halomalang.com

​Kondang Sugu hingga Teluk Bidadari: Trekking Seru di Kawasan Hutan Tropis Dataran Rendah Terbaik di Pulau Jawa

Ini adalah hutan lindung tropis dataran rendah terbaik di Pulau Jawa (non Taman Nasional/Cagar Alam). Satu yang tersisa di Selatan Malang.

Kawasan Malang Selatan miliki beberapa titik ekowisata, salah satunya pesisir Kondang Merak. Kalian bisa menikmati suasana pantai yang relatif sepi, sekaligus mengenal kawasan konservasi. 28-29/10/2017 (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Terima kasih sudah berkunjung. Ini adalah hutan lindung tropis dataran rendah terbaik di Pulau Jawa (non Taman Nasional/Cagar Alam). Satu yang tersisa di Selatan Malang. Hutan kami saat ini masih terjaga, termasuk satwa-satwa langka di dalamnya," ucap Parmin menyambut kami di tepian Pantai Selok (28/10/2017). Tangan kirinya menggenggam HT. Satu yang lain menunjuk arah Barat, lalu Utara. Artinya panorama hijau hutan yang membentang dari kawasan Kondang Merak Bantur hingga Donomulyo.

Habitat Kukang Jawa, Lutung Jawa, Elang, ragam jenis burung termasuk Kangkareng Perut Putih, dan Kupu-kupu. "Macan tutul juga masih ada," jelas Parmin. "Sepanjang jalur trekking wisata khusus, pepohonan juga sudah diberi plakat lengkap dengan nama-nama lokal,"

Itu adalah sambutan yang lazim dikampanyekan petugas LMDH Wonolestari, Bandungrejo yang bersama Perhutani dan sejumlah kelompok pegiat lingkungan mengelola kawasan wisata Pantai Banyu Meneng, Pantai Selok, Kondang Sugu, Rante Wulung - Watu Ngebros hingga Jemblong, di Kecamatan Bantur, Kab. Malang.

Kawasan pesisir yang hanya dipisahkan loket dengan kawasan Kondang Merak ini adalah kawasan Ecowisata. Dibuka dua tahun lalu, Banyu Meneng-Selok-Kondang Sugu - Rante Wulung semakin dilirik banyak traveller pecinta Kemping, Kano, dan Junggle Trekking. Ragam fasilitas sudah disediakan, seperti warung, kamar mandi, area parkir,dan tentu saja guide. Warung-warung di sini juga menyediakan kuliner laut yang khas, seperti Sate Tuna atau Gurita.

"Jasa guide. Ini kawasan hutan lindung dengan kunjungan terbatas, selain untuk keamanan turis agar tidak tersesat, kami juga bisa mengedukasi tipis-tipis tentang wisata dan konservasi. Kontrol jumlah pengunjung adalah penting untuk kelangsungan hidup di sini," ujar Zainul, atau yang akrab disapa Pak Inung, tokoh LMDH saat ditemui halomalang medio 2016 lalu.

"Ada satu lutung di sini yang namanya Simon, dia agak 'nakal'. Kadang main sampai ke Selok," sambung Inung.

Kawasan terbatas diberlakukan mulai Kondang Sugu hingga ke Barat. Dan kami memulai trekking seru akhir pekan kemarin bersama Mokhsa People (Mohksfeast) yang tengah berkemping di Banyu Meneng. Pendamping kami adalah Pak Bonasir.

Untuk mengikuti trekking ini, disarankan untuk membawa air minum yang cukup, sendal/sepatu gunung, kamera, dan trash bag. "Dan yang penting jujur, dijaga segala perilaku dan ucapan. Ini adalah alam liar," buka Bonasir.

Kondang Sugu adalah tujuan pertama, di kawasan ini adalah muara salah satu sungai besar dari hutan Bandungrejo. Kondang sendiri berarti Muara. Pantai ini seperti teluk berbentuk busur yang diapit dua pulau. Ombaknya relatif besar seperti pantai-pantai di pesisir Selatan Malang lain. Pasirnya sedikit kecoklatan. Dari sini, trekking dimulai dengan melewati tumbuhan Pandan Raksasa yang menjulang membentuk gerbang.

Jalanan cukup licin karena malam hari sebelumnya diguyur hujan. Vegetasi cukup padat. Teriakan Lutung, bercampur riuh kicau burung menemani sepanjang perjalanan. Kami memotret Kupu-kupu pertama di 20 menit perjalanan. Di akhir pekan, jalur trekking terlihat cukup jelas, ada lebih banyak kunjungan. Setelah hampir satu jam, terdengarlah deburan ombak. Artinya: tiba di Pantai Rante Wulung.

"Yang berdaun lebar ini adalah Pohon Keben, banyak ditemui di pesisir. Dan yang satu ini sudah berusia ratusan tahun," Bonasir menunjuk satu pohon raksasa yang membelah pintu masuk Rante Wulung.

