halomalang.com

​International Mask Festival dan Upaya Jadikan Malang Pusat Studi Tari Dunia

IMF terwujud atas kerjasama Museum Ullen Sentalu Yogyakarta - Museum Panji Malang - ARMA Museum Ubud, dan Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta.

Pertunjukan kolaborasi seni topeng di Museum Panji, Malang di event International Mask Festival #2. 29/10/2017 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Wasi Bantolo melangkah perlahan di kolam utama Museum Panji, sesekali ia mengepakkan selendang basahnya di permukan air. Dari balik topeng karakter Panji yang dikenakan, ia menembangkan sesuatu. Sementara 23 penari lain dari Padepokan Panji Asmorobangun, Kedungmonggo berdiri diam di belakang Wasi. Tanpa topeng di wajah. Semua indera penonton tertuju ke arah panggung permanen megah ini, hingga 20 menit kemudia Wasi mengakhiri pertunjukan Kolaborasi Topeng ini dengan tepuk tangan penonton.

"Saya cukup terkejut untuk bicara saat ini. Sebuah keluarbiasaan ketika kami bisa hadir di tempat yang luar biasa ini. Kami seperti pulang ke asal mula. International Mask Festival ini adalah bagian luar biasa dari perkembangan kebudayaan seni tari dan topeng," ujar koreografer yang terkenal dengan Tarian Panji Kayungyun ini di hadapan penonton International Mask Festival (IMF) #2 di Museum Panji, Tumpang Kabupaten Malang. (29/10/2017).

Pentas seni ini sekaligus penutupan event Jatim Travel Mart (JTM) 2017 di mana Malang menjadi tuan rumah. 'Topeng: Ekspresi dan Imajinasi' adalah tema dari IMF 2017. Sejumlah seniman dan akademisi juga tampak hadir. Mak Yong (Riau), Robby Hidayat (Malang), Sunari/Hardina (Malang), Handoyo (Malang).

"Berbicara topeng, kita hanya berbicara satu khasanah kebudayaan yang ada di tempat kita. Harapannya (di IMF) topeng adalah bagian dari dunia, dan benar-benar menjadi kebudayaan yang menjadi pijakan kita ke depan. Seperti sebuah kutipan dari buku berjudul 'Menyurat yang silam, Menggurat yang Menjelang'. Sehingga kita tidak bertopeng dengan wajah-wajah kita sendiri, namun topeng ini mampu memberi arti dalam bagi masyarakat kita, bangsa Indonesia," jelas Wasi.

Event International Mask Festival ini merupakan kerjasama 4 wilayah di tanah air, yakni Jogja, Solo, Malang, dan Ubud.

"Kebersamaan ini bukan kebetulan. Ini untuk menyuarakan kepada Indonesia, bahwa kita semua bersaudara, dan ingin mempereratnya lewat dua acara (JTM & IMF)," terang Dwi Cahyono, pemilik Yayasan Inggil yang mendirikan Museum Panji. Ia di panggung berbicara selaku Ketua Badan Promosi Wisata Jawa Timur.

Ada urgensi yang ingin disampaikan IMF. "Sekarang orang-orang banyak bertopeng yang tidak sesuai karakter aslinya. Tiap tahun kita suarakan di wilayah provinsi masing-masing," sambung Dwi kepada halomalang.

Upaya pelestarian topeng, dan pengenalan kepada masyarakat bahwa 'topeng' itu sangat luas adalah fokus mereka di awal.

"Ini roadshow 4 kota. Nanti di tahun ketiga, kita akan datangkan topeng-topeng Internasional. Negara-negara yang punya basis kesenian topeng. Di (Luar) sana, topeng tak hanya tarian, tapi juga falsafah hidup. Dari tiap-tiap roadshow, kita ambil pelajaran. Lihat saja tadi, penampilan mas Wasi, sangat beda jika kita sering melihat budaya Topeng Malangan,"

Dwi juga membocorkan, untuk gelaran Festival Panji Dunia tahun 2018, diusahakan agar Malang menjadi tuan rumah. Di Museum Panji, Ngalamers bisa melihat ratusan ragam koleksi Topeng dari berbagai wilayah, beragam era, dan usia. Salah satu koleksinya ada yang berusia 200 tahun.

"Agenda IMF berikutnya, kita mau bikin pusat studi tari dunia. Itu ada di Laos sekarang. Dalam waktu dekat kita akan berangkat ke laos untuk ijin. Itu syaratnya sangat berat, dari harus punya museum, punya gedung pertunjukan. Sini (Museum Panji) ditunjuk sebagai salah satu kota pusat studi tari dunia. Di Indonesia ada dua kota lain yakni Jogja sama Bali,"

Syarat lain adalah penyedian stage, stage air, lighting, sound system, area parkir minimal untuk 10 bus, dan 'mungkin yang paling berat' menurut Dwi adalah "Setiap Sabtu harus ada pertunjukan. Ada atau enggak ada yang nonton harus show. Kerjasama dengan banyak pihak itu penting, makanya tadi delegasi JTM juga saya undang," tegas Dwi. "Mereka kan punya koneksi, bisa mendatangkan wisatawan ke Malang, mungkin siangnya ke Bromo, trus malamnya lihat pertunjukan ke sini," pungkas Dwi.

[WA]









BACA JUGA