhadap band - band Malang sekarang yang kurang dihargai. Main di Cafe dengan bayaran tak seberapa, dan harus dibagi beberapa orang. Di sini belajar biar mainnya ok, selanjutnya saya bisa komunikasikan dengan pihak-pihak cafe atau hotel ,agar bisa mengapresiasi dengan bagus. Karena dari situlah mereka hidup," pungkasnya.

[WA]


BACA JUGA