halomalang.com

​Foto: Ketika Mahasiswa SeDesa 'Bicara' Seni dan Teknologi

Ngalamers akan diajak berlatih yoga dengan instruktur karakter animasi, hologram sederhana dari proyeksi prisma, mengintip sirkulasi semesta dari kotak ajaib,atau terjebak dalam lingkaran sampah hasil rencana kita sendiri.

November Art (NOVART) jadi proker terakhir di 2017 mahasiswa Seni Budaya dan Desain UM. Kamis, 02/11/2017. (Foto: W.Arief/Halomalang).

Teknologi adalah buah kreasi manusia dengan pendekatan logis untuk mempermudah pekerjaan. Sedangkan seni adalah buah kreasi manusia dengan pendekatan rasa. Jelas pembeda. Namun bagaimana jika dua hal ini berada di tangan para mahasiswa Seni dan Desain?

Ngalamers akan diajak berlatih yoga dengan instruktur karakter animasi, hologram sederhana dari proyeksi prisma, mengintip sirkulasi semesta dari kotak ajaib,atau terjebak dalam lingkaran sampah hasil rencana kita sendiri.

Itu hanya beberapa cuplik karya mahasiwa Seni, Budaya, dan Desain (SEDESA) Universitas Negeri Malang dan sejumlah delegasi luar kota yang ikut dipamerkan di November Art (NOVART) 2017, pameran karya sekaligus program kerja penutup di akhir tahun yang digelar di Sasana Krida UM, 02 - 04 November 2017.

"Satu yang menarik perhatian saya adalah instalasi buku beraksara Tionghoa yang tertancap gancu. Simple, original, dan banyak interpretasi," kata Indra Setiawan, seniman mural Malang yang hadir di Sakri, Kamis 02/11/2017.

"Teknologi nggak harus melulu berhubungan dengan digital, layar proyeksi, atau yang menggunakan listrik. Sekarang, mungkin kita melihat orang membaca koran, membolak-balik halamannya seperti hal aneh. Beberapa tahun lagi, gantian orang scrolling berita dari layar ponsel terlihat aneh. Dan Gancu yang tertancap di buku ini mewakili banyak hal," sambung Indra.

Yang dimaksud Indra adalah karya berjudul 'Studi, Bhineka' karya Deny Renanda Putra dengan media besi-buku-gancu.

"Karya ini adalah gambaran simbolik tentang bagaimana seharusnya kita (mayoritas) harus menyikapi, belajar, dan terus menggali pengetahuan kita tentang budaya lain melalui banyak literasi dan sumber-sumber lainnya," deskripsi Deny.

Kritik Deny pada kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini yang sering didera banyak kasus perbedaan yang dipermasalahkan. Kabar hoax disebarkan melalui media massa, dan online dengan tujuan pengkota-kotakan. Ini berbanding terbalik dengan semangat negara kesatuan Indonesia yang memiliki keberagaman dan toleransi yang tinggi terhadap perbedaan.

"Karya-karya ini telah terkurasi. Para mahasiswa SEDESA telah mempersiapkan NOVART ini dengan baik. Saya bersyukur acara ini berlangsung sesuai rencana, awal bulan langsung ada event. Seni dan teknologi adalah pembicaraan yang cukup seksi," ujar Andrean Pahlevi, Pembina HMJ SEDESA UM.

Kegiatan ini juga diapresiai Ketua Jurusan Seni dan Desain UM, Dr. Hariyanto. "Karya yang membanggakan. Tahun depan harus lebih besar dan baik lagi. Kita akan menyambut 50 tahun SEDESA tahun 2018. Tahun emas," ujarnya.

Semangat menuju tahun emas ini menurut Hariyanto, semakin terpacu karena tiga prodi (Pendidikan Seni Rupa, Pendidikan Seni tari dan Musik, Desain Komunikasi Visual) telah memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional. Menurutnya, hal ini merupakan bukti bagaimana seluruh elemen akademik di SEDESA telah bekerja dengan baik.

Pameran karya mahasiswa HMJ Seni dan Desain UM ini terbuka untuk umum dan gratis. Di luar Sasana Krida juga tersedia banyak booth kuliner dan aneka produk kerajinan komunitas di Malang.

[WA]



BACA JUGA