"Nggak tahu kenapa kok orang nyebutnya Mbehi, mungkin (yang menyebut) bukan orang-orang sini. Pantai ini namanya Tunggul Wulung, tapi ada yang menyebut Rante Wulung," jelas pria yang sudah menginjak 60an ini.

Menurut Alm. Mbah Kadar, guide kami di 2016, nama Rante Wulung didapat karena di sekitar sini sering terlihat Elang Laut berburu mangsa. Berputar-putar di sekitaran Telaga Bidadari.

Rante Wulung atau Tunggul Wulung mirip dengan Kondang Sugu, diapit dua pulau. Namun pasirnya lebih putih bersih. Ombaknya juga lebih besar. Dilarang mandi di sini. Bonasir juga menyebut jika di Rante Wulung dulunya sering disinggahi penyu untuk bertelor. "Binatang dilindungi. Sekarang hampir tak pernah nepi. Hanya sesekali muncul sedikit ke tengah,"

Perjalanan belum berakhir. Adalah Watu Ngebros dan Teluk Bidadari yang berada di atas buki karang di sisi kiri Rante Wulung. Ngalamers harus berhati-hati, karang yang tajam dan curam langsung mengarah ke Samudera Hindia.

Watu Ngebros adalah sebuah fenomena alami ketika deburan air laut menerobos tengah karang berlubang. Ketika air pasang, air bisa menyembur hingga empat meter ke udara. "Padahal dari dasar karang, lobangnya ada 10 meter," sambung Bonasir.

Untuk merekam momen ini, yang diperlukan ngalamers adalah keberuntungan, dan lebih baik bekerjasama dengan teman. "Satu liat ombak datang, satu motret. Tak mesti ombak besar bisa menyembur. Harus ada ruang di bawah karang untuk udara, baru air bisa naik. Seperti kerja karburator udara. Kondisi ini biasanya terjadi pas kondisi laut surut, tapi ombaknya kuat," Bosnasir menjelaskan ke sekitar belasan Moksha People.

Di sisi bawah Watu Ngebros, ada cerukan besar dan tampak dua lingkaran bergradasi hijau orange. Ini adalah Telaga Bidadari/Sendang Pasucen yang terkenal itu. Ada sebuah sumber air tawar kecil yang selalu mengisi dua kolam selebar 2-3 meteran. Air di kolam payau, karena ketika pasang air laut bercampur dengan air tawar dari sumber.

"Sebelum dinamai Telaga Bidadari, tempat ini terkenal sebagai Sendang Pasucen. Orang-orang yang menjalankan ritual di atas bukit ngambil airnya dari sini. Mungkin banyak yang meyakini airnya memiliki ragam manfaat. Dan para pemancing juga ngambil airnya," pungkas Bonasir.

Penjelasan seperti ini adalah bagian dari lingkaran ekowisata. Keterlibatan masyarakat sekitar sebagai motor penggerak, selain bermanfaat ekonomi juga akan memperkuat rasa kepemilikan alam. Ikut menjaga untuk keberlangsungan bersama. Bonasir mengaku juga sebagai petani. Di saat ramai kunjungan, ia bersama sekitar 39 anggota LMDH Wonolestari bisa lebih dari sekali mengawal trekking turis dalam sehari.

Matahari sudah di atas kepala, artinya tengah hari. Saatnya kami kembali ke Banyu Meneng. Di tegah laut yang biru tua, tampak sebuah kapal nelayan berputar menebar jala.

[WA]





PROMO KULINER HARI INI

Paket Pelajar dan Mahasiswa Chicken Crush
Sekarang nongkrong di Chicken Crush makin asyik dengan promo Paket Pelajar
Paket Pelajar dan Mahasiswa Chicken Crush
Sekarang nongkrong di Chicken Crush makin asyik dengan promo Paket Pelajar

Paket Pelajar dan Mahasiswa Chicken Crush
Sekarang nongkrong di Chicken Crush makin asyik dengan promo Paket Pelajar

Wendy's Rp. 20.000 Puas
Kini Paket PUAS tersedia dengan 5x lebih seru!
Wendy's Rp. 20.000 Puas
Kini Paket PUAS tersedia dengan 5x lebih seru!

Wendy's Rp. 20.000 Puas
Kini Paket PUAS tersedia dengan 5x lebih seru!

Pizza Hut - Beli 1 Makanan Gratis 1 Minuman
​BELI 1 makanan* GRATIS 1 minuman* di Pizza Hut!
Pizza Hut - Beli 1 Makanan Gratis 1 Minuman
​BELI 1 makanan* GRATIS 1 minuman* di Pizza Hut!

Pizza Hut - Beli 1 Makanan Gratis 1 Minuman
​BELI 1 makanan* GRATIS 1 minuman* di Pizza Hut!


PROMO LIFESTYLE HARI INI


BACA JUGA