Sunday, 15 September 2019
halomalang.com

Sepekan Dalam Kebersamaan Festival Kampoeng Dilem #2

Ilustrasi. Peserta pawai budaya Arjuno Fest 2017 dari Desa Gondowangi, Wagir yang terkenal dengan kesenian Wayang Krucil. 06/01/2017. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Masyarakat Desa Gondowangi akan kembali merayakan rasa syukur akan kehidupan di tanah kelahiran mereka dalam event tahunan 'Festival Kampoeng Dilem#2' pada 10 - 16 September 2017.

Gelaran sepekan bersih desa ini akan dihelat di aera Situs Mbah Dilem, Desa Gondowangi Kec. Wagir dengan konsep kebersamaan dan kesederhanaan.

“Dengan adanya acara ini, diharapkan kedepannya masyarakat, terutama generasi muda gak kehabisan ide liar untuk membangun desanya Dan masyarakatnya serta bisa meningkatkan kapasitas dirinya until menyongsong masa depan.” terang Jatmiko ketua panitia Festival Kampoeng Dilem #2 dalam siaran tertulisnya. (07/09/2017)

Ragam kegiatan keren telah dipersiapkan, di antaranya: festival musik ethnic, pertunjukan tari, festival kuliner khas kampungng, pameran pembangunan Desa Gondowangi, pameran foto, culture festival, ritual sedekah bhumi, dan dolanan lawas yang menarik. Menurut Jatmiko Festival Kampoeng Dilem #2 bermaksud untuk mencipta moment dan menjadikan pemantik tumbuh kembangnya masyarakat mengenai budaya, sosial, ekonomi, keluarga dan ketahanan yang komprehensif dalam menyongsong masa depan yang cerah. Cita-cita, impian, pemikiran, karakter, dan latar belakang menyatu dalam sebuah semangat untuk maju dan bergerak bersama.

Nilai-nilai edukasi juga tak ditinggalkan, panitia menggandeng Prof Maryeni (Pakar Pendidikan) dalam acara talk show 'Permainan Tradisional & Modern, serta Dampak Terhadap Pendidikan & Perkembangan Anak'.

Komunitas music ethnic yang akan tampil di acara ini adalah Redy Eko Prastyo (Dawai Nusantara), Aak Agus Wayan Harimukti Prihatin, Wayang Suket, Tarian Klasik dari penjuru nusantara, Wayang Kulit, Jaranan, Pencak, Arbanat Ansamble, Wayang Wolak Walik Wayang Pancasila (lek Joemali), orasi budaya, Jaringan Kampung Nusantara, Ali Gardy, Charles Jalu, Orda Pahar dari Kalimantan, Musik bambu sam Hewod (Tuban), dan tentu saja kesenian khas Gondowangi Wayang Krucil.

Angga rubini sekretaris panitia Festival Kampoeng Dilem #2 menambahkan “Kami ini gila, kami pekok, kami edan, kami gak waras.. Tapi kami gak purikan. Kami menggila dengan tawa, kami menggila lewat budaya, kami edan karena kebersamaan, Kami bukan orang waras yang mau mengenal batas kreatifitas juga loyalitas. Kami orang-orang pekok yang selalu bermimpi tanpa harus mengorok. Kami sering kelelahan tapi kami gak purikan. Kami bukan satu melainkan kebersamaan yang dipersatukan lewat andil perempuan, kepemudaan juga kebudayaan. Kami isi dari sebuah wadah, sebab ada yang mewadahi maka kami sadar kami ada untuk mengisi. Dan demi Bapa Bumi Ibu Pertiwi.. kami ada dalam satu nama 'Gondowangi',"

Sejumlah dukungan juga mengalir, diantaranya dari Pemerintah Desa Gondowangi, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata, Pegadaian, PT. Greenfield, Karang taruna desa, AMPAZ, KUD Katu Wagir, Rumah Budaya Gondowangi, seluruh masyarakat Desa Gondowangi dengan swadayanya. Termasuk beberapa media partner yang selalu menyuarakan pergerakan masyarakat.

[Japung Nusantara/Kampoeng Dilem]



BACA JUGA