Sunday, 22 September 2019
halomalang.com

Harapan Tumbuh Bersama Edelweis, Bunga Keabadian

Bila Edelweis punah, maka punah pula pesona Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dan kearifan lokal didalamnya. Tidak diam akan hal itu, kelompok tani masyarakat tengger berhasil menemukan solusi pelestarian yang sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Petani Edelweis melihat kondisi bunga yang dibudidayakan untuk pembibitan bunga Edelweis di lahan kas Desa Wonokitri, FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia

Tuhan menciptakan keindahan Gunung Bromo dalam bentuk yang sangat unik. Keindahan itu adalah bentuk harmonisasi flora, fauna, dan kearifan lokal suku Tengger yang bersama menempati kawasan di sekitar Gunung Bromo. Termasuk, salah satunya, adalah flora Edelweis. Edelweis yang sering disebut sebagai bunga keabadian ini menjadi salah satu flora yang ikut berharmoni dengan kehidupan di kawasan Bromo. Bagi masyarakat suku Tengger, Edelweis adalah salah satu media penting ketika mereka melakukan ritual-ritual adat khas Tengger di sana.

Awalnya, masyarakat Tengger tidak pernah khawatir Edelweis yang banyak tumbuh di kawasan Gunung Bromo itu habis. Namun seiiring dengan perkembangan wisata dan ekonomi, Edelweis bukan hanya sekadar media ritual bagi masyarakat Tengger. Sebagian dari mereka kini menganggap Edelweis punya arti ekonomi juga. Wisatawan atau pecinta alam yang selalu menyempatkan memetik bunga edelweis liar yang tumbuh di sana menyebabkan jumlah populasi bunga ini menurun cukup pesat beberapa tahun terakhir. Apalagi ada sekelompok orang yang memang berburu Edelweis untuk dijual di kota. Harga seikat Edelweis memang cukup menjanjikan untuk menambah pendapatan.

Kesadaran untuk melestarikan bunga ini ternyata mulai tumbuh di masyarakat Tengger. Sebuah kelompok tanibernama Kelompok Tani Bunga Edeweis desa Wonokitri yang berjumlah kurang lebih 30 orang mencoba untuk membudidayakan bunga Edelweis tersebut. Mereka bersama-sama melakukan pembibitan serta penanaman bunga Edelweis meski diawali dari rumah masing-masing dengan modal dana swadaya. Awalnya, mereka melihat sebuah fenomena unik usai Gunung Bromo mengalamikebakaran beberapa saat lalu. Ada Edelweis yang tumbuh di sekitar Edelweis yang mati akibat kebakaran.

Wartono, salah satu anggota kelompok tani itu,mengatakan dengan melihat fenomena itu, dia yakin Edelweis bisa dibudidayakan, atau dibibitkan. Akhirnya mereka mengomunikasikan hal itu ke pihak Balai Besar TNBTS. Apa benar bunga Edelweis bisa dibudidayakan? “Kami akhirnya mendapat jawaban bahwa bunga Edelweis dapat ditanam melalui biji yang ada pada bunga Edelwis yang sudah mengering,” kata Wartono.

Selanjutnya, kata wartono, dia dan beberapa temannya secara swadaya mencoba melakukan pembibitan dan akhirnya berhasil. “Keberhasil tersebut mendapat apresiasi oleh pihak Balai Besar TNBTS secara langsung, dengan membentuk dan mengesahkan kelompok tani bunga Edelweis desa Wonokitri, Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan,” ujarnya.

Wartono berharap upaya yang dia lakukan dengan sejumlah temannya di kelompok tani Edelweis ini akan menyadarkan masyarakat Tengger bahwa pelestarian Edelweis adalah penting. Edelweis adalah salah satu identitas yang melekat dalam budaya Tengger. Dengan hilangnya edelweis maka ada identitas yang hilang juga dari Masyarakat Tengger. Di samping itu, mengingat tumbuh kembang Edelweis cukup lama dan punya nilai ekonomi tinggi, maka budidaya Edelweis adalah jawabannya. Budidaya Bunga Keabadian ini akan mampu melestarikan Edelweis di Gunung Bromo sekaligus bisa menjadi potensi pendapatan masyarakat suku Tengger. (B.A)



Sumber: timesindonesia.co.id



BACA JUGA