Tuesday, 11 December 2018
halomalang.com

Begini Pesugihan di Pesarean Gunung Kawi

Terkait praktik pesugihan yang dilakukan di Gunung Kawi, Hari mengakui bahwa memang benar Gunung Kawi merupakan tempat mencari pesugihan, tetapi hanya untuk masyarakat Gunung Kawi.

Hari Priatin Aji yang merupakan Sekretaris Yayasan Gunung Kawi sedang melakukan klarifikasi terkait adanya pesugihan di Pesarean Gunung Kawi (18/4).
Foto : Alvin Marina

Ngalamers, pasti sudah familiar kan dengan Gunung Kawi? Gunung yang terlanjur lekat sebagai tempat wisata spiritual dan mencari pesugihan ini berada di sebelah barat Malang. Adanya film serta cerita dari mulut ke mulut menimbulkan stigma di masyarakat, bahwa Gunung Kawi adalah tempat mencari pesugihan yang memakan tumbal. Di kawasan Gunung Kawi sendiri ada Pesarean Gunung Kawi dan Keraton Gunung Kawi. Meskipun berada di kawasan Gunung Kawi, namun keduanya tidak memiliki hubungan satu sama lain dan lokasinya pun berbeda.

Ngalamers, begini awal penelusuran kebenaran tentang pesugihan di Pesarean Gunung Kawi. Saat memasuki kawasan Pesarean Gunung Kawi tidak ada hawa mistis yang terasa. Semua terasa biasa saja, layaknya seperti berziarah ke makam pada umumnya. Di area parkir dipenuhi oleh kendaraan. Di pinggir jalan menuju makam banyak penjual bunga dan penjual makanan. Masjid dan klenteng berdampingan seakan menyiratkan suasana kontras dengan cerita yang beredar bahwa Gunung Kawi adalah tempat angker. Di depan kompleks pesarean berdiri gapura kokoh dengan ukiran relief diatasnya. Dari tengah gapura tersebut terbentang anak tangga menuju pesarean Eyang Djoego dan Eyang RM Iman Soedjono. Saat masuk ke kawasan makam, pengunjung maupun peziarah akan disambut dengan pohon dewandaru yang merupakan ikon dari Gunung Kawi. Konon katanya jika ingin ngalap berkah maka harus bersemedi di bawah pohon yang ditanam oleh Eyang RM Iman Soedjono ini. Daun atau buah dari pohon yang jatuh akan dijadikan sebagai jimat yang dipercaya dapat mendatangkan kekayaan serta keberuntungan.

Yayasan Gunung Kawi juga tak mengerti mengapa cerita mengenai praktik pesugihan Gunung Kawi bisa terbentuk di masyarakat. Padahal menurutnya orang yang datang ke Gunung Kawi tujuannya cuma satu yakni untuk berziarah ke makam Eyang Djoego dan Eyang RM Iman Soedjono. Berziarah ini dilakukan dengan memesan menu untuk selametan yang telah disediakan di Gunung Kawi. Jika telah memilih paket selamatan kemudian peziarah akan diberikan kartu antrian dan nantinya akan dipanggil untuk berkumpul di Pendopo Agung lengkap dengan menu yang telah dipilih tadi. Apabila peziarah tersebut mempunyai hajat maka akan di doakan di dalam makam yang prosesnya juga sama seperti selamatan di masjid.

Seperti yang dilakukan oleh Sulaiman asal Mojokerto. Ia datang bersama rombongannya satu Rukun Tetangga (RT) untuk melakukan doa bersama di Gunung Kawi. Selain di Gunung Kawi, Sulaiman dan rombongan juga berziarah ke makam wali selatan. Ia bertugas sebagai imam atau pemimpin doa. “Doa bersama juga tahlil,” katanya. Sulaiman beserta rombongan melakukan doa mulai jam 3-4 pagi.

Hari Priatin Aji yang merupakan Sekretaris Yayasan Gunung Kawi mengatakan pemberitaan mengenai ritual negatif yang dilakukan di Gunung Kawi membuat pengunjung yang datang semakin ramai. “Pemberitaan semakin di sini (di Gunung Kawi) dihasut, semakin rame,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa banyak film serta sinetron mengenai praktek pesugihan yang dilakukan di Gunung Kawi beredar. “Dari film, sinetron yang dibuat tersebut banyak tokoh pemuda yang bertanya pada saya, ya opo iki mas? tapi saya bilang biarin aja, kita gak perlu berbuat apa-apa,” ungkapnya. Padahal film serta sinetron yang mengisahkan Gunung Kawi tersebut dibuat tanpa meminta izin dari pihak Yayasan Gunung Kawi tetapi ia tetap santai. Toh, dari semua film dan sinetron tersebut semakin banyak orang yang datang ke Gunung Kawi , dan tak jarang diliput oleh stasiun televisi.

Hari mengatakan bahwa tempat yang musyrik di Gunung Kawi tidak ada, tapi tujuan orang yang musyrik itu banyak sekali.“Pesugihan itu kan sebenarnya ingin mendapatkan hasil yang banyak tanpa bekerja yang soro. Kita duduk leha-leha lalu uang datang sekotak ya itu pesugihan,” katanya. “Contohnya banyak yang bilang ayo golek nomer neng Gunung Kawi, loh kenapa sih cari nomer, cari jodoh harus disini?” tambahnya.

Terkait praktik pesugihan yang dilakukan di Gunung Kawi, Hari mengakui bahwa memang benar Gunung Kawi merupakan tempat mencari pesugihan, tetapi hanya untuk masyarakat Gunung Kawi. Dengan adanya pesarean di Gunung Kawi, maka masyarakat bisa mengais rezeki seperti berjualan makanan, bunga, menyewakan payung, menyewakan penginapan, dan sebagainya. “Ya pesugihan di Gunung Kawi yo iki, tanpa makam disini gak mungkin masyarakat Gunung Kawi makmur,” ujarnya. Ngalamers, jadi cara mendapatkan pesugihan di Gunung Kawi yang sesungguhnya adalah dengan mencari rezeki biar sugih.


Penulis: Alvin Marina (magang UMM/Ilmu Komunikasi)


BACA JUGA