halomalang.com

​Kangen Film-film Klasik Tanah Air? Yuk Layar Tancepan di Old Cinema Museum Malang

Layar tancap? Tak hanya memutar film, ada reuni, hiburan, jual makanan, hingga bisa merespon film dengan aneka candaan secara langsung. Itu dulu...

Indonesian Old Cinema Museum Malang (@oldcinemamuseummalang) Tak hanya layar tancepan, di sini kalian bisa belajar perjalanan sejarah bioskop keliling tanah air. (Foto: W. Arief/Halomalang).

Jaka Sembung, adalah karakter superhero fiksi yang populer dengan ajian Rawa Rontek: bagian tubuh manapun yang terpotong akan kembali semula. Membuat gentar kompeni Belanda. "Namaku Parmin. Orang-orang menyebutku Jaka Sembung. Bangsamu memanggilku pemberontak. Puas?!," begitu cara perkenalannya kepada Kompeni Belanda. Ikonik Barry Prima muda, sang pemeran yang terkenal dengan tubuh kekar tinggi besar, hidung mancung dan rambut ikalnya yang hampir sebahu.

Di ingatan pecinta film laga era 70 - akhir 80 an, namanya fenomenal. Bahkan orang yang nggak pernah nonton film pun tahu tahu betapa populernya Barry. Film ini disutradarai maestro Sisworo Gautama Putra, dirilis bulan Juli 1981. Dan di kalangan pecinta film laga, 'The Warrior' judul versi internasionalnya, dianggap sebagai film pertama dengan ramuan unik penggabungan laga plus horor dan supranatural. Cerita film ini diadaptasi secara lepas berdasarkan komik Indonesia dengan judul yang sama yaitu 'Jaka Sembung' karya komikus terkenal Indonesia Djair Warniponakanda yang sering ditulis hanya dengan 'Djair' atau 'Djair Warni'.

Namun siapa sangka, ajian Rawa Rontek ini hanya muncul di film. "Untuk membuat itu lebih menarik, saya akan menambahkan gimmick-gimmick baru dalam cerita. Jaka Sembung, di komik aslinya nggak ada Rawa Rontek. Saya menambahkan itu sebagai daya tarik. Itu berhasil, penonton terkagum-kagum," ujar Imam Tantowi, sang penulis naskah Jaka Sembung dalam dokumenter Garuda Power: Spirit Within karya Bastian Mieresonne , yang diputar di Indonesian Old Cinema Museum, (30/10/2017).

"Itu salah satu yang saya sesali. Dengan perubahan komik ke film , itu diubah menurut kehendak produser umumnya, yang tujuannya hanya komersil. Menyuguhkan sesuatu yang asal hebat. Asal seru. Akhirnya melenceng dari pakem yang ada di komik. Dan itu buat pengarangnya sangat disesalkan. Waktu itu pengarang komik masih dianggap orang luar 'the outsider'. Sebagai suatu karya yang masih mentah. Yang siap pakai punya skenario," timpal Djair Warni di wawancara berikutnya.

Ini hanya sekelumit scene dari banyak ulasan para produser, aktor, koreografer, kritikus, stuntman, penjual DVD, pecinta film, hingga penulis skenario lintas generasi yang diulas di Garuda Power.

Dari Ratno Timoer, Advent Bangun, Barry Prima, George Rudy, hingga Iko Uwais. Dari Tjamboek Api, Tendangan Maut, Saur Sepuh, Perawan di Sarang Sindikat hingga The Raid. Semua diulas dengan ragam sudut pandang.

'Garuda Power: The Spirit Within' bercerita tentang sejarah film action Indonesia sejak era 20 - 30an, masa keemasan pada 70an, hingga era 90n ketika genre ini meredup, dan ledakan The Raid yang dibintangi Iko Uwais. Bastian Mieresonne menunjukkan kembali bahwa film-film laga Indonesia punya kaitan erat dengan 'exploitation film' dari Hong Kong, Jepang dan Hollywood, tentunya kuat oleh pengaruh komik. Bastian membuat film ini berdasar riset terhadap arsip-arsip film dan wawancara dengan tokoh.

"Film (Garuda Power: The Spirit Within) ini sebagai pembuka wacana untuk pemutaran film-film kami berikutnya. Temanya action. Dalam empat hari ke depan ada Panji Tengkorak, Tutur Tinular 1 (Pedang Naga Puspa), Tarzan, Saur Sepuh 1 (Satria Madangkara)," ujar Arfan Perdana, salah satu aktivis film di Malang yang ikut mengelola Indonesian Old Cinema Museum Malang, Senin (30/10/2017).

'Lagi Asik Nonton, Teman Datang', begitu program pemutaran film-film laga klasik ini disebut. 30 Oktober - 03 November 2017, start mulai 19.00 WIB. Kenapa kalian harus menyempatkan?

"Semua film koleksi Old Cinema Museum Malang. Film analog yang menggunakan pita seluloid. Ini setelah usaha restorasi beberapa waktu silam. Ada 30an film yang masih bisa kita selamatkan," ujar Nashiru, ketua program pemutaran. Tak hanya film seluloid, ada proyektor analog 35 dan 16 mm yang masih bisa dipergunakan, roll film, ratusan poster film jadul, lukisan promo film untuk bioskop, aneka media perekaman, dan tentu saja layar yang disediakan outdoor dan indoor.

Nashiru, Arfan, Hamzah dan sejumlah anak-anak muda pecinta film yang tergabung dalam Lensa Mata saat ini dipercaya untuk mengelola Indonesian Old Cinema Museum yang berada di RM RIngin Asri Malang. Film-film yang diputar dan memorabilia tersebut adalah koleksi CINEDEK (Cinema Gedek) 14 milik Hariadi (71). Hariadi adalah pengusaha bioskop keliling CINEDEK 14 yang berjaya di era 70 - 80 an. Ia adalah sekaligus pemilik Indonesian Old Cinema Museum.

"Rumah Makan ini juga hasil saya berkeliling. Saya lihat anak-anak muda ini (Lensa Mata) punya semangat bagus. Biar mereka yang mengelola museum. Siapapun silakan berkunjung. Dan kalau suasana nobar layar tancep ini hidup kembali, akan sangat menyenangkan," ujar Hariadi saat ditemui halomalang (13/04/2017). Waktu itu adalah event 'Restorasi Ingatan', museum memutar Film Bayi Ajaib (1982) dengan proyektor Elmo 16 mm Sound F 16 yang diproduksi tahun 60an. Ratusan penonton yang didnominasi usia muda hadir layar tencepan.

"Kalau penginnya sih muter setiap hari. Semua koleksi film kita. Kalau yang seluloid habis, yang digital juga tak masalah," sambung Nashiru. Menurutnya, program kali ini tidak seperti saat 'restorasi ingatan'. "Kami tak memblow up sebesar dulu. Kita coba membangun kebiasaan penonton di Malang yang benar-benar tertarik dengan film klasik. Nanti temanya akan berbeda-beda," pungkasnya.

Jadi, apakah kalian punya waktu luang untuk bernostalgia pekan ini?

[WA]



BACA JUGA