Sunday, 22 September 2019
halomalang.com

Genjreng Jalanan: Wadahi Bakat, Membuka Ruang Apresiasi di Tengah Kota

"Malang tak pernah kekurangan bakat, di musik atau seni, tapi ruang-ruang untuk mereka show off yang dirasa belum maksimal. Katakanlan kita agak kesulitan mencari public space yang ramah untuk berekspresi, terutama untuk musik. Padahal, istilah Kota Kreatif sudah sering disuarakan pemerintah,"

Genjreng Jalanan #2 digelar bertepatan dengan Hari Bumi. Para seniman dan musisi merayakan dengan cara masing-masing. Minggu, 22/04/2018. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Hari Bumi juga dirayakan oleh sejumlah seniman-musisi Malang Raya dengan beragam ekspresi di Alun-alun Malang, Minggu (22/04/2018).

Musik, teater, tari, permaian tradisional, hingga pembuatan wayang suket (rumput) disajikan dari pagi hingga malam dengan satu tema: menyebarkan semangat positif untuk lingkungan tempat kita tinggal.

"Semangat Hari Bumi seharusnya tidak dirayakan hanya setahun sekali, tapi setiap hari. Karena bumi, kita hidup di dalamnya, sudah menjadi kewajiban untuk menjaga," ujar Dina, salah satu band pengisi acara. Dina tergabung dalam band bernama 'Dina and Friends'.

Selain Dina, ada band/musisi yang terkenal akan lirik-lirik bertemakan lingkungan seperti: Pagi Tadi, Joko Tebon, juga Tropical Forest Reggae. Pengisi teater dan tari di antaranya: Teater Komunitas, Teater Lingkar, Padma Kartyasa, Celoteh. Pengunjung Alun-alun juga bisa menyaksikan langsung Mural & Grafitti serta body painting bertemakan Hari Bumi 2018 di event Genjreng Jalanan #2 kali ini.

"Bagus sih. Duduk-duduk di bawah pohon bareng keluarga plus hiburan gratis, apalagi musiknya nggak yang kenceng-kenceng banget. Enak didenger," ujar Rendra, pengunjung Alun-alun yang datang bersama anak dan istrinya untuk berakhir pekan.

Respon Ruang-ruang di Tengah Kota Untuk Berekspresi.

Genjreng Jalanan sudah berjalan di pekan kedua. Event yang diinisiasi para pegiat di Musik Malang Bersatu (MMB) ini direncakanan digelar di tiap akhir pekan di bulan April, di lokasi yang sama: Tourism Information Center (TIC) Alun-alun Malang. Dimulai bertepatan dengan bulan HUT Kota Malang ke-104.

"Malang tak pernah kekurangan bakat, di musik atau seni, tapi ruang-ruang untuk mereka show off yang dirasa belum maksimal. Katakanlan kita agak kesulitan mencari public space yang ramah untuk berekspresi, terutama untuk musik. Padahal, istilah Kota Kreatif sudah sering disuarakan pemerintah," terang Ook, pegiat di Genjreng Jalanan ketika ditemui halomalang di sebuah event musik di Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu.

Kota Malang memiliki banyak ruang terbuka/publik seperti Taman Kota, Alun-alun yang bisa digunakan untuk gigs kecil-kecilan. Tapi selama ini, menurut Ook, banyak para musisi terbentur pada perijinan/akses.

"Ada banyak hal. Ya bisa dibilang agak rumit, tapi kudu dilakoni. Meskipun harus pontang-panting kesana kemari, tapi ini harus dimulai. Mau nggak mau kita harus tahu proses di birokrasi. Mereka juga perlu tahu tujuan kita, nilai tawar. Komunikasi ini yang harus nyambung, termasuk antar musisinya sendiri," terang Ook.

Event Genjreng Jalanan ini gratis untuk umum. Ook tak menutup kemungkinan, jika event ini tetap berlanjut meski bulan April telah usai.

"Karena tujuannya untuk mewadahi para seniman/musisi (terutama yang muda) untuk mengenalkan karyanya. Tentu untuk mereka menyewa gedung pertunjukan terlalu berat, sedangkan tampil di cafe-cafe juga belum tentu, karena belum dikenal publik. Ini murni pergerakan temen-temen pegiat musik. Lalu kita ajak kerjasama Dinas Pariwisata Kota Malang dalam hal lokasi. Kita terbuka bagi siapapun yang ingin nggenjreng bareng," sambung Ook.

Serba Kolektif.

TIC corner di Alun-alun Malang (depan Mall Alun-alun) adalah titik perhelatan Genjreng Jalanan tiap akhir pekan. Rupanya, bangunan ikonik yang menghiasi sudut Alun-alun ini telah lama tak terpakai, bahkan tanpa aliran listrik.

"Kami berinisiatif membeli kabel, dan menyambungkan sendiri, dengan ijin dinas terkait (Disperkim)," ungkap Ook.

Tak hanya soal listrik, unsur kolektif juga termasuk di penyediaan sound system yang menjadi hal utama. "Alhamdulillah saat ini kita disupport penuh temen-temen Malang Sound Community yang diketuai mas Jambul," ujar Muhammad Faizal, salah satu pegiat di MMB (22/04/2018).

Di MMB sendiri mewadahi beberapa komunitas di bidang musik seperti: Malang Sound Community, Voice of Malang, Malang Guitarisick, Kumpulan Bassist Malang, Malang Drummer Community, Kibordis Malang.

Faizal menuturkan, kolektivitas masih menjadi kekuatan dalam pergerakan MMB. Tapi pihaknya juga terbuka bagi pihak luar yang ingin membantu. "Semangat para pengisi acara luar biasa. Temen-temen ini perlu didukung, kita juga masih kekurangan dalam lighting, kabel, dan beberapa terkait visual jika mereka memerlukan," sambungnya.

Genjreng Jalanan ini digelar tiap hari Sabtu - Minggu, (10.00 - 21.00 WIB). Selain Dinas Pariwisata Kota Malang, event ini juga didukung oleh komunitas #SaveMalangHeritage.

Dalam momen Minggu malam (22/04/2018) perwakilan MMB juga mengumumkan akan menggelar event akbar Malang 104 Sound of Unity di Stadion Gajayana, Kota Malang. Event yang dihelat pada 09 Mei 2018 ini akan menggabungkan pertunjukan sound system 520.000 Watt, lighting show, ratusan panggung, lebih dari 500 musisi dan penari tradisional.

[WA]



BACA JUGA