halomalang.com

Inovasi Laboratorium ITP UMM Produksi Mie dan Makaroni Berbahan Ubi Garut

28-Jul-2018 [12:15]
Laboratorium ITP UMM berinovasi dengan produksi mie dan makaroni yang terbuat dari campuran tepung singkong dan pati garut.

Foto : umm.ac.id

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti-hentinya mengembangkan produk inovatif di bidang pangan. dengan produk makanan berbahan dasar ubi-ubian. Yaitu produksi mie dan makaroni yang terbuat dari campuran tepung singkong dan pati garut.

Dilansir dari laman umm.ac.id, “Mie dan makaroni merupakan jenis makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Trennya terus meningkat. Tapi yang perlu diketahui bahwa mayoritas mie yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia adalah dari tepung terigu yang berasal dari gandum. Sayangnya, sampai hari ini seratus persen masih impor,” terang Dr. Ir. Damat, MP, Kepala Laboratorium ITP UMM, Jumat (20/7).

Damat menyatakan pada tahun 2018 impor gandum masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta ton. Menurutnya, Indonesia menjadi importir gandum terbesar kedua setelah Mesir. Melihat data yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat, lima tahun lagi Indonesia diperkirakan akan menjadi importir gandum terbesar di dunia.

Damat menambahkan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat, pengembangan produk pangan berbahan sumber pangan lokal harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Khususnya ubi-ubian yang bisa dimanfaatkan untuk produksi pangan yang besar, sehingga memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi.

Jika ditelusuri dari nilai gizinya, ubi-ubian seperti ubi jalar, ketela, dan garut memiliki kandungan serat lebih tinggi daripada gandum. Selain itu, ubi jalar juga kaya akan antioksidan, yaitu salah suatu senyawa yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Laboratorium ITP berencana menindaklanjuti inovasi pangan ini dengan mengembangkannya sebagai produk layak jual. Yaitu segera membentuk unit khusus di UMM yang menampung segala inovasi dari sejumlah laboratorium yang ada agar bernilai ekonomis.

Penulis: Ericha Fernanda (magang UMM/Ilmu Komunikasi)



BACA JUGA