halomalang.com

Para Seniman Ini Ajak Sayangi Air Dengan Cara "Tak Biasa"

"Selama ini kami hanya menonton pertunjukaan (sejenis) seperti ludruk, jaranan, atau seperti drama. Tapi tidak seperti yang barusan," kata Agus Surahman. "Unik, tidak banyak ngomongnya, tapi warga tertawa ngeh setelah melihat. Beberapa masih bertanya, ini pertunjukan apa ya?,"

MAPAC selalu menggelar PAMAFEST, Hari Raya mereka di tengah ruang publik. Tapi pertanyaan apa itu 'Performance Art' akan selalu ada. Minggu, 31/12/2107 (Foto: W.Arief/Halomalang)

"Selama ini kami hanya menonton pertunjukaan (sejenis) seperti ludruk, jaranan, atau seperti drama. Tapi tidak seperti yang barusan," kata Agus Surahman. "Unik, tidak banyak ngomongnya, tapi warga tertawa ngeh setelah melihat. Beberapa masih bertanya, ini pertunjukan apa ya?,"

Agus adalah Ketua RW 03 di Kelurahan Kedungkandang, Kota Malang. Wilayahnya memiliki satu area taman yang berada di DAS (Daerah Aliran Sungai) Amprong: Wisata Rolak, satu-satunya wisata air di Kota Malang yang menyediakan sewa perahu untuk susur sungai. Di taman inilah digelar untuk kali pertama pertunjukan 'yang tidak banyak ngomongnya' itu di hadapan warga satu RW 03 Kedungkandang, Minggu (31/12/2017).

Adalah PAMAFEST (Performance Art Malang Festival) #8 yang digelar para seniman MAPAC (Malang Performance Art Community). Ada puluhan karya yang diperankan, artinya semakin banyak 'keanehan yang terlihat'. Panggungnya adalah lapangan kecil di tengah taman, tangga menuju sungai, perahu wisata, daratan berlumpur, dan sungai itu sendiri.

Apa yang para seniman itu sedang lakukan?

Sebuah fragmen kehidupan, lengkap dengan adat budaya sebuah wilayah Indonesia Timur yang diperankan Teater Loyola Mahasiswa Universitas Merdeka Malang tiba-tiba ricuh. Kursi plastik bertumbangan diterjang beberapa pemuda berpakaian adat, salah satunya, dengan parang di genggaman. Penonton semburat.

Mereka mengejar sosok berjas hitam yang tertempel tulisan 'Ora Gratis', 'Air Milik Perusahaan Saya', 'Harus Bayar - Dibayar'. Sosok ini sebelumnya terlihat menghambur-hamburkan air di depan kelompok warga yang tengah berduka. Di tengah kesulitan air yang banyak melanda di wilayah Indonesia bagian Timur seperti yang mereka mainkan.

"Tadi takut juga, wajahnya serius," ujar Rohmah, salah satu penonton sembari tertawa. "Saya nggak tahu bahasa mereka. Tapi, dari geraknya tubuhnya, mereka ini merayakan upacara kelahiran, lalu ada duka, susah air, dan ternyata air sepertinya dikuasai perusahaan,"

Para pemeran berkumpul membentuk barisan, mengeluarkan secarik kertas dengan ragam kalimat dengan pesan serupa, salah satunya "Kembalikan Hak Air Leluhur Kami". Tepuk tangan dan siul bersahut.

Selanjutnya giliran Dapeng dengan masker hitam, memainkan kain putih panjang, delapan buah semangka, pasta gigi, pengharum ruangan, replika Merah Putih dalam tusuk gigi, dan puluhan gelas air mineral. Teatrikal tunggal tanpa dialog ini berakhir dengan sebuah permainan ala bowling semangka dengan target gelas-gelas air mineral yang berdiri di atas peta kepulauan Indonesia yang dibuat dari kombinasi pasta gigi dan pengharum ruangan. Semangka-semangka yang pecah jadi rebutan warga usai pementasan berjudul "Republik Agraris" ini. Monopoli air masih jadi tema utama.

"Bagus, bagus sekali. Meski hampir semua dari kami baru melihat yang semacam ini, tapi semuanya menikmati. Sebenarnya saya berharap jika pertunjukan ini ditampilkan saat ada bapak Camat, pak Lurah pagi tadi. Biar semua tahu jika Taman Edukasi ini adalah ruang untuk kegiatan apapun, termasuk kesenian yang baru kami lihat. Ini dibangun oleh warga dan silakan dimanfaatkan dengan baik," kata ketua RW 03.

Air memang jadi isu utama PAMAFEST #8. Tapi kenapa untuk menyampaikan sebuah pesan penting harus dengan hal-hal yang susah 'dimengerti' umum?

