Saturday, 15 December 2018
halomalang.com

Melek Literasi Dengan Sepak Bola Api

"Saat sepak bola api, kami tak hanya bersilaturahmi dengan pemuda kampung lain, tapi bagaimana menularkan pikiran, menemukan ide baru, dan akhirnya mereka mau diajak bergerak memajukan Kecamatan Jabung,"

Sepak Bola Api atau Bal-balan Geni yang digelar anak muda Jabung di area Taman Krida Budaya, Malang. 22/10/2017 (Foto: W. Arief/Halomalang)

Tak ada yang tahu pasti kapan permainan ini dimulai. Di banyak tulisan yang pernah diunggah di internet, Sepak Bola Api, banyak yang diberi embel-embel ritual mistik, dan populer di kalangan pondok pesantren. Untuk yang terakhir memang benar, banyak dimainkan di pesantren-pesantren tanah air, hingga kini.

Ritual mistik?

"Tidak. Orang awam pun bisa memainkannya. Lihat anak-anak ini," ujar Priyo Sidhi sembari memandu selusin kawan-kawan dari Gubuk Baca Lentera Negeri (GBLN) agar kembali bersemangat. Selasa malam (24/10/2017) di area Taman Krida Budaya Malang.

Dua gawang kecil disiapkan di dua ujung lapangan. Bola dari bahan kelapa kering (dengan sabut) yang telah direndam minyak tanah seharian disulut. Tak ada peluit, bola api jadi bulan-bulanan. Hanya tawa riang. Ini adalah bagian dari kegiatan literasi yang ditunjukkan GBLN dalam gelaran Pesta Malang Sejuta Buku #2.

"Trik biar kulit tidak terbakar adalah kontrol kecepatan. Jangan terlalu lama menyentuh bola. Dan giring bola dengan telapak kaki, karena kulitnya paling tebal," lanjut budayawan Kampung Cempluk ini.

Ia ingat permainan ini memang populer di kalangan santri. "Dulu waktu saya kecil-muda, permainan ini digelar pondok saat bulan purnama. Usai mengaji, ini adalah salah satu hiburan yang menyenangkan. Juga memperkuat ikatan antar santri," sambungnya.

Permainannya tak kaku. Yang penting kesepakatan awal, dari jumlah pemain, luas lapangan, luas gawang, hingga durasi. "Pakaian pun bebas, sering malah pakai sarung yang dililit bawahnya. Ini bulu kaki sampai habis," ujar Priyo terkekeh. "Kini dilakukan masyarakat luas, biasanya di waktu Ramadhan tiba,"

Priyo menyebut ada banyak tantangan untuk menjaga tradisi ini. Mindset menakutkan (mistis), keengganan para pegiat untuk menurunkan, hingga sulitnya mencari minyak tanah sebagai bahan bakar. Ia menyebut, sepak bola api tak sekadar permainan tradisional atau hiburan, tapi mirip sepakbola biasanya: memperkuat ikatan.

Dan di Malang bagian Timur, Sepakbola Api dalam 3-4 bulan terakhir telah menjadi sarana berjejaring di tengah masyarakat. Adalah di Kecamatan Jabung.

"Kami mulai rutin tiap malam jumat. Seperti roadshow di setiap kampung yang ada gubuk bacanya," kata Dony Wondo, salah satu pegiat di GBLN ketika ditemui halomalang.

Dan di Kecamatan Jabung ada banyak gubuk baca yang bangkit dari sudut perkampungan. Anak muda menjadi kekuatannya. Sebut saja Gubuk Baca Lentera Negeri, Anak Alam, Gang Tatto, Kampung Puring, Kampung Dhamar, dan masih banyak lagi. Semuanya bukan sekadar taman baca yang menyediakan buku bacaan atau hanya mengajarkan baca tulis berhitung.

"Kami punya cara sendiri untuk bergerak di masyarakat. Belajar musik, ngopi, permainan tradisional, teater, seni-budaya, hingga kajian-kajian. Termasuk sepakbola api ini," kata Fachrul Alamsyah (Gus Icroel), motor GBLN sekaligus tokoh pemuda Jabung.

Metode ini cukup efektif karena dianggap sesuai dengan kondisi sosio-kultur masyarakat di sana. Kemampuan membaca permasalahan lingkungan sekaligus pemecahannnya adalah juga bagian dari melek literasi. Education Development Center (EDC) menyatakan, literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis Ngalamers. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi, skill yang dimiliki dalam hidupnya. Literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

"Saat sepak bola api, kami tak hanya bersilaturahmi dengan pemuda kampung lain, tapi bagaimana menularkan pikiran, menemukan ide baru, dan akhirnya mereka mau diajak bergerak memajukan Kecamatan Jabung," sambungnya.

Di Jabung Bersatu, demikian jejaring komunitas lintas disiplin yang terbentuk hampir tak pernah sepi kegiatan.

"Kami memang sering bergerak keluar (Jabung), mengikuti ragam event untuk memperkenalkan sekaligus membangun relasi. Suatu saat nanti, kami ingin-siapapun seniman, maupun public figure akan merasa bangga jika sudah tampil (berbagi ilmunya) di Jabung," pungkasnya

Jadi, masih takut bermain sepak bola api?

[WA]


BACA JUGA