Wednesday, 17 October 2018
halomalang.com

Ekonomi Kreatif dan Geliat Seni Rupa Mahasiswa PGMI UIN Maliki Malang

Kekhawatiran akan tersendatnya regenerasi, salah satunya diantisipasi dengan mendirikan Sanggar Seni Rupa dan Sekolah Media untuk para mahasiswa PGMI.

Art Diorama & Culture Expo oleh mahasiswa semester 4 Prodi PGMI UIN Maliki Malang di area Gedung Microteaching, Senin - Selasa, 14-15 Mei 2018. (Foto: W. Arief/Halomalang)

Ada ratusan karya seni rupa didisplay di area Gedung Microteaching UIN Maliki Malang dua hari ini, Senin - Selasa 14 - 15 Mei 2018: Dompet dan tas berhias tisu decoupage, sepatu, lukisan, botol hias, batik keramik hingga diorama 3D media pembelajaran.

Siapa sangka, benda-benda cantik yang sudah dilengkapi banderol harga ini adalah kreasi para mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maliki Malang angkatan 2016. Ada juga karya foto dan buku Seni Rupa Ekonomi Kreatif. Item-item ini dijual mulai kisaran Rp12.000 - Rp150.000

"Ini hasil proses kami selama satu semester, mata kuliah Seni Rupa bimbingan pak Joko Prihatin," ujar Ayuni Ristinirmawati, mahasiswa kelas D PGMI seraya menyalakan lampu hias berbahan sendok plastik bekas yang tak kalah menarik.

"Dompet, tas, sepatu, kipas ini semua berbahan daur ulang. Dari serat enceng gondok. Cara-cara pembuatan sudah tertera di buku Seni Rupa Ekonomi Kreatif, buku-buku ini juga kami jual loh. Tiap kelompok memiliki kreasi berbeda," ujarnya.

Buku-buku berukuran majalah ini juga dilengkapi sedikit pengetahuan tentang dasar seni rupa. Rupanya, jiwa seni menjadi salah satu perhatian khusus bagi calon pendidik tingkat SD/MI ini Ngalamers. Selain seni rupa dan media, di semester lain juga diajarkan mata kuliah seni musik, juga seni tari.

"Melatih kreativitas, berlatih bagaimana menjual, juga modal nanti ketika ketika sudah lulus dari PGMI untuk terjun di masyarakat. Media-media ini yang terpilih juga nanti akan disumbangkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan," terang Agung Alamsyah Putra, ketua pelaksana pameran.

Para mahasiswa mewujudkan tema 'Kebersamaan' dalam beragam bentuk diorama yang menarik juga interaktif. Dan sama, terbuat dari bahan daur ulang.

"Menjelaskan Kebersamaan ke adik-adik SD/MI agar lebih mudah. Kebersamaan dalam masyarakat, bermain, siklus alam. Banyak macamnya. Ada 17 diorama yang mewakili mata pelajaran," sambung Agung. Pameran seni rupa seperti ini sudah dijalankan mahasiswa PGMI FTIK UIN Maliki Malang sekitar 4 kali. Ekonomi kreatif menjadi poin khusus dan harus terus dilatih, kata Agus Mukti Sekretaris Jurusan PGMI.

"Para mahasiswa ini kan nantinya akan mengajar anak-anak. Nah, mereka harus kreatif terlebih dahulu, tahu bagaimana cara memasarkan. Tak hanya paham masalah akademik, anak-anak SD sekarang juga sudah diajarkan cara menjadi creativepreneur sejak dini," Memang, saat ini belum ada tempat display khusus untuk karya maupun pameran. Para mahasiswa PGMI memanfaatkan space kosong di belakang Gedung Microteaching.

Lokasi ini memang dibilang belum representatif untuk pameran, karena tak terlihat dari depan. "Sementara di sini. Tapi kita juga usahakan, karya-karya mereka sudah ikut mejeng di beberapa seminar bertaraf nasional yang diselenggarakan kampus. Beberapa ruangan dalam gedung kampus juga sudah ikut mendisplay,"

Kekhawatiran akan tersendatnya regenerasi, salah satunya diantisipasi dengan mendirikan Sanggar Seni Rupa dan Sekolah Media untuk para mahasiswa PGMI. "Para alumni yang sudah lulus dan berhasil kan agak susah kalau kami tarik membantu, mereka juga punya kesibukan. Ya mau-tak-mau kelas media/seni rupa kami genjot," pungkas Agus.

Apresiasi lain disampaikan Joko Prihatin, Dosen Pembina Matkul Seni Rupa PGMI. Pria multi talenta ini menyebut jika materi ekonomi kreatif adalah salah satu senjata ketika mahasiswa ini terjun di masyarakat.

"Katakanlah ketika mereka PPL (Program Pengalaman Lapangan), mereka tak perlu memulai dari 0 untuk mengajarkan kreatif-ekonomi ke siswa. Dan ketika para siswanya bisa membuat sesuatu, bisa promosi, kemudian laku terjual, siapa yang bangga? Siswa dan orang tuanya, juga pengajarnya," kata Joko.

Program pengembangan skill mahasiswa yang dimiliki PGMI UIN Maliki Malang yakni 'Rumah Bibit' juga disiapkan untuk menampung sejumlah karya-karya Seni Rupa/Media Pembelajaran agar lebih bermanfaat. Rumah Bibit didirikan pada 2014 lalu di Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Rumah ini adalah sarana para mahasiswa calon guru untuk mengembangkan pendidikan dasar pada anak-anak.

"Salah satu alasan di ekonomi kreatif, saya melihat ketika anak-anak membuat karya di kelas lalu dibuang. Karena kebanyakan materi dari kertas. Nah kali ini saya coba tinggalkan kertas, mencoba materi baru yang bisa diaplikasi di banyak media (bahan bekas, keramik) dan punya nilai ekonomi. Beberapa waktu lalu saya tunjukkan karya anak-anak ini ke sebuah hotel di kawasan wisata di Indonesia Timur, mereka tertarik dan langsung memesan sejumlah item," sambung Joko.

Joko tak hanya mengajar seni rupa, termasuk seni musik dan pertunjukan. Di Malang, ia dikenal sebagai salah satu musisi dawai yang piawai. "Untuk pameran yang dijual baru kali ini. Dan nanti akan terus ada evaluasi, apa yang perlu ditambahkan dan perbaiki," pungkasnya.

[WA]




PROMO KULINER HARI INI

A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.
A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.

A&W Paket Hari-hari Untung
​Paket spicy aroma chicken hanya 30ribu rupiah saja.


BACA JUGA