halomalang.com

​Perjalanan Suara Log Sanskrit Kembali Singgah di Bumi Arema

Log Sanskrit sepertinya selalu mencarai gagasan baru untuk diaktualisasikan dalam bunyi. Seperti kunjungan sebelumnya di Malang, mereka bermusik di sekitaran tebing Pantai Nganteb yang sunyi. Menangkap deburan ombak, suara alam.

Svarayatra Log Sanskrit singgah di Malang, dan berkolaborasi dengan sejumlah seniman lokal. (Foto: W.Arief/Halomalang).

Ini adalah persinggahan ketiga Log Sanskrit (Asrie Tresnady, Rahul Sharma, dan Bonil Yushaan) ke Bumi Arema sejak akhir 2015 lalu. Selama tiga hari di awal November,kelompok musisi 'pengembara' ini mendatangi beberapa tempat: Semeru Art Gallery, Wisma Kalimetro, Kafe Pustaka UM, Taman Ada Kedai, Griya UB, dan Houtenhand.

Semua tempat memiliki kesamaan, yakni ruang yang disinggahi publik untuk melakukan ragam kegiatan, bermusik adalah salah satunya.

"Svarayatra. Perjalanan suara. Senang kembali ke kota ini," ucap Asrie saat ditemui di Kafe Pustaka Univ. Negeri Malang, Kamis (02/11).

Kesenian dan budaya India yang mereka tampilkan sore itu disambut antusias, oleh penonton, sejumlah musisi dan akademisi. Prof. Djoko Saryono, Guru Besar UM dan Kepala Perpustakaan Pusat UM juga berkolaborasi bersama mereka dengan membaca puisi. Saxophonist Noerman Rizky dan Hewood Unen-unen Rengel Tuban memberi ambience unik.

"Kami akan main dengan siapa saja. Bahkan beberapa tidak direncanakan. Ini adalah bagian latihan rutin kami. Menangkap apa yang ada di sekitar. Kolektivitas, juga kebudayaan," sambung Asrie.

Asrie adalah pemoda asal Jawa Barat pendiri Log Sanskrit pada 2009 lalu di Vadodara India. Ia kala itu tengah menempuh studi Indologi di The Maharaja Sayajirao University of Baroda. Asrie adalah pemain sitar yang piawai dan ramah. Rahul Sharma (India) memainkan Pakhawaj, semacam kendang yang kini di India sudah menjadi barang langka. Sedangkan Bonil memainkan Shruti Box.

"Dari myth-myth di India, alat ini dari Dewa Ganesha. Lalu manusia 'mengambil' alat ini," Rahul sambil menunjukkan basic rhythm dari Pakhawaj. "Kalian lihat, ini ada (adonan) tepung gandum yang menempel di satu sisi. Untuk efek suara. Sekarang di India alat ini sudah hilang. Cuma ada 5 master di sana," jelasnya.

Log Sanskrit sepertinya selalu mencarai gagasan baru untukdiaktualisasikan dalam bunyi. Seperti kunjungan sebelumnya di Malang, mereka bermusik di sekitaran tebing Pantai Nganteb yang sunyi. Menangkap deburan ombak, suara alam.

Dan di hari terakhir mereka di Malang (03/11), adalah Kotekan Cempluk (Dau), Komunitas Anak Negeri (Mhs. Universitas Tri Bhuwana Tungga Dewi), Unen-unen Rengel dan Sastrawan Denny Mizhar yang diajak berkolaborasi. Kotekan Sempluk berbasis perkusi tradisional dengan bahan utama bambu. Budi Ayin dan Redy Eko adalah dua motornya, bersama sejumlah pemuda Kampung Cempluk. Nada diatonic menjadi pilihan karena cukup fleksibel untuk dikolaborasikan dengan instrumen lain.

Sementara Komunitas Anak Negeri adalah para mahasiswa 'pengembara' yang baru saja melakukan ekspedisi tapal batas ketiga di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ata Lose, Jefri Lopes, dan Karoby bersama puluhan rekan mereka melakukan banyak kegiatas sosial, bermusik, dan membuat film dokumenter selama perjalanan.

Usai dari Malang,, Svarayatra Log Sanskrit akan singgah ke Lombok NTB dan Bali. Di Lombok, kata Asrie, mereka diundang menghadiri kegiatan budaya Suku Sasak di sebuah air terjun. Sedangkan di Ulu Watu, Log Sasnkrit akan menghadiri sebuah istighotsah lintas keyakinan atas undangan pemuka agama Islam yang baru-baru ini menemukan peninggalan sejarah.

"Ditemukan Lingga dan Yoni tertua. Kami diundang bermusik. Ini bukti, musik memang tak terbatas ruang dan waktu," pungkas Asrie.

[WA]



BACA JUGA