halomalang.com

"Akan Jadi Aneh, Apabila Seorang Guru Seni Tidak Berkarya"

“Sebagai seorang guru seni itu seharusnya punya karya, atau setidaknya berkarya, karena kalau tidak berkarya murid pasti bertanya: la bapak mengajari kita tapi kok karyanya gak ada?,”

Libur sekolah, Firdaus menggeser kelas seni-nya ke Semeru Art Gallery, 16 - 21 Desember 2017. (Doc: Firdaus Muttaqi)

Corat-coret di bangku sekolah dengan tipe-x, spidol, atau ballpoint sepertinya menjadi sebuah kenangan yang akan melekat di benak banyak (mantan) siswa. Tentu saja, kebiasaan ini tidak disukai para guru. Terlebih jika coretannya dianggap jelek.

Ingatan ini dikreasi ulang oleh seniman muda asal Situbondo yang kini tinggal di Malang: Firdaus Muttaqi dalam sebuah pameran tunggal bertajuk "GURU: Kudu Ngguyu Ndlok Rupamu," 16 - 21 Desember 2017.

Ruang pamer di Semeru Art Gallery disulap Daus menjadi sebuah ruang kelas, lengkap dengan bangku, white board, bendera merah putih, foto pemimpin negara, sebuah LED monitor di meja guru yang memutar testimoni seniman lain atas karya Daus. Di tembok terpampang 40 karya berbentuk gambar kreasi Daus. Ilustrasi, maupun karya seni dari ampas kopi dalam frame berukuran A4. Ada juga LJK (Lembar Jawaban Komputer) tanpa alamat sekolah sebagai media. Ia tak egois hanya memamerkan karyanya sendiri, pengunjung diberi kebebasan berkreasi di 'kanvas' bangku maupun papan tulis. Disediakan spidol dan tipe-x sebagai toolsnya.

Firdaus adalah seorang guru Seni Budaya di MAN 1 Kota Malang, sekaligus seniman. Saat menggelar pameran, alumnus S1 Pendidikan Seni Rupa (2012) Universitas Negeri Malang ini tengah libur mengajar.

“Sebagai seorang guru seni itu seharusnya punya karya, atau setidaknya berkarya, karena kalau tidak berkarya murid pasti bertanya: la bapak mengajari kita tapi kok karyanya gak ada?,” uneg-uneg pria yang juga seniman performance art ini.

Lebih terdengar seperti otokritik terhadap diri (guru) dan sistem pendidikan yang ada saat ini.

"Ya, memang sebenarnya ia sedang mengkritik dirinya sendiri dalam pameran ini. Ia ingin menegaskan diri bahwa menjadin guru seni pun pada akhirnya juga dituntut untuk mempunyai sebuah karya. Tidak ada alasan hanya karena system pendidikannya akhirnya guru kekurangan waktu untuk berproses dan berkarya. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang guru seni itu pun sebenarnya juga seorang seniman," kata Pugud Haidi Agus Dila, kurator pameran.

Pugud, dalam ulasannya berjudul 'Guru Seni yang Seniman' juga menyebut "Akan jadi aneh apabila seorang guru seni tidak berkarya. Ia tidak bisa mencontohkan bentuk akhir dari sebuah proses berkarya,"

A post shared by firdaus muttaqi (@firdausmuttaqi) on

Di kelas seni budaya GURU ini, semua bisa berekspresi.

Daus, pria kelahiran 1990 ini terbilang sosok yang lengkap, sebagai guru maupun seniman. Aktif di beberapa organisasi kampus maupun luar kampus sejak 2008 - 2016. Berpengalaman mengajar seni rupa/budaya/fotografi sejak 2011 - sekarang di 6 sekolah di Malang Raya. Pemateri workshop seni, puluhan pameran di Malang, Bali, Sumatera Barat. sejak 2008. Termasuk puluhan pengalaman performance art.

"Firdaus muttaqi adalah seorang yang merangkap kedua posisi tersebut, ia adala seorang guru yang juga merangkap menjadi seorang seniman. Pun telah diketahui, jika dia adalah seorang guru yang teladan dan juga seorang yang produktif berkarya," sambung Pugud.

Dua karakter menarik dalam keseharian Daus, Pugud menilai, sebagai seorang guru dia adalah orang yang sangat teratur dan tertata. Soal karya, tampak sekali coretan kasar bahkan tidak teratur yang sangat kontradiktif dalam kehidupan sehari-harinya. Meski karya Daus cenderung eksplosif dan menabrak banyak tatanan, namun masih mudah dan enak untuk diapresiasi.

Pugud menilai, dalam pameran ini Daus menyampaikan seorang guru juga bisa mensiasati waktu ketika berkarya untuk seni. "Kadang ia menggambar ketika sedang memberikan materi, jadi sekalian ia memberikan contoh kepada anak didiknya dia juga berproses untuk pengkaryaan juga".

Firdaus seolah tak ingin waktunya terbuang percuma karena sistem pendidikan yang memforsir semua waktunya. Terkadang ia juga berkarya menggunakan media-media yang dekat hubngannya dengan kependidikan, seperti papan ajar, maupun lembar jawaban para siswanya.

"Pada akhirnya firdaus pun ngguyu ketika flashback dan ada guru seni yang beralasan tidak dapat berproses dan berkarya. Toh, sekarang pun ia sedang melakukan kedua-duanya," pungkas Pugud.

[WA]



BACA JUGA