Monday, 10 December 2018
halomalang.com

Kampungku Uripku: Intip Persiapan Warga Jelang Kampung Cempluk Festival #8

KCF #8 kembali menyapa Malang Raya setelah vakum tahun lalu. Semangat baru disuntikkan dengan ide festival yang ramah bagi difabel.

Belajar dan berlatih. Warga Kampung Cempluk sangat antusias menyambut festival tahunan yang ke-8. (Dok: Halomalang)

Sejak akhir pekan kemarin, puluhan lapak berbahan bambu mulai menghiasi sepanjang Jl. Dieng Atas, Sumberjo - Kalisongo, Kec. Dau Kabupaten Malang. Kawasan ini lebih dikenal sebagai area perkampungan yang memiliki festival seni budaya ikonik: Kampung Cempluk Festival (KCF).

Sempat vakum pada 2017 lalu, KCF kembali digelar ke-8 kalinya pada 23 - 27 September 2018. Berlokasi di wilayah RW 1 dan RW 2 Dusun. Sumberjo.

"Spiritnya tetap sama, pemberdayaan warga kampung. Juga menggandeng komunitas/seniman dari luar wilayah. Namun tentu saja, ada hal-hal baru yang selalu dimunculkan," ujar Hanafi Ridwan, Ketua Pelaksana KCF #8 ketika ditemui halomalang beberapa waktu lalu.

Seperti biasa, pekan-pekan menjelang KCF digelar, suasana kampung sangat hidup. Senin (17/09/2018) lalu kami diajak menyusuri kawasan RT 03. Di satu sudut gang, tampak 50-an ibu-ibu dan bapak tengah berlatih koreografi untuk karnaval pembuka KCF. Mars Kampung Cempluk menjadi pengiringnya.

"Mars ini sudah disiapkan untuk KCF #8. RT 03 punya surprise untuk karnaval nanti, kita rancang kostum khas Cempluk," sambungnya. Tak hanya ibu/bapak, sejumlah putri juga tengah berlatih tari di sisi lain gang.

Di kampung atas, warga sibuk menata booth untuk berjualan yang diseragamkan. Ada sekitar 40 an kata Hanafi. Satu yang kembali hadir adalah Rumah Hantu rancangan Pak Tu'in. Rumah hantu ini tak pernah absen tiap gelaran, kini mengusung tema 'Kerajaan Hantu Cempluk'.

"Dulu inspirasinya ketika saya dan anak datang ke Festival Malang Tempo Doeloe di Ijen, ada rumah hantunya. Lalu saya bikin versi Cempluk sendiri. Semua pengerjaan (rumah hantu-booth-panggung) gotong royong warga," kata Tu'in.

Di sisi barat Rumah Hantu juga disiapkan area selfie berbentuk Cempluk (lampu kuno) dan sisi rumah antik. Lampu-lampu rancangan khusus juga disiapkan untuk menghiasi tiap lapak.

"Tiap RT/RW punya kreasi masing-masing. Warga kami, tahun ini didorong untuk mengurangi konsumtif biaya properti yang dulunya sewa. Ibu-ibu ini, kalau pas nggak lagi latihan Angklung (Sanggar Kirana), ya bikin kostum ini. Belajarnya dari pak Priyo," imbuh Hanafi seraya menunjukkan beberapa karya.

Spirit kemandirian ini juga disusul dengan buah karya lain seperti topi, kaos untuk souvenir festival. Oleh-oleh khas Kampung Cempluk juga tengah dirancang mereka. Menyusul Omah Ngopi Cempluk yang terlebih dahulu menjadi salah satu titik ide muda-mudi karang taruna.

"Tahun ini ada grup musisi dari Korea yang siap meramaikan, juga dari Jepang. Seniman dari festival-festival kampung di nusantara juga menyatakan siap, di antaranya dari Tuban, Sukabumi dan Sulawesi Selatan," terang Redy Eko salah satu motor KCF pekan lalu.

