Saturday, 25 January 2020
halomalang.com

Keefektifan Formula Bioaction dalam Produksi Bioetanol

24-Jul-2017 [11:00]

Indonesia merupakan satu dari sekian negara yang diperkirakan hanya dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar fosil selama 23 tahun mendatang. Pemerintah bekerjasama dengan masyarakat mencari sumber energi alternative untuk mengatasi masalah ini. Energi alternative yang dihasilkan juga diharapkan tidak menimbulkan polusi udara yang dapat menyumbang kerusakan dan efek rumah kaca yang telah terjadi. Saat ini Indonesia telah mengembangkan salah satu sumber energi alternative yaitu bioethanol. Pengembangan bioethanol yang dilakukan karena diperkirakan produksi bioethanol di Indoonesia akan terus meningkat dengan persentase kenaikan 5,6% (Iman et al, 2011).

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan hasil fermentasi gula yang berasal dari sumber polisakarida seperti karbohidrat, amilum, dan seluloosa menggunakan bantuan mikroorganisme (Elfiah, 2010). Tanaman yang umum digunakan sebagai bahan produksi bioetanol adalah singkong, dan kelapa. Namun, kedua bahan tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti penggunaan singkong yang juga terbentur dengan meningkatnya kebutuhan pangan berbasis olahan singkong sebagai diversifikasi pangan oleh masyarakat, sehingga diperlukan bahan alternative lain. Bahan baku alternative yang berusaha dikembangkan adalah buah bintaro.

Bintaro (Cerbera manghas) merupakan jenis tanaman mangrove yang banyak tumbuh di Indonesia dan belum dimanfaatkan secara maksimal (Gaillard, 2004). Buah ini memiliki 36,945% kandungan selulosa yang sangat berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku bioethanol (Chang et al, 2000). Pengolahan dilakukan melalui proses hidrolisis untuk memecah selulosa menjadi glukosa yang merupakan bahan baku fermentasi bioethanol (Iman et al, 2011).

Berdasarkan latar belakang tersebut kami berusaha mencari formula efektif dalam produksi bioethanol dari buah bintaro. Proses pengoahan buah bintaro yang dilakukan berbeda dari peneliti terdahulu yang juga mengolah buah bintaro menjadi bioetanol. Proses yang dilakukan dimulai dari pretreatment, uji fehling, uji Nelson-Sommoogyi, delignifikasi, hidrolisis asam sulfat, fermentasi, dan distilasi.

Hasil yang diperoleh dari uji fehling menunjukkan bahwa buah bintaro mengandung gula pereduksi, dibuktikan dengan adanya warna merah bata di dasar tabung reaksi. Besarnya kandungan gula pereduksi juga dibuktikan dengan uji Nelson-Somogyi dengan kadar sebesar 7.002 ppm. Untuk hasil uji gas kromatografi diketahui bahwa persentase bioethanol yang dihasilkan dari bahan baku buah bintaro dengan formula yang kami gunakan yaitu sebesar 0,977% dan hasil tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Dari hasil tersebut diketahui bahwa formula yang kami gunakan lebih efektif dalam mengolah buah bintaro menjadi bioethanol.

Keunggulan lain dari penelitian ini terletak pada tingginya efisiensi waktu yang dibutuhkan. Iman (2011) membutuhkan waktu 9 hari untuk mengolah buah bintaro menjadi bioethanol, sedangkan kami membutuhkan 4 waktu 4 hari 3,5 jam. Harga dan implementasi dari penelitian ini juga ekonomis karena bahan-bahan yang digunakan tergolong murah dan mudah didapat.

Penggunaan buah bintaro untuk produksi bioethanol skala besar juga tidak akan persaingan dengan pemeuhan kebutuhan masyarakat terutama pangan, karena buah ini tidak dapat dikonsumsi akibat kandungan racun cerberin yang dimiliki. Formula BIOACTION juga dapat dicoba pada sumber selulosa lain. Apabila etanol yang dihasilkan melebihi roadmap penelitian sebelumnya maka formula BIOACTION layak dikomersialkan. Formula BIOACTION yang digunakan secara massal diharapkan dapat meningkatkan produksi energi biomassa yang berefek domino terhadap ketercapaian cita-cita pemerintah pada Kebijakan Energi Nasional (KEN) tahun 2025, khususnya pada sector energi biomassa. 

Kiriman lina yuaniar <[email protected]>



BACA JUGA