Thursday, 21 March 2019
halomalang.com

​Foto: Kembalinya Festival Malang Tempo Doeloe

"Kita yang muda biar nggak lupa sama budaya kita yang lama-lama,"

Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) kembali digelar setelah absen sejak 2012. Meski hanya sehari, festival ini disambut meriah pengunjung. Minggu, 12/11/2017 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ajang reuni, menikmati sajian kuliner dan hiburan jadul rame-rame, hingga kembalinya orang-orang mengenakan kostum klasik di jalanan pusat Kota Malang. Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) kembali setelah absen 5 tahun.

Minggu pagi, 12 November 2017 ribuan orang sudah memadati area Simpang Balapan Ijen hingga area sebelum Gereja Katedral. Mengenakan baju ala-ala jaman dulu. Bersimpuh, tampak asyik dengan sesuatu. Wali Kota Malang Moch. Anton, Mendikbud Muhadjir Effendy, dan Penggaagas MTD Dwi Cahyono tampak di tengah kerumunan. Mereka tengah melakukan marut kelapa massal, dan menandai dibukanya MTD 2017.

'Klapa Jadi Apa' adalah tema MTD kali ini Ngalamers. Olahan kuliner, hingga produk kreatif dari bahan dasar kelapa disajikan di antara 200an booth yang mengisi kawasan Simpang Balapan. Booth bernuansa jaman dulu ini diisi oleh puluhan sekolah, hotel, komunitas, pegiat kuliner di Malang.

Lomba stand terbaik dimenangkan oleh SMK Kartika IV-1. SMA Cor Jesu meraih kategori stand tervaforit. Lomba kreasi olahan "Klapa Dadi Apa" dimenangkan oleh SMA Laboratorium UM.

"Kita ajak kerjasama sekolah sekolah di Malang untuk meramaikan, juga edukasi. Ini memang konservasi program, jadi tidak sampai 3-4 hari. Agar masyarakat bisa menghargai, nggak kangen tok tapi ikut menghargai," ujar DwiCahyono, saat ditemui usai event International Mask Festival (29/11/2017) di Museum Panji.

A post shared by halomalang.com (@halomalangcom) on

'Parade' kostum klasik yang dikenakan pengunjung MTD 2017

Hujan yang mengguyur Malang pada sore hari tak menyurutkan semangat pengunjung. Salah satunya Rahma, warga Blimbing yang mengenakan kebaya. "Seru sih, kalau bisa lebih satu hari atau kawasannya diperpanjang, biar nggak terlalu berdesakan," ujarnya. Ia ingat ketika terakhir kali MTD digelar di sepanjang Ijen Boulevard, waktu itu masih awal SMP.

Pengalaman lain disampaikan Khoirul Anam, siswa kelas 10 SMA Al Hayatul Islamiyah. "Baru kali ini lihat, rame. Sisi edukasinya, kita yang muda biar nggak lupa sama budaya kita yang lama-lama,"

Anam bersama sejumlah rekan dan didampingi guru tampak menjual jamu herbal tanpa pengawet di antara lalu lintas pengunjung. Mereka memakai kostum batik dan kebaya.

Sementara di sudut lain terdengar alunan musik Keroncong, membaur di antara riuh aktivitas manusia. Di ujung bundaran Simpang Balapan, Ludruk Legi Pahit mengocok perut penonton dengan guyonan berbahasa Jawa. Banner-banner sejarah perkembangan Kota Malang dari pemerintahan hingga wisata masih tampak dikerumuni dengan antusias.

Apa kesan Ngalamers?

[WA]



BACA JUGA