Sunday, 16 December 2018
halomalang.com

#104NuhatKotaMalang Mengenal Kota Malang Lebih Dekat

27-Mar-2018 [11:00]
Tanggal 1 April 2018 ini, Kota Malang genap berusia 104 tahun. Sebagai Kera Ngalam #TahukahNgalamers sejarah Kota Malang?

Tak terasa, Malang akan merayakan ulang tahunnya kembali dalam waktu dekat ini. Pada tahun 2018 kota kita akan memasuki umur yang ke-104, lho Ngalamers. Seratus empat tahun tentu bukanlah umur yang singkat bagi Kota Pendidikan ini. Banyak hal yang sudah dilalui kota kita bahkan sebelum ia berdiri. Kita simak sama-sama yuk, Ngalamers perjalanannya.

Menurut sejarah, kota Malang tercatat memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penemuan hasil karya pandai emas di daerah Dinoyo, yang tentu saja menunjukkan bahwa di daerah tersebut penduduknya cakap mengerjakan logam emas. Tingginya peradaban inilah yang menjadi indikator bahwa masyarakat Malang memiliki tingkat kecerdasan yang baik. Wah, pantas saja ya, Ngalamers. Sejak dulu ternyata kota kita sudah terkenal akan kecerdasan penduduknya. Maka tak heran kalau sekarang kota ini dikenal sebagai Kota Pendidikan.

Asal kata “Malang” sendiri pertama kali muncul sejak zaman Islam di Indonesia. Awalnya, kota ini sempat hancur saat Sultan Demak memenangkan perang dengan kerajaan Hindu dan membagi-bagikan wilayahnya pada anak-anaknya. Namun tak disangka, hal inilah yang memicu peperangan dan berakibat pada merosotnya jumlah penduduk. Banyak penduduknya yang pindah ke kota lain sampai akhirnya kota ini hanya berupa hutan belukar. Tetapi, 200 tahun setelahnya atau tepatnya pada abad ke-18, putra Suropati yang menguasai Pasuruan secara diam-diam membangun kerajaan. Saat itu bertepatan juga dengan Sunan Mataram yang ingin memperluas daerah jajahannya ke Jawa Timur. Namun ternyata, saat hendak menundukkan kota Malang, rakyat Malang pada masa itu tidak tinggal diam. Mereka berjuang mati-matian untuk mempertahankan kotanya. Sunan Mataram pun menyebut penduduk Malang membantah, atau dalam bahasa lain berarti malang.

Sikap arek Malang yang sulit ditundukkan itu pun berlanjut sampai ke zaman penjajahan Belanda. Saat penjajah Belanda hendak mendudukkan kota ini pun, rakyat Malang juga sulit ditundukkan lantaran tidak mau dijajah. Hal inilah yang menjadi cerminan bahwa masyarakat Malang memiliki sifat teguh pendiriannya.

Nah, setelah mengetahui sejarah Kota Malang tersebut, lalu mengapa tanggal 1 April 1914 baru menjadi hari lahir kota ini? Jawabannya adalah, karena sejak saat itulah kota yang disebut juga sebagai Kota Bunga ini mulai dibangun. Sejarah mencatat, Gementeraad Malang berdiri dengan anggaran f.44.867.86 yang kemudian anggaran tersebut disiapkan untuk membangun prasarana jalan, kebun beserta tanaman-tanamannya, lampu penerangan, dan lain sebagainya. Ditanaminya tumbuh-tumbuhan sejak awal ini juga menjadi bukti bahwa Malang sudah memperhatikan keindahan kotanya, bahkan sejak awal pembangunannya. Pantas saja ya, Ngalamers. Sampai saat ini pun “Malang Ijo Royo-Royo” masih menjadi salah satu slogan kota kita.

Malang pun terus berkembang. Dari yang tadinya hanya merupakan kota sepi, kota yang terkenal dengan udara sejuknya ini mulai diramaikan oleh para pedagang dan lambat laun menjamurlah kawasan bisnis dan fasilitas pendidikannya. Antara tahun 1925–1929, Malang juga mulai melakukan pembangunan lingkup sosial seperti bidang kesehatan, perumahan, pengajaran, dan olahraga. Hal ini pun melatarbelakangi visi dan misi Kota Malang, “Tri Bina Cita”, yaitu Malang sebagai kota pendidikan, industri, dan pariwisata.

Dari catatan sejarah tersebut, kita pun menjadi lebih tahu bahwa ternyata kota Malang yang kita tempati sekarang ini tidak tercipta begitu saja. Terjadi perjuangan pada awal awalnya. Apalagi kalau bukan perjuangan dari para pahlawan kita. Setelah itu juga terjadi pembangunan yang tentu terus dilakukan sampai sekarang untuk mempertahankan visi dan misinya. Untuk itu, kita sebagai masyarakat kota Malang jangan sampai menyia-nyiakan apa yang sudah dibangun sejak awal. Kita perlu menjaga dan turut serta mengembangkan kota ini.

Jadi, hal apa yang sudah Ngalamers lakukan untuk Kota Malang?

Sumber : Wirjosoedibyo, dkk. 1954. 40 Tahun Kota Malang. Malang: Panitia Peringatan Kota Malang.
Penulis : Erika Mulyadi (Program magang BINUS @Malang/Ilmu komunikasi)


BACA JUGA