Monday, 17 December 2018
halomalang.com

Festival Serabi Suro, Tak Hanya Milik Warga Dadaprejo

Tak hanya bentuk rasa syukur atas berkah alam, festival budaya ini memiliki kearifan lokal yang kuat. Pemkot menyebut festival ini memiliki magnet untuk menggaet wisatawan.

Serabi Suro, sebuah tradisi yang menjadi budaya masyarakat Dadaptulis Dalam, Kota Batu ini dimulai dari bencana kekeringan beberapa dasawarsa silam.

"Cerita dari mbah Buyut saya. Tradisi ini dulunya tidak menggunakan (makanan) Serabi, namun Jenang Suro," kata Imam Suwandi, tokoh RW VI Dadaptulis.

Kemarau panjang menyebabkan paceklik di Dadaprejo-di mana Dadaptulis Dalam berada di dalamnya, juga wilayah sekitarnya seperti Dau dan desa-desa di Kecamatan Junrejo. Kepala desa setempat kala itu bermusyawarah bersama para tokoh dan seorah tokoh agama. Tokoh agama inilah yang menyarankan Jenang diganti dengan Serabi ketika syukuran bulan Suro.

"Bukan tanpa alasan, persediaan bahan pokok di lumbung-lumbung pangan menipis. Sedangkan jenang terbuat dari bahan utama (beras dan gula merah). Ibu kepala desa berinisiatif membuat adonan tepung (Serabi) untuk dijadikan bahan makanan bersama di kala syukuran. Dengan bahan yang lebih sedikit, dibandingkan Jenang, Serabi bisa dimakan banyak orang," sambung Imam.

Serabi Suro lalu berlanjut hingga tahun ke-3, perbedaan keyakinan beberapa tokoh lain menyebabkan tradisi tersebut sempat terhenti hingga tahun ke-7.

"Karena baru paham maksudnya, akhirnya disepakati bersama tokoh-tokoh desa lain untuk menggelar Serabi Suro pada tahun 1902 M. Selamatan mengandung makna besar, warga-warga yang gagal panen atau yang merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah diajak kembali ke kampung, berdoa bersama. Hingga sekarang," jelasnya.

Cerita ini diungkapkan di hadapan warga Dadap Tulis Dalam ketika pembukaan Festival Serabi 2018, Kamis (27/09/2018). Selama dua hari, ada puluhan booth warga yang menyajikan Serabi khas Dadap Tulis Dalam. Dimasak langsung dengan periuk berbahan tanah liat, berbahan bakar kayu. Namun ada satu yang berubah. "Dulu wadahnya daun Dadap, sebelum periuk atu piring keramik seperti sekarang," kata Witular, warga setempat.

Satu buah serabi berukuran cukup lebar dengan kuah manis dijual dengan harga Rp5000,- enak disantap kala hangat.

Festival dimulai dengan mengarak jolen berisi Serabi dan aneka jajanan pasar. Diikuti para tokoh desa hingga anak-anak. Tari-tarian disajikan di panggung utama. Setelah doa bersama, serabi yang diusung dibagikan ke warga yang hadir.

"Karya yang luar biasa. Ini juga disaksikan Kadis Pariwisata pak Imam. Event ini layak disandingkan dengan event-event festival di Balai Kota Among Tani," terang Dewanti Rumpoko, Wali Kota Batu.

Dewanti memuji Festival Serabi Suro ini penuh nilai filosofis, juga unik. "Ini bukan hanya tontonan, tapi dinikmati oleh warganya saja, juga para wisatawan yang hadir di Kota Wisata Batu. Kota ini tak hanya punya wisata buatan, tapi budaya. Kegotong-royongan inilah yang harus dijaga," sambungnya.

Menurut Dewanti, festival yang untuk kali pertama disupport Dinas Pariwisata Kota Batu ini sangat sejalan dengan visi 'Desa Berdaya, Kota Berjaya' yang tengah digaungkan. Ia bahkan menyebut Kota Batu harus menjadi tujuan wisata yang punya karakter desa.

"Muatan-muatan lokal seperti ini adalah strategi kita menapak masa depan. Luar biasa. Masyarakat Dadap Tulis menampilkan performance art yang didukung dengan instalasi unik, dipadukan dengan kearifan lokal yang juga beradaptasi dengan kemajuan zaman," pungkas tokoh budaya Kota Wisata Batu Slamet Henkus yang juga hadir.

Festival Serabi Suro digelar di awal tahun baru Jawa (Suro) yang bertepatan dengan tahun baru Islam (Muharram). Momen ini, dirayakan di banyak tempat di tanah Jawa dengan berbagai cara. Salah satunya adalah sedekah bumi yang kini kian dikemas untuk tujuan wisata dengan bentuk 'Festival Budaya'.



BACA JUGA