Wednesday, 17 October 2018
halomalang.com

Cerita Sukses Dari Bumiaji: Kembangkan Wisata Petik Jambu Kristal dan Pertanian Purbakala

Kembali ke alam, karena alam telah menyediakan semuanya, adalah filosofi organik yang diterapkan Imam Ghozali sejak dulu pada setiap kegiatan bertanamnya. Termasuk Jambu Kristal yang kini jadi tujuan wisata di Bumiaji.

Rakhmad Hardiyanto (32), petani muda kekinian Bumiaji menunjukkan hasil perkebunan Jambu Kristalnya. Rabu, 13/12/2017 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Kabut turun dengan cepat menutupi lansekap Bumiaji yang subur. Hujan sejak pagi baru saja reda, dan masih ada tanda-tanda kembali. Sore sekitar pukul 15.00 WIB kami tiba di kebun display Wisata Petik Jambu Kristal yang dikelola Rakhmad Hardiyanto (32). Ada ribuan pohon Jambu Kristal di sini, di tengah nya ada sebuah bangunan bertingkat yang tampaknya belum selesai dibangun. Area kebun berada di belakang Kantor Balai Desa Bumiaji.

Hardi tidak di tempat. "Sudah pulang setengah jam lalu," kata satu pegawainya. Kami diantar di rumahnya di Jl. Kop Kasdi, Banaran.

Kami disambut ramah, di dalam ruangan ada Imam Ghozali (62) ayah mertua Hardi dan dua mahasiwi pertanian Universitas Brawijaya yang tengah berkonsultasi tentang pertanian organik.

"Bapak, adalah salah satu petani yang mempertahankan pertanian purba. Kita mengenalnya dengan istilah organik. Pionir di Batu," ujar Hardi memperkenalkan.

Hardi adalah petani muda yang dikenal sebagai pegiat wisata di Bumiaji. Petani dan pelaku wisata adalah bagian dari 'gaya hidup' sarjana Teknik Mesin Universitas Brawijaya angkatan 2003 ini. Sang ayah mertua-pun juga alumnus Teknik Mesin. Jika kalian pernah mendengar wisata petik Jambu Kristal Batu, dua nama ini tak dapat dipisahkan. Ia memulai karir petani dari nol pada 2014 lalu, dengan bimbingan Ghozali, Hardi mengembangkan perkebunan Jambu Kristal (Jambu Apel) yang sudah dimulai sejak 2011.

Dari mulai dikerjakan sendiri hingga kini memiliki 17 karyawan. Dari 60 pohon kini 6000 pohon lebih yang produktif. Saat musim panen seperti di bulan Desember ini, tiap pekan bisa dihasilkan sekitar 700 kg. Untuk kualitas A mencapai Rp15.000 per kg. Satu buah kualitas ini bisa berbobot 300gr.

"Jambu ini bijinya sedikit, bertekstur renyah (semakin lembut dan manis ketika matang). Dan bentuknya bisa 'disesuaikan' sesuai teknik membungkus awal. Memang harga bisa dibilang tinggi, dan kita panennya nggak sebanyak seperti jambu lain, tapi kualitasnya sesuai," ucap Hardi.

Pasar menengah ke atas (supermarket/pasar modern) sudah siap menerima jambu-jambu berwarna daging putih ini. Strategi modern (sosial media) kian memudahkan pemasaran, berbeda dengan apa yang dirasakan 5 - 10 tahun lalu yang serba manual dan menguras energi.

"Di Batu, saat ini sudah sangat dinamis soal promosi. Dari akun instagram yang diduplikasi, alamat G-Maps yang 'disasarkan'. Tamu saya nggak satu dua yang nyasar, dan ini mesti pada high session. Jadi untuk promosi (semua cara, jenis sosmed) saya kerjakan semuanya. Kadang ada banyak nama untuk ditandai, yang penting alamatnya ke satu tujuan. Ngomong wisata batu, wisata Bumiaji itu sangat general. Tentu saja ini berpengaruh pada calon pengunjung," imbuh Hardi. "Eranya digital marketing,"

Yang juga dilakukan untuk mendukung sektor wisata ini, adalah kerjasama dengan banyak pihak. Mulai dari akademisi, komunitas guide, pelaku budaya, pemilik homestay, buzzer sosmed, petani, dan tentu saja warga masyarkat yang berada di sekitar kawasan. Di Bumiaji ada beberapa potensi wisata yang berkembang masing-masing, seperti Rumah Budaya Slamet, Homestay, Petik Jambu Kristal, Petik Apel, Sayur Organik, Peternakan Kambing Ettawa. Kemandirian ini menguntungkan Bumiaji secara luas. "Tapi, untuk sebuah Desa Wisata yang terintegrasi, dibutuhkan SDM-SDM bagus di banyak lini. Kita punya tim sendiri untuk menjaga kualitas,"

Sebagai petani kekinian, urusan hulu-hilir harus benar terpikirkan. Ia sedikit flashback, kawasan Bumiaji diberkahi tanah yang subur, udara sejuk, air melimpah, hingga sekarang. Bahkan, dulu Belanda mendirikan kebun percontohan di sini.

"Urusan pemasaran, jaman sekarang seharusnya tak jadi masalah. Tapi sebelum menanam harus dilakukan riset, ya produknya, ya pasarnya," kata Ghozali. "Jangan asal tanam,"

Kembali ke alam, karena alam telah menyediakan semuanya. adalah filosofi organik yang diterapkan Ghozali sejak dulu pada setiap kegiatan bertanamnya. Termasuk Jambu Kristal ini. "Organik itu tidak membasmi (hama,dll) tapi cara kita mengendalikan. Petani-petani lain mungkin melihat cara saya aneh, dari kuantitas hasil kalah dengan cara 'kimiawi', harga jual produknya lebih mahal. Tapi saya membuktikannya. Bahwa masih banyak konsumen yang rela membayar lebih untuk membeli buah/sayur organik karena memang ini investasi kesehatan jangka panjang. Apa yang kita konsumsi berpengaruh," kata Ghozali.

Ghozali memiliki 12 kebun, dan kebun di belakang Kantor Desa Bumiaji adalah display untuk wisatawan. Selebihnya adalah produksi. Dulunya, kata Hardi, justru wisatawan asing yang tertarik untuk memetik langsung sembari berlumpur-ria plus foto di area kebun. Usai memetik juga dilakukan kegiatan edukasi oleh pendamping. Dalam album foto ditunjukkan turis dari Jepang, Inggris,Singapura, AS, dan Belanda pernah ke sini. "Meski kami tak bisa menyadiakan jambu dalam jumlah besar, tapi kapanpun siap. Makan sepuasnya cukup Rp15.000,/orang. Dan jika dibawa pulang harganya sama, Rp15.000/kg," kata Hardi.

Ia membocorkan, jika bangunan besar di tengah kebun display ini nantinya akan difungsikan sebagai Museum Pertanian Purbakala, sesuai rekam jejak sang ayah mertua.

"Anak saya Aqila (PAUD) ketika ditanya guru di sekolah, apa pekerjaan ayahmu? Ia selalu menjawab tegas: petani! 'Kalau ayah nggak ke sawah, Aqila nggak bisa beli mainan'. Mungkin saat ini jarang anak yang bangga dengan profesi orangtuanya yang petani. Tapi hal ini saya tanamkan sejak kecil. Mencintai lingkungan," pungkas Hardi.

[WA]


PROMO KULINER HARI INI

A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.
A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.

A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.


BACA JUGA