halomalang.com

Belajar Memotret Dari Para Profesional di PFI Malang

"Ketika terjadi sebuah peristiwa, katakanlah kecelakaan, kok malah difoto/direkam dulu, bukannya menolong korban,"

'One Day Class Basic Photography' oleh PFI Malang di markas Ngalup.co & Taman Bibit Mojolangu. Minggu, 27/08/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang).

Seorang peserta workshop yang masih mahasiswa itu melontarkan pendapat, "Dosen fotografi saya mengkritisi kebiasaan yang kian marak: Ketika terjadi sebuah peristiwa, katakanlah kecelakaan, kok malah difoto/direkam dulu, bukannya menolong korban,"

Kemudian disusul sebuah pertanyaan untuk sang pemateri, Adhitya Hendra Permana, "Dari sudut pandang mas, mana yang sebaiknya kita dahulukan?,"

Adhitya adalah fotografer profesional yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang. "Pertanyaan ini pernah saya berikan kepada seorang fotografer jurnalistik, om Arbain (Kompas). Beliau balik bertanya, Kamu siapa? Berdiri sebagai fotografer jurnalistik kah? Atau sebagai masyarakat awam? Ketika jadi awam, apa kepentinganmu untuk memotret,' jawab Adhitya.

Menurut sam Glewow (sapaan Adhitya), posisi ini dikembalikan ke pribadi masing-masing: menolong apa ambil gambar terlebih dahulu. "Kalau saya sebagai fotografer jurnalistik ya ambil gambar dulu, satu atau dua frame. Setelah itu, ketika memang benar-benar tidak ada orang lain yang menolong, baru saya tolong. Tapi, ketika saya di posisi itu tidak memiliki hati untuk memotret ya langsung saya letakkan kamera, saya tolong,"

Potret seperti ini kian sering jadi bahan perbincangan, terlebih kala dunia informasi (citizen journalism) berkembang sangat cepat. "Terkadang, masyarakat/orang awam inginnya eksis saja. Pengen dianggang tercepat berada di TKP, padahal kejadiannya sudah beberapa menit lalu. Bahkan foto-foto yang tidak pantas ikut dipublish. Penginnya berbagi informasi, tapi lupa dengan etika,"

Hal di atas adalah satu dari beberapa hal dasar terkait fotografi yang dikupas dalam 'One Day Class Basic Photography' oleh PFI Malang, Minggu (27/08/2017).

Event yang digelar oleh Ngalup Coworking Space ini berisikan materi: Pengenalan kamera, Teknik dasar fotografi (komposisi -pencahayaan -angle), Hunting foto di Ngalup.co & Taman Bibit Mojolangu, fashion model sport, dan review hasil karya peserta .Hasil hunting puluhan peserta yang datang dari beragam kalangan ini diapresiasi dengan hadiah dari penyelenggara.

Freelancer Pewarta foto Pacific Press dan Kantor Berita Tiongkok, Xinhua ini juga memberikan beberapa tips kepada peserta workshop yang serius jadi 'pemburu' hadiah lomba. "Jangan sekali-kali memberi watermark pada foto yang dikirim/upload, karena para juri pasti teruji kredibilitasnya dan punya pertimbangan baik mengenai hak cipta foto," sambung Glewow.

Tingginya traffict sosial media berbasis foto yang hampir diakses semua orang seperti Instagram, juga jadi perhatian. "Karya kita rentan untuk dicuri pihak yang tak bertanggung jawab. Untuk hal ini saya setuju ada watermark. Apalagi untuk para fotografer profesional yang koleksinya keren-keren,"

Adit mencontohkan sebuah kasus 'pencurian karya' yang pernah tangani bersama juri sebuah lomba. "Kebetulan yang saya tangani ini, Ia bukan lagi pernah 'mencuri', tapi memang suka mengambil karya fotografer-fotografer. Dan fotonya yang dikirim selalu juara. Ia juga selalu ganti akun. Dan akhirnya ketemu, kita mediasi. Temen-temen berhati-hatilah ketika mengunggah ke media sosial, atau berbagi data,"

Di akhir sesi materi teori, Glewow berpesan agar para peserta tidak minder dengan kamera yang telah dimiliki saat ini, menguasai teknis kamera + dasar fotografi belajar ke siapapun, dan terus memotret.

[WA]



BACA JUGA