Kami diajak ke rumah Jaelani Said, Ketua RT 1 di mana menjadi salah satu lokasi latihan ibu-ibu grup perkusi D'nting berlatih hampir tiap malam menjelang festival. Nampak Takeshi, seniman 'pengembara' asal Jepang menikmati latihan. "Tidak tahu bahasanya, tapi suka musiknya," kata Takeshi singkat.

Jika KCF sebelumnya menyajikan 2-3 panggung pertunjukan, KCF #8 hanya menyiapkan 1 panggung besar di tengah. Panitia menyebut ini untuk memaksimalkan pertunjukan dan koordinasi. Hal spesial lain yang bisa Ngalamers rasakan nanti adalah disiapkannya tim kesehatan dari RSI Unisma, ambulance dari UB, kursi roda untuk difabel, dan tentunya interpreter untuk penonton penyandang tuli di atas panggung selama gelaran.

Dani, Rona dan sejumlah rekan kelompok peneliti gabungan yang menamakan diri 'Free Folks' menjelaskan kampanye mereka.

"Motif terbesar kita di sini ini adalah 'Kesetaraan', bukan kasihan pada mereka (teman difabel)," terang Dani, salah satu peneliti. Dani kesehariannya aktif di Pusat Studi Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya.

Yang ia maksud, penyandang difabel kebanyakan tidak mau dan cenderung 'tersinggung' ketika istilah difabel (bukan disabel/disabilitas) identik dengan mengasihani.

"Tapi ketika melihat tatanan kota, di masyarakat, saya tidak yakin kita telah berusaha mengeksklusifkan mereka. Tapi apa yang dibangun baik itu fasilitas publik seolah tak pernah melibatkan mereka, katakanlah trotoar hingga akses masuk ke rumah ibadah. Sangat tidak inklusif. Yang kasihan itu kita, kok tidak paham kebutuhan mereka," jelasnya, Minggu (09/09/2018).

Faktor-faktor ini salah satunya yang membuat difabel menarik diri dari wilayah privat mereka sendiri, termasuk yang di kampung-kampung. Menurut Dani, beberapa keluarga juga berusaha 'menyembunyikan' anggota keluargnya yang difabel dari sosialisasi.

"Kita selama ini geraknya di dunia pendidikan dan kampung. Tapi di Cempluk ini kita lebih berat, tak hanya kampanye, tapi meng-create konsep. Kita ketemu mas Redy ini seperti 'jodoh', beliau aktif di pergerakan seni budaya. Nah kebetulan di Indonesia belum ada festival yang ramah inklusi. Meskipun belum sepenuhnya inklusif, tapi ini menjadi trigger bagi yang lain," imbuh Dani.

Hal-hal fisik yang akan diusung Free Folks di KCF #8 antara lain: pengusahaan wilayah parkir untuk difabel, kursi roda, interpreter di panggung acara, hingga rencana daftar menu dengan huruf braile di booth jualan warga.

Sosialisasi dilakukan pertama kepada para panitia yang terdiri dari Karang Taruna dengan belajar bahasa isyarat, juga mendatangkan teman difabel ke Omah Ngopi Cempluk.

"Mereka (teman difabel) sebenarnya sangat tertarik dengan kegiatan seni budaya, dan banyak yang memiliki kemampuan untuk manggung. Cuma, stigma di masyarakat kadang penonton mengapresiasi bukan karena kemampuan mereka, tapi karena difabelnya. Ini yang akan kita mulai kikis sedikit demi sedikit," pungkas Rona.

Respon-respon terhadap ruang di masyarakat seperti inilah yang menjadi spirit baru, ide yang menghidupi Kampung Cempluk, baik dalam lingkup festival maupun keseharian warga kampung. Seperti dalam tag line mereka "Kampung Ruang Memanusiakan Manusia,"

Jangan lupa luangkan waktu untuk berkunjung ke KCF #8, 23 - 27 September 2018. Jadwal selengkapnya bisa dilihat di kampungcempluk.com


BACA JUGA