Thursday, 21 March 2019
halomalang.com

​"Salah Satu Bambu Petung Terbaik di Indonesia Ada di Batu"

"Saya selalu teringat pesan leluhur saya ketika kecil. Kalau kamu tersesat di hutan, carilah rumpun bambu. Karena biasanya ada mata air di dekatnya. Mata air mengarah ke sungai. Dan sungai mengalir ke arah pedesaan,"

Wayang D'Link, karakter berbahan bambu yang diluncurkan saat Festival Bambu pertama di Ngaglik, Kota Batu. Sabtu, 09/12/2017. Sejumlah seniman dan pegiat juga turut hadir meramaikan. (Foto: W. Arief/Halomalang)

"Bambu kunci utamanya," kata Aziz Suprianto. "Saya selalu teringat pesan leluhur saya ketika kecil. Kalau kamu tersesat di hutan, carilah rumpun bambu. Karena biasanya ada mata air di dekatnya. Mata air mengarah ke sungai. Dan sungai mengalir ke arah pedesaan," ujarnya mengenang, di hadapan penonton Festival Bambu yang pertama di Kota Batu, (09/12/2017).

Menurut Aziz, ini bukan soal kebiasaan pengamatan orang-orang dulu. Tapi, tanaman yang hidup berkelompok ini adalah bagian dari hidup mereka. Penopang air dan tanah, bahan bangunan rumah, perkakas dapur, hingga wahana bermain. "Tapi kini bambu (di hutan) sudah mulai hilang,". kata Aziz yang seorang pesulap ini.

Festival Bambu ini digelar sejumlah pemuda dan seniman Kota Wisata Batu di Balai Kelurahan Ngaglik. Motornya adalah kelompok musik tradisi BamBamBoe yang konsen pada dunia bambu, baik alat musiknya maupun pesan lingkungan yang disampaikan tiap kali mereka tampil.

"Kegelisahan kami, bambu sudah mulai hilang di sini. Padahal dulu banyak, jenis Apus yang saya ingat," ujar Ayom, panitia acara. "Lahannya sudah jadi bangunan semua," ujarnya terkekeh. "Padahal banyak sumber (air) di sini dikelilingi oleh tanaman bambu. Sekarang sudah nggak ada. Buat bahan alat musik saja sudah susah," imbuh Ayom.

Event yang digelar sederhana ini dimaksudkan untuk kembali memotivasi masyarakat agar lebih mencintai bambu. Ada launching wayang D'Link, wayang kreasi, wayang Puspa Sarira, Wayang Cikalan, Kinjeng Kustik, BamBamBoe, Besta Rawis, Kopi Pait, Soegeng Rawoeh, Kak Aziz Franklin dan Diskusi Seputar Bambu bersama Dadang Aremagic.

Ayom sendiri adalah Dalang Wayang D'Link, karakter unik yang diciptakan dari bahan bambu. Mirip wayang golek. Saat ini ada sembilan tokoh. D'Link menurut ayom adalah nama lain dari bambu, bisa diartikan (kendel lan eling; Jawa / berani dan ingat). Wayang ini bebas dimainkan oleh siapa saja yang mau, tidak ada pakem seperti wayang kulit, dll. Tapi inti yang disampaikan tetap sama, kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah bentuk kreasi lain dari bambu yang bisa dieksplorasi anak muda.

Tapi apakah yang Ngalamers tahu tentang tanaman berbatang lurus ini? Ada beberapa fakta unik yang dijelaskan Dadang Aremagic, seniman yang juga pegiat tanaman bambu asal Malang.

1. Bambu adalah tanaman 'alternatif' pengganti pohon berbatang keras yang kini sudah mulai hilang oleh dampak industi dan kemajuan zaman.

2. Mampu mengurangi evaporasi dan menjaga kelembapan tanah.

3. Tiap rumpun, rata-rata mampu mengikat tanah seluas 6 meter persegi.

4. Mampu menyerap karbon di atmosfir, karbon diubah menjadi biomassa.

5. Bambu dengan luas penampang 10 cm2 mampu menahan beban seberat 5000kg.

6. Bahan bangunan yang tahan lama.

Untuk nomor 6, Dadang mencontohkan bangunan Green School Bali, sekolah alam di Badung, Provinsi Bali dengan arsitektur memukau yang berbahan bambu. GSB ini dibangun oleh pasangan John dan Cynthia asal Kanada yang sudah 30 tahun lebih menetap di Bali. Ini adalah konstruksi bambu (salah satu) yang terbesar di Asia.

"Dan ini, 90 persen bambunya dari Arjuno. Karena (bambu) Petung terbaik ada di Arjuno, di Batu ini adalah salah satu Petung terbaik di Indonesia," ujar Dadang.

Pria asal Singosari ini adalah salah satu anggota tim ekspedisi 2015 Bambusa Cornuta Munro yang meneliti satu spesies indukan bambu langka yang diklaim satu-satunya di dunia. Endemik Indonesia ini berada di Dusun Sumbertangkil, Ds. Sumbertangkil, Kec. Tirtoyudo, Kab. Malang. Dan masih bisa ditemukan pada saat ekspedisi (ada 8 titik).

"Orang-orang Jawa menyebutnya Pring Embong. Pohonnya tidak besar, merambat seperti rotan, penampangnya sekitar 3,5 cm. Rumput raksasa, seperti istilah Inggrisnya. Dan jenis ini akan kembali dikembangkan di Malang," kata Dadang.

Meski kecil, Pring Embong ini saling mengikat satu sama lain, dan mampu menahan erosi lahan di sekitarnya.

Ada beberapa video lain yang ditunjukkan, salah satunya hutan bambu di Jepang yang sangat indah dalam beberapa tayangan visual. "Tapi kenapa di Jepang yang spesiesnya lebih sedikit daripada Indonesia bambu lebih terjaga, karena mereka memuliakannya," kata Dadang. "Saya jamin 90% jika anda berkunjung ke sana, pulangnya pasti membawa produk (hasil bambu). Dan ketika mereka memotong 1 bambu, maka diwajibkan menanam pula,"

Menurut Dadang, hal inilah yang belum banyak dilakukan di Indonesia. Betapa besarnya potensi bambu jika bisa dimaksimalkan.

Kapolsek Batu Kota Batu, AKP Arinto Priyo Sularso yang ikut hadir juga mengapresiasi Festival Bambu yang pertama ini. Bahkan ia menyampaikan rencana penanaman bambu di sekitaran kawasan wisata Payung Songgoriti.

"Masih kita rancang dengan rekan-rekan pegiat lingkungan, komunitas, juga warga. Tanaman ini mampu menjaga kondisi tanah. Kita tahu di kawasan payung memang rawan longsor. Kita melihat bambu adalah salah satu solusinya," ujarnya di sela diskusi.

[WA]



BACA JUGA