Sunday, 15 September 2019
halomalang.com

Tak Hanya Penghias Layang-layang, Sendaren Simpan Manfaat Untuk Ekologi Pertanian

02-Jul-2017 [13:00]
Suara-suara penghalau hama pertanian sudah ia ujikan langsung di beberapa tempat, dua di antaranya di Pacitan dan Wonogiri. Di Wonogiri, untuk satu hektar sawah, ia tempatkan 40 tiang-yang masing-masing tiang berisi 5 instrumen. Ujicoba tuning frekuensi disesuaikan dengan jenis hama yang ada.

Dari kiri: Misbach Bilok, Kristanto Budiprabowo, Arsie Tresnady, dan Ganzer Lana dalam Workshop dan Seminar Festival Dawai Nusantara #2 di Auditorium Universitas Kanjuruhan, Malang. Sabtu, 13/08/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ketika para musisi, instrument builder, akademisi, hingga peneliti berkumpul membahas dawai.
___

Ngalamers anak layangan? pasti tahu yang namanya Sendaren/Sowangan/Sawangan kan, selain menghasilkan bunyi getaran yang khas, Sendaren yang biasa terbuat dari pita kain atau tape recorder ini bisa bermanfaat bagi para petani.

Adalah Misbach Daeng Bilok, seniman yang juga peneliti Sendaren (Indonesian Wind Harp) asal Selayar Sulawesi yang telah melakukan beberapa riset aplikasi bunyi Sendaren untuk meningkatkan hasil pertanian di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kita sebenarnya sedang mengeksplorasi bukan sebagai instrumen musik. Tapi bagian dari permainan layangan. Instrumentasi yang menarik. Tidak hanya bunyi, tapi Sendaren juga memiliki identitas kultur nusantara yang kuat," ujarnya dalam workshop Arkeo-Musikologi dan Etno-Musikologi Nusantara di Universitas Kanjuruhan Malang, Sabtu (13/08/2016).

Sowangan/Sawangan atau dalam bahasa Selayar Sulawesi disebut Dangngong yang menjadi bahan eksperimen oleh Misbach. (Foto: Japungnusantara)

Workshop dan seminar ini adalah bagian dari rangkaian Festival Dawai Nusantara #2. Menelaah musik, khususnya dawai dari berbagai sudut pandang kelimuan. Identitas kultur termasuk fungsi di masyarakat.

Dulunya Ngalamers, Sendaren ini digunakan hanya untuk penghias layang-layang yang mengeluarkan bunyi. "Yang lebih penting adalah ketika bunyi tersebut hadir di udara. Bunyi tersebut mampu menghalau hama, Burung, atau Babi di ladang mereka. Karena ada jenis suara yang menyerupai suara Elang," imbuhnya.

Fungsi lain, di Sulawesi-tempat Misbach berasal, bunyi Sendaren digunakan sebagai penanda kapan waktu yang tepat untuk memancing, kapan harus melaut, atau kapan harus istirahat untuk menunggu cuaca bagus. Masyarakat di sana sangat dekat dengan kehidupan laut/nelayan, sekaligus agraris.

Beberapa Sendaren yang dipasang dalam sebuah tiang, untuk riset di bidang pertanian. (Foto: Indonesian Wind Harp)

"Kita sekarang miris dengan teknologi-teknologi pertanian kita sudah kemasukan pupuk, dan sebagainya. Tidak menggunakan alat yang sifatnya menghalau hama, dan masih ekologis, aman terhadap lingkungan. Itu yang selalu kami bawa," ujar pria berambut gondrong ini. "Riset ini baru kami jalankan empat tahunan,"

Selanjutnya, Misbach menayangkan video dari Indonesian Wind Harp tentang riset dan penggunaan Sendaren baik untuk kegiatan adat di Sulawesi, pertunjukan seni, maupun kebutuhan pertanian. Dari bentuk yang paling sederhana, sebuah busur dan pita, hingga beragam modifikasi, menyesuaikan fungsinya.

