halomalang.com

​Foto: Tawur Agung Sambut Momen Istimewa Nyepi dan Saraswati 2018 di Gondowangi

Malang Raya memiliki keberagaman budaya dan maupun manusianya. Di Gondowangi, meski hanya sekitar 10 persen penganut Hindu, mereka menyatu dengan harmonis bersama masyarakat penganut keyakinan lain.

Dirayakan bersama masyarakat sekitar, perayaan Tawur Agung menyambut Hari Raya Nyepi 2018 di Desa Gondowangi Kabupaten Malang. Jumat, 16/03/2018. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Menjelang pukul 22.00 WIB pawai Ogoh-ogoh Tawur Agung Nyepi 2018 tiba di Lapangan Gedangan. Mayoritas anak-anak yang menjadi pengusungnya tampak belum kehilangan energi. Memutar, mengguncang Buto Kolo (Raksasa yang digambarkan dalam bentuk Ogoh-ogoh). Mereka bersorak begitu kepala Kolo terlepas. Usai pemberkatan, Buto Kolo dikumpulkan, petasan dan kembang api meyalak. Tibalah puncak acara: pembakaran Ogoh-ogoh, sebagai simbol pemusnahan angkara.

"Kami mempersiapkan ini sekitar satu bulan. Satu Ogoh-ogoh pembuatannya ditanggung kolektif, minimal 5 KK," ujar Puntoro, tokoh Hindu setempat. "Karena kita fokusnya tak hanya di ogog-ogoh, ada persiapan Melasti, juga pembuatan Jolen untuk dilarung ke laut,"

Meski bentuk Ogoh-ogoh beragam, namun menurut Puntoro, khusus di Gondowangi ada tiga patrun: Kala Abang (Merah), Kala Ireng (Hitam) dan Kala Putih. Ketiganya mewakili sifat pribadi manusia. Merah = Angkara Murka, Hitam = Raga Halus dan Kasar (Pendamping Kehidupan), Putih = Kebaikan.

"Mereka perwujudan sifat-sifat kita (manusia). Simbol-simbol kita Upakarai, diarak, lalu Pralina. Selanjutnya seluruh umat menjalani Catur Brata Penyepian," jelas Puntoro.

Menurutnya, jumlah yang menyusut tak sedikitpun mengurangi kekhidmatan umat untuk menyambut Nyepi yang tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Momen istimewa ini jarang terjadi di kalender umat Hindu tanah air. Bahkan diprakirakan momen ini terjadi 100 tahun sekali. Hari Saraswati adalah pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, perayaan turunnya ilmu pengetahuan.

PHDI Kabupatan Malang menjalankan seluruh rangkaian kegiatan Nyepi, mulai dari Melasti, Tawur Kesanga, Brata Penyepian dan Ngembak Geni.

"Tawur Kesanga untuk menetralisir makhluk-makhluk halus yang akan mengganggu umat yang akan menjalankan Catur Brata Penyepian yang dimulai pada Sabtu (17/03) pukul 06.00 hingga esok hari di waktu yang sama. Empat macam pengendalian diri: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan. Intinya introspeksi diri tahun 1939 Saka yang akan ditinggalkan," ujar Istianah Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Malang.

Satu hari setelah Catur Brata, digelar Upacara Ngembak Geni. Saling maaf memaafkan ketika mengawali Tahun Baru Saka 1940 untuk pencapaian keharmonisan yang lebih baik dalam buana alit (makhluk hidup) maupun buana agung (alam semesta).

"Dengan meningkatkan catur brata penyepian, kita angkat rasa solidaritas untuk mempertahankan NKRI. Mari kita tingkatan kerukunan antar umat bergama dan ajaran Tri Hita Karana: Hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi, hubungan harmonis antar sesama manusia, dan harmonis antara manusia dan lingkungan," pungkasnya.

Danis Setia Budi, Kepala Desa Gondowangi menyebut ada sekitar 10% warganya yang memeluk Agama Hindu. Dan berdampingan harmonis selama ini dengan umat lain.

"Di Kecamatan Wagir ada 5 desa yang penduduknya memeluk Hindu, yang terbesar di Sukodadi, sekitar 40 %. Tapi Pura yang terbesar ada di desa kami, Pura Mustika Dharma," ujarnya.

Desa Gondowangi sendiri adalah wilayah sub-urban Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Sukun, Kota Malang. Artinya, tak jauh dari aktivitas ekonomi urban perkotaan, juga dekat dengan perguruan tinggi. Meski mayoritas bermata pencaharian petani, banyak juga yang bekerja sebagai pedagang maupun pekerja kantoran.

Meski demikian, mereka masih memegang kekhasan budaya sebagai identitas. Ada Wayang Krucil Wiloso yang ikonik. Tiap tahun juga digelar Festival Budaya Kampung Dilem.

[WA]



BACA JUGA