Thursday, 15 November 2018
halomalang.com

Suhu Udara Menggila Capai 12 Derajat, Apa Penyebabnya?

10-Jul-2018 [12:00]
Warga Malang dan sekitarnya dihimbau untuk tetap bersiaga menghadapi suhu ekstrem, tidak diperlukan kekhawatiran berlebih

Cuaca di Malang dan Sekitarnya memasuki puncak dingin Foto: Bayu Wardhana

Beberapa hari belakangan ini Kota Malang terasa makin dingin dari biasanya. Apakah Ngalamers juga merasakan hal yang sama? Aplikasi AccuWeather sempat mencatatkan suhu malam hari di Malang mencapai 13 derajat celcius pada Jumat (6/7). Bahkan prakiraan cuaca di laman web accuweather.com mencatatkan suhu terendah di Kota Batu sepanjang bulan Juli bisa mencapai 12 derajat celcius. Sementara di Kota Malang suhu terendah di bulan ini dapat mencapai 15 derajat celcius dan memungkinkan lebih rendah.

Berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia yang dirilis dalam web resminya bmkg.go.id, suhu udara kurang dari 15 derajat Celsius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya memang berada di dataran tinggi/kaki gunung. Beberapa faktor yang ditengarai menyebabkan suhu udara di Malang makin menusuk, salah satunya adalah adalah fenomena aphelion. Apa itu aphelion? Aphelion adalah fenomena astronomis saat Bumi berada pada titik orbit terjauhnya dari Matahari, sedangkan kebalikannya adalah periphelion.

Hal ini dimungkinkan karena lintasan orbit Bumi tidaklah bulat sempurna, melainkan oval seperti telur. Sehingga ada masanya Bumi berada pada titik terdekat dan terjauhnya dari sang Surya. Puncak aphelion pada tahun ini berada pada bulan Juli. Sehingga banyak yang menuduh peristiwa ini sebagai biang keladi, padahal dampak dari aphelion terhadap turunnya suhu ekstrem di beberapa wilayah tidak terlalu signifikan.

Terlepas dari fenomena aphelion, fenomena suhu dingin memang biasa terjadi pada puncak musim kemarau di Indonesia yang berlangsung pada bulan Juli – Agustus, yang berdampak pada rendahnya kandungan uap air di atmosfer. Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan.

Drs. Mulyono R. Prabowo, M.Sc., Deputi Bidang Meteorologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan “Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan. Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan. Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan dimana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari.”

Pada kondisi puncak kemarau saat ini molekul udara di daerah pegunungan seperti Malang, Batu, Pujon, Tretes, dan sebagian Kediri lebih renggang daripada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, lebih lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan. Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan, atau rumput.

Sementara itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia) semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT.



Penulis: Bayu Wardhana



BACA JUGA