Sunday, 15 September 2019
halomalang.com

Dokar Berbunyi: Kolaborasi Unik Saxophone, Kuda Lumping, dan Video Mapping

Tak hanya kolaborasi lintas benua, juga lintas budaya...

Dokar Berbunyi, pre-event Festival Kampung Dokar #2 di Banjartengah, Kec. Dau. 30/08/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang).

Kolaborasi apik tersaji kala tiga basis kesenian berada dalam satu ruang bernama 'Dokar Berbunyi', Rabu (30/08/2017) di Kec. Dau, Kab. Malang.

Tarian Jaran Kepang atau Reog Ponorogo adalah hal yang sudah lazim kita lihat, dibawa ke level berbeda dengan iringan Trance Music Arrington De Dionyso dan gerak dinamis video mapping Etnicholic Project. Sebuah rumah di tengah permukiman Dusun Banjartengah dijadikan media proyeksi. Nuansa surealis semakin hidup kala aroma kemenyan berbaur di antara ratusan warga yang melingkari arena utama pertunjukan. Suara cambuk memecah dinginnya malam, para penari mulai kesurupan.

"Bisa jadi, ini kolaborasi pertama di Malang ketika Jaranan digabung dengan teknologi mapping video. Kita juga kehadiran tamu dari Washington USA, mas Arrington," ujar Redy Eko Prastyo seniman asal Malang pegiat di Etnicholic Project.

Kehadiran Arrington dan Etnicholic kali ini dalam giat pra-event Festival Kampung Dokar #2 yang akan digelar pada bulan Oktober 2017. Arrington adalah musisi eksperimental pendiri Olympia Experimental Music Festival yang sangat tertarik dengan musik-musik tradisional yang berhubungan dengan 'kerasukan/kesurupan'. Musik dalam seni jaranan adalah salah satunya. Malaikat dan Singa adalah grup musik baru yang Arrington bentuk. Sedangkan Redy, adalah musisi etnik yang juga pegiat di Jaringan Kampung Nusantara. Kolaborasi keduanya memang tak asing. Sebelumnya mereka pernah satu panggung di Festival Kampung Cempluk 2013. Arrington kala itu membawa nama Malaikat dan Singa Indonesia Journey#2.

"Masyarakat Dusun Banjartengah harus berbangga dengan event ini. Karena ini tak hanya kolaborasi lintas benua, juga lintas budaya," sambung Redy.

Kesenian Jaranan/Reog lokal yang menjadi gerak utama adalah Turonggo Sekar Remaja, Dau. Satu yang menjadi perhatian selain tiupan Saxophone Arrington adalah gerak lincah Azam (siwa TK 0 Besar) asal Pujon yang menjadi Bujang Ganong sebelum atraksi reog. Seniman cilik ini belajar otodidak sejak usia 3 tahun. Musisi karinding 'Unen-unen' asal Tuban juga meramaikan Dokar Berbunyi.

"Kampung Dokar kini juga dikenal di luar negeri. Dengan Kampung Dokar, ini menjadi bukti kalau persaudaraan tidak dibatasi oleh, desa, kampung atau negara. Semoga ini menjadi semangat baru untuk warga Banjartengah ini," ujar Hasan Asyari, Kepala Desa Sumbersekar.

Meski singkat, Arrington rupanya cukup fasih mengucapkan salam perkenalan dalam bahasa Jawa. "Kulo Arrington, matur nuwun untuk semua warga di sini. Saya senang di Kampung Dokar,"

[WA]






BACA JUGA