Sunday, 22 September 2019
halomalang.com

Ada Kolektifitas dan Persaudaraan! Pesta Paripurna Orkesan di Kajoetangan Sukses Digelar

Acara ini dibuat dengan tujuan memperkenalkan musik orkes agar tidak dikenal sebagai musik dangdut saja, tetapi menjadi musik yang bisa juga dinikmati oleh anak muda dan berbagai kalangan

Tak hanya orkes musik, kawasan ikonik Kajoetangan juga dijadikan platform untuk memajang karya seni dan aneka jenis lapakan. Minggu, 01/04/2018 (Dok: Kemenbudur)

Menyambut ulang tahun kota Malang yang ke-104, sebuah acara bertajuk Pesta Paripurna Orkesan di Kajoetangan telah dilaksanakan pada hari jadi Malang yang jatuh di tanggal 1 April 2018.

Bertempat di kawasan legendaris Pertokoan Kayutangan, acara ini diadakan oleh Kementerian Budaya Urban, sebuah kolektif seni dari pemuda dan pemudi Malang dan bekerja sama dengan beberapa instansi seniman orkes di Malang Raya. Acara berlangsung dalam 2 tahap yakni Bazaar Kayutangan yang dimulai dari pagi hari dan Orkesan di Kajoetangan yang dilaksanakan dari sore hingga malam hari.

Bazaar Kayutangan yang bertempat di halaman parkir Digital Lounge Telkom Kayutangan mengajak anak-anak yang tinggal di sekitar kampung Kayutangan untuk mendapatkan edukasi tentang kesehatan gigi sekaligus melakukan kegiatan edukatif lain. Jembatan Kayutangan pun tak luput digunakan sebagai platform untuk memajang karya seni dari Sanggar Minat.

Di area utama yang terletak di Pertokoan Kayutangan, panggung utama mulai dihentak oleh alunan orkes sejak pukul 16.00 WIB. Cuaca yang mendung dan diterpa hujan tidak menyurutkan antusiasme para peserta acara ataupun penonton yang semakin larut semakin memadati kawasan ini. Terdapat lapakan dari 15 tenant, antara lain Arema FC, Demajors Malang, Nad & Sky, Kriya Malang, Sam Brewok, dan masih banyak lagi.

Panggung hiburan diisi oleh penampilan dari Kopi Pait, Teni Flopi, Socikoclogy, APA Rapper, Bluegrass, Tahu Berontak, Gangster 25, Rumah Serem, Kos Atos, Thek Thek Thuk, serta duet maut dari Tani Maju dan Nganchuk Crew. Para penonton diajak berdendang dan bergoyang dalam irama orkes yang banyak menceritakan tentang kearifan lokal Malang. Acara juga makin semarak dengan adanya pameran seni kolase dari People Nowadays, program terdahulu dari Kemenbudur; live performance dari MFD Flow Art, serta live mural becak dari Malang Mural Family. Ada juga pemutaran film pendek dari komunitas Lelakon yang dilanjutkan dengan seremonial pemberian hadiah untuk pemenang Kompetisi Skenario Film Pendek Parade Film Malang 2018.

Acara ini dibuat dengan tujuan memperkenalkan musik orkes agar tidak dikenal sebagai musik dangdut saja, tetapi menjadi musik yang bisa juga dinikmati oleh anak muda dan berbagai kalangan.

“Acara ini bernama Orkesan di Kajoetangan dan idenya memunculkan semangat orkes, bukan hanya pengertian orkes sebagai musik dangdut. Semua pemain yang bermain di sini inilah para orkesan. Pemain musik yang memainkan dengan cara mereka sendiri itulah new orkesan,” ujar Novan Tri, penggagas acara ini sekaligus personel dari Tani Maju.

“Kami sendiri suka semangat kolektifitas dan persaudaraan yang muncul dari para pengisi acara, panitia, dan partisipan lain di acara ini. Kami ingin menunjukkan bahwa musik sejatinya bisa menjadi jembatan terbaik untuk komunikasi antar generasi, dan kebetulan musik orkes yang dipilih,” ungkap perwakilan dari Kementerian Budaya Urban.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai acara ini atau program lain, follow Instagram @kemenbudur



BACA JUGA