"Saya asli Sulawesi, dan mau hidup di Jawa untuk menelusuri jejak masyarakat yang masih menggunakan itu (Sendaren)," ujarnya. "Konsep Wind harp ini untuk mendekonstruksi, merevitalisasi, mengembalikan lagi fungsinya di masyarakat agar bisa bertani dengan tidak tergantung pestisida dan sebagainya,"

Misbach, Asrie Tresnady, Ganzer Lana dan Yoyok Harness berkolaborasi 'saling-silang' di hadapan peserta workshop. Sabtu, 13/08/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Suara-suara penghalau hama pertanian sudah ia ujikan langsung di beberapa tempat, dua di antaranya di Pacitan dan Wonogiri. Di Wonogiri, untuk satu hektar sawah, ia tempatkan 40 tiang-yang masing-masing tiang berisi 5 instrumen. Ujicoba tuning frekuensi disesuaikan dengan jenis hama yang ada.

"Dari mulai padi hamil, hingga mereka panen hasilnya sungguh luar biasa. 40% hasil pertanian mereka lebih bagus," terang Misbach bangga. "Para petani merasa tidak capek lagi harus sering ke sawah teriak mengusir burung, atau ke toko beli penyemprot hama,"

Beberapa bahan Sendaren memang cukup beragam di tiap daerah, di Maluku ada yang menggunakan bahan daun Pandan Laut. Di Sulawesi menggunakan daun Lontar. Bambu juga bahan yang cukup efektif. Namun bahan yang paling mudah digunakan adalah sejenis pita kado.

Lalu, bagaimana untuk pertunjukan seni di panggung?

Misbach mengaku bingung, karena Sendaren hanya menghasilkan satu nada saja. Setelah 'gagal' mencari referensi dari para pelaku seni seperti penari ataupun yoga, ide justru muncul dari lingkungan tempatnya tinggal. Sendaren biasa dipasang di atas gunung, masyarakatnya terdiri atas dua bagian, yakni nelayan di bagian bawah, dan petani yang tinggal di atas bukit.

"Saya bayangkan mereka sedang menebas, membersihkan alat-alat. Juga gerakan ke belakang seperti orang mendayung. Konsep menggerakkan Sendaren secara konstan dimainkan dengan arah yang tepat, membentuk angka 8," terang Misbach. Eksplorasi bunyi lain juga Indonesian Winharp lakukan dengan para surfer di Pacitan. "Tak hanya berolahraga, mereka mempelajari angin sebelum turun ke laut,"

Menurutnya, inti dari sebuah riset pengkaryaan adalah terus melakukan pencarian bagaimana suara menjadi sebuah musik, bagaimana suara menemukan genrenya sendiri. Proses yang panjang tak menjadi kendala, karena pendekatan 'seperti keluarga' selama riset adalah hal terbaik yang mereka lakukan.

Para pegiat dawai, budayawan, akademisi, hingga musisi berfoto bersama usai kegiatan workshop. Sabtu, 13/08/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Sebelumnya, dalam workshop dan seminar tersebut juga hadir Dwi Cahyono (Dosen/Arkeolog Univ. Negeri Malang) yang menjelaskan tentang 'Akar Historis dan Tradisi Waditra Berdawai Klasik Jawa Masa Hindu-Buddha (X-XVI Masehi'. Termasuk relief Pemain Wina yang ditemukan di Candi Jago, Tumpang, Kabupaten Malang. Juga hadir sebagai pembicara adalah Seniman Sasando asal NTT, Ganzer Lana (Nusa Tuak) dan Asrie Tresnady/Yoyok Harness dengan bahasan alat musik Sitar.

"Dari Festival Dawai Nusantara (FDN) #2 ini, suatu kebetulan yang tidak kebetulan, kok tiba-tiba conect semua. Mempertemukan banyak hal. Ada builder, ketemu (periset) seperti mas Misbach. Seandainya dawai dari eksperimentasi dan temuan panel di Candi Jago itu beneran dan bisa dimainkan, tidak menutup kemungkinan juga bisa membantu terbangunnya industri dawai kembali," terang Yosoft, dari MooiIndie Communication, penyelenggara FDN tahun ini.

Menurut Yosoft, gagasan-gagasan itulah yang nantinya akan berlanjut di penyelenggaraan FDN #3 tahun depan. "Membangun konteks, agar FDN ini punya positioning di Indonesia, dan juga dihormati di negara lain. Salah satu goalnya adalah edukasi, siapa tahu kita juga bisa membuat semacam Dawai Institute," pungkas Yosoft.

[WA]



BACA JUGA