Thursday, 15 November 2018
halomalang.com

Merayakan Budaya Kontemporer Bersama TRA x Fancy

11-Jul-2018 [09:00]
Fashion design tidak hanya berhenti di ranah fungsional saja, ranah estetika dari fashion design ternyata masih merasakan kebutuhan akan hadirnya seni rupa.

Seni Rupa dan fashion adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan. Keduanya merupakan bidang yang bergelut dengan presentasi visual warna dan bentuk.Namun dalam praksisnya fashion design lebih dekat dengan manusia karena kegunaan terapan sebagai salah satu kebutuhan primer yaitu sandang, sesuatu yang dipakai untuk menutupi tubuh manusia dari kondisi iklim maupun sebagai elemen yang bersifat normatif. Namun, ternyata fashion design tidak hanya berhenti di ranah fungsional saja, ranah estetika dari fashion design ternyata masih merasakan kebutuhan akan hadirnya seni rupa. Hal ini terbukti dari kolaborasi perupa dan desainer fashion yang dipelopori oleh Salvador Dali seorang seniman beraliran surealis dan Elsa Schiaparelli seorang desainer Italia.

Kerjasama tersebut menghasilkan salah satu produk garmen paling ikonis Elsa di dekade 1930an yaitu Gaun Organza yang berlukiskan Lobster (1937) dan Gaun Sobek/Tear Dress (1938) juga Sepatu Topi/ Shoe Hat dari koleksi musim dingin 1937 nya. Puncak nya yaitu di tahun 1960an dimana seniman Pop art kenamaan Andy Warhol yang berhasil mempopulerkan seni rupa berkolaborasi dengan Yves Saint Laurent. Pop art melonggarkan batas antara budaya tinggi dan budaya rendah dengan mengadopsi gambar dan inspirasi dari budaya populer dalam pemberontakan yang aktif terhadap dominasi Ekspresionisme Abstrak.

Dalam kolaborasi ini lukisan terkenal Warhol yaitu Campbell Soup diterjemahkan oleh Yves Saint Laurent dalam koleksi gaun kertas berjudul "The Souper Dress", yang memang didesain untuk sekali pakai sebagai respon terhadap konsumerisme modern. Tak hanya sampai disitu Selain Andy Warhol, Yves Saint Laurent juga meluncurkan koleksi Mondrian, sebuah tribut untuk seniman Piet Mondrian saat ia memasuki era aliran kubisme saat ia di Paris 1919-1938 dan London dan New York 1938-1944. Kedua koleksi tersebut dikeluarkan pada musim 1966-1967.

Kemudian tak hanya di berakhir di catwalk, Fashion pun memasuki museum seni di tahun 1982 saat editor Artforum, Ingrid Sischy meletakkan sebuah gambar seorang model memakai pakaian dari desainer Issey Miyake pada sampul majalah tersebut edisi Februari, mensolidkan status baru desain fashion dan persekutuan barunya dengan seni mutakhir. Momen ini kemudian mencetuskan tren peragaan busana yang digelar di musium ternama, sebagai pengakuan resmi bahwa fashion adalah bentuk ekspresi budaya yang layak. Gelaran peragaan retrospektif dari Yves Saint Laurent yang di kurasi oleh Diana Vreeland di Metropolitan Museum of Art, New York menjadi salah satu event ikonis dari tren tersebut, yang memamerkan fashion terkini daripada eksebisi pakaian - pakaian kuno bersejarah yang umum ditemui di museum. Selain itu di dekade 1980an para seniman seperti Sylvie Fleury, Cindy Sherman dan Vanessa Beecroft mulai memanfaatkan fashion marketing untuk inspirasi, seringkali memasukkan obyek fashion dalam karya seni mereka atau menggunakannya untuk menyampaikan pesan dibalik karya seni mereka.

Memasuki era millenium baru, abad 21, di tahun 2001 Marc Jacobs berkolaborasi dengan seniman Stephen Sprouse pada sebuah koleksi tas tangan wanita yang dipadukan dengan coretan grafitti atau street art untuk rumah mode Louis Vuitton. Koleksi ini terbukti laku keras di seluruh dunia dan menaikkan permintaan untuk produk serupa, sehingga memunculkan trend kerjasama desainer fashion dengan seniman selama satu dekade.

Untuk itu, maka The Relationship of Art Malang bekerja sama dengan event Fancy Cocktail mengadakan TRA x Fancy. Fancy Cocktail sendiri adalah Fancy cocktail biasanya bekerjasama dengan desainer lokal yang mempunyai Koleksi busana dengan rata-rata telah menguasai teori-teori yang mendukung pembuatan rancangan fashion seperti style, look maupun target market. Fancy cocktail bertujuan mengapresiasi desainer kota Malang agar lebih dikenal luas oleh masyarakat umum. Sebuah peragaan busana berkolaborasi dengan seniman - seniman berbakat dari Malang dan Indonesia. Ada empat seniman yang berkolaborasi yaitu Ican Harem yang terkenal dengan seni lukisnya di atas jaket jeans dan karyanya dengan Kamengski yang juga berkolaborasi dengan Maternal Disaster yang juga dirilis Maternal Disaster. Lalu Agnes Christina, seorang seniman teater dan juga perupa, dia juga orang dibalik clothing line Leafthief yang bertemakan dedaunan. Kemudian Agus Sunandar , pria dibalik suksesnya Malang Flower Carnival dan karya - karya adibusananya yang banyak melanglang buana sampai ke negara - negara seperti Jepang dengan Fashion Carnival Garuda Wisnu Kencananya dan peraih Best National Costume di Malaysia di Miss Tourism International 2015. Terakhir ada Ojite Budi Sutarno, Alumni Universitas Negeri Malang saat masih bernama IKIP Malang, yang karya instalasinya sering melanglangbuana di Jogja Bienalle dan Galeri Nasional. Ikut serta pula line fashion Malang asli yaitu Ardalano dan Realizm87. Semua perhelatan ini akan digelar pada tanggal 13-15 Juli 2018 di Rumah Opa Cafe di Jl.Welirang No.41 A, Malang.

Kegiatannya antara lain peragaan busana dari Fancy Cocktail Party, workshop dari para desainer dan seniman kemudian penampilan musik akustik. Kegiatan ini juga sebagai kelanjutan dari program TRA yang diadakan Mei lalu yaitu TRA! Amatir yang bertema pangan. Acara diharapkan menjadi acara yang berkesinambungan dan memercikkan hubungan baik dengan para professional, pekerja seni, penikmat seni dan masyarakat luas. Khusus Untuk Tra x Fancy sendiri bertujuan untuk menguak dan mengkaji bagaimana kedekatan hubungan antara seni rupa dengan desain fashion dan bagaimana respon masyarakat luas terhadapnya. Mengutip dari Jim Supangkat bahwa kontemporer sangat diwarnai oleh gaya hidup di masa sekarang lewat tanda - tanda yang bersifat global dan fashion juga merupakan bagian dari budaya kontemporer. Untuk itu mari merayakan budaya kontemporer! Mari merayakan fashion!



BACA JUGA