halomalang.com

​Siap-siap! Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) Kembali Digelar 12 November 2017

"Fokus kali ini adalah edukasi 1 materi, yakni 'Kelapa Jadi Apa'. Mengolah kelapa untuk berbagai varian. Mulai marut, sampai penyajian,"

Poster Festival Malang Tempo Doeloe/MTD 2017 *Update. (Ist)

Ya benar, ini adalah Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) yang itu. Yang pertama kali digelar pada 2006, yang di Jalan Ijen, yang pengunjungnya diharuskan berpakaian ala tempo dulu, kuliner dan sajian budaya jadul, yang akhirnya vakum pada 2012 (hingga sekarang) bertepatan dengan momen pilkada.

"Iya benar," kata Ida Ayu Made Wahyuni Kepala Disbudpar Kota Malang ketika dihubungi halomalang (31/10/2017) lalu. Festival Malang Tempoe Doeloe akan digelar satu hari, pada 12 November 2017, di kawasan Simpang Balapan Ijen hingga area Gereja.

"Fokus kali ini adalah edukasi 1 materi, yakni 'Kelapa Jadi Apa'. Mengolah kelapa untuk berbagai varian. Mulai marut, sampai penyajian," sambung Ida saat menerima penghargaan The Best Tourism Website (disbudpar) dari Majalah MIX di Jakarta.

Festival Ini digelar oleh Yayasan Inggil bekerjasama dengan Disbudpar Kota Malang dan PHRI. Dari poster yang dirilis, festival ini digelar mulai pukul 07.00 - 23.00 WIB.

Ini beberapa kegiatannya:

Marut kelapa, stand kuliner, barang antik dan jajanan tempo dulu, panggung pertunjukan, parade tari tradisi, permainan anak tradisional, dan zona Malang bumi hangus.

"Memang saya, yang kemarin-kemarin (sempat vakum) ada PKL yang semrawut saya tidak mau. Tapi karena selama 3 tahun terakhir ini 'dipaksa',,ya oke lah kita coba tapi satu hari," ujar Dwi Cahyono, pemilik Yayasan Inggil sekaligus pemilik hak cipta Festival Malang Tempo Doeloe saat ditemui usai gelaran International Mask Festival (29/10/2017) di Museum Panji Tumpang.

Menurutnya, gelaran kali ini adalah 'test case'. Tidak menutup semua jalan Ijen, hanya dari simpang balapan hingga gereja untuk mempermudah pengamanan. "Kita lihat, kalau pemerintah serius, steril dari PKL dan semua pengunjung harus memakai pakaian tempo dulu, seperti MTD di tahun pertama, tahun depan akan kita gelar lagi," tegasnya.

Kewajiban pengunjung memakai pakaian tempo dulu adalah penghargaan terhadap pakaian tradisinya sendiri. "Kalau enggak gitu, kita pake kebaya hanya pas Kartinian,"

MTD 2017 kali ini menurut Dwi akan diisi sekitar 150 stan, semua entertaian juga bernuansa tradisi. "Saya tahu ini sangat ditunggu, tapi komitmen pemerintah sangat diharapkan. Tugasnya Pol PP untuk menjaga. Jangan seperti pasar tugu. Kalau nanti semerawut ya saya nggak mau lagi,"

Ia merujuk pada kegiatan mirip MTD yang digelar di kawasan Kayutangan hingga Alun-alun pada 2015 yang menyebabkan kemacetan dan kesemerawutan akses lalu lintas. "Karena itu poros utama, tidak bisa ditutup,". Hal serupa yang dikeluhkan banyak masyarakat (tidak representatif) adalah festival dengan tema serupa yang digelar sebuah EO di kawasan Simpang Bakorwil pada 2016.

Dwi yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jatim ini menyebut, idealnya MTD digelar 2 tahun sekali. "Ini memang konservasi program, jadi tidak sampai 3-4 hari. Agar masyarakat bisa menghargai, nggak kangen tok tapi ikut menghargai," pungkasnya.

[WA]



BACA JUGA