"Sudah barang tentu kegiatan yang asing ini menjadi pertanyaan warga, apalagi nantinya akan ditemukan hal-hal yang sedikit janggal dan tak biasa. Ini sudah jamak terjadi di setiap gelaran," terang Soge Ahmad, salah satu seniman MAPAC. Apa itu performance art? adalah pertanyaan yang selalu ada dari waktu ke waktu. Terlebih PAMAFEST selalu dilakukan di ruang publik.

"Pada dasarnya, Performance Art bukanlah gelaran yang baru atau 'asing', mungkin karena kenamaannya yang 'Nginggris' saja yang membuatnya nggak familiar di telinga umum. Padahal, sejak 1970an sudah dilakukan di Indonesia walaupun dengan penyebutan yang berbeda. Ini adalah semacam medium/semangat baru dalam mengeksplorasi seni."

Soge menambahkan, dari jejak masa lalu, kegiatan performance art sudah dilakukan sejak jaman kerajaan. Satu contoh: rakyat mengkritisi pemerintah kerajaan dengan aksi berdiri seharian menghadap pendopo dari tengah Alun-alun, hingga sang raja/utusan datang menanyakan keinginan warga yang beraksi.

Di Eropa, pada era 1920an, perforrmance art tak bisa lepas dari kritik terhadap situasi sosial hingga terhadap seni itu sendiri. Di masa itu dunia seni begitu berjarak dengan masyarakat. "Performance art hadir melebur batas itu. Seni bisa dilakukan siapa saja, latar belakang ilmu apa saja, dan tentunya bertanggung jawab dan penuh kesadaran," ujarnya. Soge adalah seorang arsitek, dan rekan-rekannya dalam MAPAC ada yang berprofesi guru, pelajar, musisi, juga ibu rumah tangga.

Meski dalam performance art semuanya mengalir, tanpa kepura-puraan sang pemeran, pendekatan kepada publik (Khususnya RW 03) tetap dilakukan sebelum tampil. "Ini adalah seni yang mengandalkan konsep dan riset sebagai acuan dalam membuat dan eksekusi karya," kata Soge.

Hal-hal 'masokis' (menyakiti diri sendiri) sampai hal-hal yang lemah lembut tentu saja ada di performance art. Dalam PAMAFEST #8, dicontohkan ketika Agus Gembo menampilkan karyanya berjudul 'Merdeka'. Kresek merah berisi burung-burung Pipit disarungkan ke kepalanya sembari menenteng kurungan berisi bangkai burung sejenis. Selang beberapa menit kresek itu dirobek, burung-burung terbang, dan Gembo bernafas lebih lega. Terlihat menyeramkan?

"Yang pastinya tetap dalam koridor 'jika ingin terus berkarya dalam performance art, jaga dan rawatlah seluruh bagian tubuhmu," imbuh Soge menjelaskan bahwa tubuh performer (bisa diwakilkan medium lain) adalah medium utama dalam genre seni ini. Dan tentunya penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Mewakili sisi lemah lembut, adalah ketika anak-anak warga setempat diajak Bejo Sandy menuliskan harapan untuk Wisata Rolak yang menjadi bagian ruang hidup mereka dalam perahu-perahu kertas kecil. Vivi, mengajak sang buah hati melepas puluhan burung dari bantaran sungai. Dan di akhir kegiatan, Agus Surahman (Ketua RW 03) menerima kenang-kenangan tanaman bunga dari seniman MAPAC.

Di akhir wawancara kami dengan Agus Surahman, ia menjelaskan bahwa lingkungannya diberkahi air yang melimpah. Dan warganya banyak menerima manfaat.

"Wisata perahu, ada taman edukasi, warga bisa berjualan, bahkan ada yang mencari cacing untuk pakan ikan yang ternyata bernilai ekonomi tinggi. Kami pagi tadi juga tasyakuran usai menerima penghargaan Juara 2 Penataan Taman Lingkungan se Kota Malang. Akan kami jaga," pungkas Agus.

Performer dalam PAMAFEST #8:
Rifki Kucing (Perjanjian Air), Dapeng Gembiras (Republik Agraris), Loyola Teater (Jaga Air Untuk Indonesia Timur), Vivi (Kotak Pandora), Gilang (Banyuku), Bejo Sandy (Prahuku), Seyhan Zuleha (Introspeksi), Firdaus Muttaqi (JAS Merah), Soge Ahmad (Untuk Ilham), Gembo (Merdeka), Huda Mifta (Harapan), Jhon Aris (Kejar Target).

[WA]





BACA JUGA